Korek Api.

Semalam, dalam perbincangan dengan isi kepala akhirnya kami bisa berdamai lagi. Merentangkan semacam bendera putih untuk gencatan senjata. Orang segila apa yang berdamai dengan isi kepalanya sendiri? Barangkali untuk orang segila saya, hal tersebut mutlak dilakukan. Bermodalkan segelas honey ginger tea dan sekerat roti keju, saya membiarkan sang pikiran mengeluarkan semua isinya. 3 hari dalam keadaan hang, membuat pertanyaan itu kembali terucap,

“Apa yang akan terjadi di hari esok? 3 bulan yang akan datang?”

Image by http://caen-n.deviantart.com/
Image by http://caen-n.deviantart.com/

Saya bersyukur diberi kepekaan untuk membuat suatu rundown kegiatan sedetail mungkin, dengan menggunakan semua aset dan rencana yang bisa mencapai rencana z, ketika rencana A tidak terlaksana. Bukankah katanya ada 26 abjad yang bisa dijadikan alternatif? Sayangnya adalah saya tipe orang yang akan terus memikirkan semua 26 kemungkinan dan mempunyai 26 kekhwatiran yang sebenarnya tidak penting. Dan itu tetiba membuat saya lelah.

Bukan kelelahan yang pertama kali saya rasakan. Tapi yang ini tetiba menjadi lebih besar dampaknya. Sindrom awal tahun? Dimana rencana harus dibuat, target harus ditetapkan, untuk memantapkan langkah. Untuk mencapai hari yang gemilang. Seperti semua slogan MLM. Yang sayangnya saya bukan tipe orang seperti itu.

Saya lebih mengarah go with the flow, let the road toward us to nowhere. Kalau ujungnya jurang? Ya mati!

Inilah yang sedari dulu berusaha saya ubah. Mencoba menentukan tujuan atau kira-kira mimpi apa yang ingin saya wujudkan tahun depan, atau beberapa tahun yang akan datang. Ketika melihat postingan foto seorang teman yang sedang melancong, dia telah bepergian ke tempat-tempat yang telah ada di bucket listnya. Sementara saya, justru biasanya tertarik ke suatu tempat tanpa rencana.

Sama seperti semua rencana alternatif itu, saya lebih senang membuat semuanya menjadi detail. Tapi terkadang justru semua target dan rencana membuat saya takut. Bagaimana kalau semuanya tidak berjalan lancar? Saya jadi mengingat sekotak korek api. Seharusnya korek api digunakan sebatang demi sebatang, untuk satu tujuan. Sehingga akan ada stok tenaga cadangan yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Tapi saya terkadang dan lebih banyak menggunakan batang korek api hanya untuk satu hal. Untuk memastikan semuanya lancar dan sempurna. Hasilnya? Justru asupan semangat itu yang lebih tersedot dan habis lebih dulu.

Semua ketakutan ini kemudian berhubungan dengan semua hal, termasuk mempertanyakan saya mengenai komitmen. Sebenarnya bahagia itu siapa yang mengaturnya? Hati sendiri atau pendapat orang lain? Kemudian semua rencana yang akan disiapkan itu untuk menyenangkan siapa? Diri sendiri atau masyarakat. Kemudian ketika berusaha menyenangkan semua orang, lantas apa diri sendiri akan bahagia? Yakin?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu menghabiskan stok energi dalam kotak korek api. Ketika semua hal kemudian menyala bersamaan, dan menyisakan pertanyaan yang tidak selesai dan tidak mengarah kemana-mana. Terkadang lelah, tapi saya bersyukur masih bisa merasakannya. Itu berarti saya masih bisa mengenali ketika diri sendiri kemudian terlalu terjebak pada mimpi dan perasaan dan tidak berpijak kepada kenyataan. Saatnya berjalan lebih lambat dan menikmati semua hal yang terjadi.

You may also like

3 Comments

  1. Yang bisa merasakan bahagia adalah diri sendiri. Tak perlu harus sama dengan orang lain, karena memang kita diciptakan berbeda. Duniamu… hidupmu.. nikmatilah..
    Terimakasih untuk pencerahannya

Leave a Reply