Kecil.

Kecil.

Kecil, ini mungkin surat terakhir saya buat kamu. Pelan tapi pasti kenangan yang menjejak itu semakin menghilang dalam ingatan. Bukan tidak ingin bersurat lagi, tapi sepertinya perih yang ada ketika selalu mengingatmu.

Kecil, apa kabarmu sekarang? Kuliah memang tidak mudah. Saya pun pernah melaluinya. Teman yang menjauh? Tugas yang semakin menumpuk? Itu semua hanya rutinitas. Saya tahu Kecil, saat ini kau mengharapkan saya ada disana. Menemanimu. Selalu.

Riuh rendah percakapan itu tidak pernah lagi ada kecil. Ketika balasan sms tengah malammu hanya bisa saya balas di keesokan harinya. Padatnya jam efektifku di siang hari membuatku kadang terlelap begitu cepat. Kalau sudah begitu, hanya voice note demi voice note yang bisa meluluhkanmu. Apa kabarnya semua voice note itu? Apakah kamu menghapusnya?

Image by Eredel

Saya selalu tertawa ketika melihat hujan di hari jumat. Seperti yang terjadi di beberapa minggu belakangan. Ini musim kita, itu katamu selalu. Suatu siang yang basah, percakapan terjadi. Perhatian berbalas, pipi merona, dan tawa yang bahagia. Sesederhana itu.

Dua tahun berlalu, Kecil. Kaos gambar sapi itu mungkin sudah pudar warnanya. Syal itupun mungkin sudah digantikan dengan benda yang lain untuk menutupi lehermu yang telanjang. Sebab itu kesenanganmu, bermotor kemana saja, kapan saja.

Kabar saya? Seperti inilah, masih di sibukkan dengan rutinitas. Lelah terus datang menghampiri. Dingin selalu menyergap kalau saya pulang telat karena lembur. Semuanya terbayar dengan satu senyum. Senyum yang selalu meronakan hariku. Senyum sahabatmu. Yang menjadi kekasihku.

Ini surat saya yang terakhir Kecil, tidak ada lagi yang tersisa. Kamu resmi memasang foto seseorang sebagai profil picture mu. Mengganti namamu dengan akhiran namanya. Sudah saatnya Kecil. Sudah saatnya kamu juga move on.

2 thoughts on “Kecil.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.