Karena setiap mimpi memiliki konsekuensinya sendiri.

Sangat aneh ketika jeda 14 hari bisa membawamu kepada banyak perenungan, tentang banyak hal yang biasanya tidak tertangkap oleh retina. Ketika semua kebiasaan hanya berpola pada tempat untuk mencari nafkah dan kemudian berpindah ke rumah, sejak kapan perasaan tumpul kemudian menghadang? Ketika fase mapan sudah mulai menjebak.

Langit Jakarta
Langit Jakarta

14 hari melewati keseharian di ibukota membuat saya melihat lebih banyak. Melihat bagaimana orang-orang mencari rezeki, melihat bagaimana keadaan bisa menjadi tidak begitu nyaman, dan bagaimana memang hidup menjadi tidak adil. Semua porsi yang kemudian saya pertanyakan, konsekuensi hidup mapan itu nanti akhirnya kemana?

Saat ini saya sedang berjuang. Untuk memperbaiki harkat hidup. Alasan yang selalu saya dengungkan. Sebagai bentuk pembenaran bahwa memang ini jalan yang telah ditakdirkan. Dalam beberapa percakapan bersama seorang teman, kami lantas berpikir, hidup ini akan berakhir seperti apa? Sampai kapan kita akan menanyakan arah kenyamanan? Akankah kita mau melepas semua titik nyaman itu? Mungkin kelak, ketika kematian akan menyapa. Tapi sekarang?

Tentu bukan menafikkan hal yang selalu dikejar oleh semua orang. Tapi apa benar apa yang saya lakukan sekarang, kelak akan berguna bagi banyak orang? Bukan hanya memburu kebahagiaan sendiri? Sebenarnya apa definisi bahagiamu?

Tahun ini Alhamdulillah rejeki sedikit mengalir. Walaupun kerjaan di bagian yang baru juga melahirkan drama tak berkesudahan dan terkadang tidak menyisihkan waktu lagi untuk menjadi waras dan berkomunitas. Dengan pembenaran bahwa ini saatnya kerja keras. Bahwa semua ada waktunya. Tapi kenapa tetap ada bagian yang terasa kosong? Terutama sekarang. Ketika saya mempunyai banyak waktu luang dan hanya memiliki petak 3 x 3 meter sebagai tempat huni. Maka keluarlah semua kegelisihan yang selalu ada di sudut pikiran terdalam.

Setiap mimpi memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri.

Bahwa mungkin memang sekarang adalah waktunya untuk menepi. Bahwa mungkin saja kaki mengarah ke tempat yang lain. Bukan dari menjejak mimpi di kaki orang lain. Mungkin benar, bahwa semua ada saatnya. Ketika mengatakan akan menghadapi semua keriuhan dengan berjalan sendiri. Inilah saatnya. Untuk mempertajam indra lagi, melahirkan setiap keinginan untuk menjadi lebih baik.

Pijakan kaki itu mungkin bukan letaknya di ujung gunung.

Setiap langkah mungkin saja melangkah ke arah yang berbeda.

Hanya perasaan saja yang tetap sama. Semoga diri sendiri tidak terjebak pada kenyamanan.

***

You said, remember that life is
Not meant to be wasted
We can always be chasing the sun
So fill up your lungs and just run
We’ll always be chasing the sun

(Sara Bareilles ~ Chasing The Sun)

You may also like

1 Comment

  1. Saya tarik nafas dulu. Hhhhhh…..

    Kenapa sesak rasanya baca tulisan ini.
    Juga, rasanya turut berbahagia.

    Apapun itu, dari makassar saya mendoakan yang terbaik untuk Iqko. Pastinya saya tetap menagih Sekarung daun Maple. 😀

Leave a Reply