Hurt.

Pernah saya bercerita kepadamu tentang mimpi yang selalu ada di kepalaku. Tentang keinginan-keinginan yang berupa kamu di dalamnya. Dimana cerita serupa novel selalu ditayangkan. Menghabiskan hari dengan menghabiskan segelas cokelat hangat dan menikmati hujan yang turun dengan bergegas. Tapi ternyata benar kata pepatah, bahwa terkadang mimpi selalu jauh dari kenyataan. Ketika kau sendiri tidak pernah betul-betul mengusahakannya.

image by http://tumblr.com
image by http://tumblr.com

Entah mengapa saya begitu bodoh akhir-akhir ini. Membuat waktu menjadi kunci yang menjadi pengekang. Ketika tetiba kilasan-kilasan hari kemudian menjadi lewat begitu saja. Saya takut. Mengakui bahwa saya kebablasan lagi. Terbawa ritme tanpa pernah mengontrolnya. Tidak memberi jeda sedikitpun. Tahu karena apa saya sedih? Karena melihat status seorang teman yang sedang makan bersama bersama pacarnya. Sesederhana itu, tetapi saya bersedih setengah mati.

Kali ini saya betul mengutuk jarak, dan hampir menyerah karenanya. Ketika kau berkata dalam satu baris pesan singkat, ingin pacaran berdua, entah mengapa sisi defensif yang kemudian muncul. Dalam bentuk sarkas yang sangat kasar bahwa mungkin kita harus menyerah pada kenyataan. Bahwa hati memang tidak bisa tertebak, ketika berpura-pura berkata kuat. Sesungguhnya saya rindu. Cuma malu mengakuinya. Malu untuk terlihat lemah. Malu terlihat sebagai manusia. Bukankah itu yang membuat hubungan menjadi lebih hakiki? Ketika melibatkan perasaan di dalamnya.

Lagi, saya dibutakan oleh perasaan aneh. Bahwa perasaan hanyalah sebentuk pembodohan pikiran. Mencoba mengekang perasaan yang ditimbulkan rindu untuk hanya sekedar duduk bersama. Membicarakan hal-hal remeh, atau mengomentari berita-berita yang berseliweran di dunia nyata. Entah sejak kapan, saya membangun benteng itu lagi. Benteng kenyamanan dalam kesendirian. Tanpa tersadar, pelan-pelan rasa nyaman itu menjebak lagi. Menjebak pada ketiadaan.

Apa yang sebaiknya kita lakukan? Saya masih berusaha memaksa pikiran untuk berkata semuanya baik-baik saja. Tapi terkadang, bahwa memang logika tidak bisa berjalan lurus dengan perasaan. Bahwa memang perasaan bisa hilang karena hal-hal sederhana. Tahukah kamu, satu pertanyaan yang paling menohok yang diberikan padaku pekan lalu?

“seberapa berharga dia untuk kamu perjuangkan?”

Menurut kamu? Seberapa layak saya dipertahankan? Beberapa opsi sudah berada di ujung tangan. Bersaingan dengan ujung lidah yang selalu ingin melontarkan perkataan-perkataan yang tidak berkesudahan. Tahukah kamu seminggu ini hanya saya habiskan dengan membaca komik? Tidur dan menjalani hari seperti hari-hari yang lain. Sambil meyakinkan diri bahwa saya baik-baik saja. Tetapi sebenarnya tidak.

Apa yang akan terjadi dengan kita?

Untuk saat ini saya pun tidak tahu dengan jawabannya.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply