Harapan.

Terkadang berat ketika harus menjalani hari dengan memikirkan beban yang dipikulkan oleh orang-orang terdekat. Sebagain dari kita menamakannya tanggung jawab dan sebagian lagi menganggapnya ya sebagai beban. Apalagi ketika mengetahui konsekuensi logis yang diharapkan oleh beberapa orang. Maka makin beratlah semua beban itu.

Image by http://iuliana13.deviantart.com/art/F-R-E-E-D-O-M-145677029
Image by http://iuliana13.deviantart.com/art/F-R-E-E-D-O-M-145677029

Saya sendiri membahasakannya sebagai harapan. Sebagai doa yang dipercayakan oleh orang-orang terdekat, entah itu ibu di rumah, atau teman-teman di komunitas. Sebuah statement yang menyatakan bahwa mereka percaya kepada saya, untuk meraih mimpi tersebut. Sayangnya beberapa harapan akan menjadi sedikit melayang. Siapkah kita menghadapinya?

Dalam sesi sepeda hore kemarin pagi, saya melintasi jalan poros untuk menuju rumah seorang sahabat. Sowan rutin karena saya merindukan suara ibu dan beberapa petuahnya. Sekalian juga menentukan jarak untuk sepeda hore, tapi apa yang saya dapati? Curhat terselubung di sesi sarapan bubur ayam. Doh!

Bukannya apa, saya sendiri adalah orang yang sangat dekat dengan mace. Jadi segala curhatan dan gundah gulananya pasti akan berimbas ke emosi saya juga. Kali ini ibu yang curhat, mengenai tesis sang sahabat yang tak kunjung kelar. Dengan waktu yang sudah melewati tahun ketiga, rasanya kelewatan. Hampir menyamai kuliah reguler S1. Lantas berceritalah ibu tentang dosen pembimbing yang katanya memang termasuk killer dan tidak pedulian sama mahasiswanya. Entah karena persoalan apa, bab 4 dari tesis tersebut harus dirombak ulang.

Maka hitungan satu semester akan terulang kembali. Beberapa kali ibu menyeka air matanya, sambil menerawang, mengatakan bahwa ini adalah karmanya. Mengapa dia mengizinkan sang sahabat buat lanjut kuliah, padahal nyata-nyata sudah keterima sebagai pegawai di salah satu bank BUMN. Itu katanya balasan karena menolak rejeki. Saya hanya bisa menjadi pendengar setia, sambil melahap bubur ayam yang tiap suapannya terasa makin pedis dan makin hambar (tapi tetap habis juga sih).

Saya selalu salah tingkah ketika menghadapi momen emosional seperti ini. Apalagi kalau sudah sampai mengahdirkan airmata sebagai peran pembantu. Layaknya sinetron, maka saya hanya bisa memberikan semangat dan membesarkan hati ibu. Masalah rejeki itu sudah diatur sama Tuhan. Manusia tinggal berusaha dan menjalani sebaik mungkin. Kalo mengenai karma, ya kalo nanti kerjaan di bank juga bukan kesenangannya, dia mau jadi apa?

Things happen for a reason, itu yang saya ketahui. Dalam hati saya sendiri mengatakan kalo seandainya sang sahabat tidak jadi kuliah s2 di yogya, maka mungkin saya tidak pernah menginjakkan kaki ke keraton, atau jalan-jalan di malioboro. Atau mungkin dia tidak bertemu dengan pacarnya yang sekarang, lah siapa tahu memang dia ditakdirkan untuk ketemu jodoh dulu baru masalah kerjaan atau masa depan? Saya juga tidak mau menebak, karena itu sudah urusan Yang Maha Kuasa.

Saya jadi semakin percaya bahwa memang ada harapan-harapan yang diucapkan beberapa orang sebagai doa.

Saya pun menyadari hal ini, bahwa dari komunitas masih ada yang diharapkan dari saya. Dari mace, menginginkan saya menikah dalam waktu dekat. Melihat saya melanjutkan hidup dan menuntaskan bebannya sebagai orang tua. Sebuah siklus yang akan terus berputar. Sekarang tinggal cara melihat saja yang harus dibenarkan. Apakah kita melihat semua beban itu sebagai batu sandungan, ataukah utang yang harus dibayar dan dilunasi. Ataukah sekali lagi kita melihatnya sebagai doa dan harapan. Sebuah kepercayaan yang dititipkan oleh orang terdekat.

Kalau saya sih akan memilih yang kedua. Sambil mengaminkan semua doa yang terucap. :)

You may also like

1 Comment

Leave a Reply