Fokus.

Sebenarnya pikiran saya secara tidak langsung berkontemplasi lagi selama akhir pekan ini. apa sebabnya? Saya tidak bisa mengikuti Renstra Komunitas Ininnawa yang dilakukan di Markas PayoPayo yang terletak di Maros. Beberapa teman sudah mewanti-wanti untuk ikut, tapi adalah daya. Hujan dan banjir sepanjang sabtu kemarin membuat saya tidak bisa kemana-mana. Otomatis hanya berdiam diri sambil mengerjakan tugas yang lain dikamar.

Ada setitik rasa bersalah dan ada rasa pembelaan yang tiba-tiba keluar dikepala saya mengenai perihal renstra ini. Here we go again. Begitu saya membahasakannya. Ketika tiba-tiba beberapa hal menjadi sangat penting untuk diperdebatkan dari beberapa sisi. Apa sebenarnya yang saya cari ingin ikut Renstra ini? Semacam pengakuan bahwa saya anggota komunitas? Atau memang saya peduli? Atau apa?

Sejenak sebuah celetukan dari senior di kampus teringat kembali sewaktu saya berkontemplasi ini,

“Sudahlah, berhentilah berkomunitas. Bukankah sekarang duniamu sudah lain dari lari dari situ?”

Seketika saya mendapat tamparan dan pencerahan di saat yang sama. Tentu saja pembelaan yang ada terlebih dulu. Bekerja di plat merah bukan berarti saya harus meninggalkan komunitas yang telah menjadi rumah saya yang kesekian. Meninggalkan identitas dan orang-orang yang pernah menjadi bagian hidup saya. Sekaligus juga saya menyadari bahwa memang peran saya sudah tidak bisa sebesar dulu lagi. Ada kewajiban lain yang harus saya penuhi. Ketika sekarang terlibat terlalu dalam, suatu saat ketika harus memilih pasti akan lebih sulit.

Nah sekarang pertanyaan muncul, apa yang sebenarnya saya cari dengan semua komunitas itu? Saat ini keluarga kecil saya bertambah. Komunitas pecinta Fiksi Mini Makassar. Kami layaknya sebuah teman yang akrab, saling menyapa dan saling mendukung. Memang masih kagok, tapi inikan baru awal pertemanan. Entah sampai kapan akan terus bertahan. Kami masih penuh semangat. Melakukan kelas ini dan kegiatan itu. Belum lagi dari Komunitas Blogger Makassar yang jadwal kegiatannya (termasuk kpdar) juga termasuk padat. Dengan kesemuanya itu, apa yang sebenarnya saya cari?

Sebuah pertanyaan retoris sebenarnya. Saya sudah mengetahui jawabannya. Beberapa kali kegiatan kantor saya bentrok dengan kegiatan komunitas tersebut. Apa daya saya harus memilih kegiatan kantor. Ini sudah pasti, walaupun awalnya berat membayangkan betapa teman-teman sedang tertawa dan saya harus berjibaku dengan pekerjaan. Tapi itulah asyiknya. Ketika saya pelan-pelan memutuskan untuk belajar berdewasa dalam memilih dan merelakan sesuatu.

Tapi yang menjadi pertanyaan besar selanjutnya, apakah memang ini pekerjaan yang akan saya tekuni sampai akhir hayat nanti? Itu dia pertanyaannya sudah keluar. Karena jujur saja, selama setahun ini saya sudah menjalani dan melihat bagaimana pola pekerjaannya. Dan tiba-tiba saya merasa stuck, merasa buntu. Oh, hanya itu saja. Tanpa ada kemungkinan untuk mengembangkan diri.

Beberapa teman juga mengatakan bahwa saya memiliki banyak bakat. Apakah memang ini tempat terakhir saya berlabuh? Tiba-tiba galau meraja. Diantara semua pilihan hidup, apakah memang Tuhan sudah menunjukkan jalan dan membagi rezeki saya? Bahwa memang tempat saya disini?

Saya lalu teringat sendiri ketika menasehati seorang sahabat, bahwa banyak orang yang rela mati untuk berada di posisi saya yang sekarang. Betapa banyak orang yang telah menyogok dengan nilai yang tidak sedikit untuk mendapat nomor induk. Betapa banyak hal yang telah dilakukan oleh orang lain demi masuk di kantor seperti saya. Sementara saya bersyukur tidak harus mengeluarkan biaya sepeserpun untuk itu semua.

Akhirnya semua kontemplasi saya berakhir disini. Ketika saya menutup lembaran akhir buku Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Man Jadda Wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan sukses. Saatnya untuk fokus dengan pekerjaan yang sekarang. Menocba yang terbaik dan ikhlas dalam menjalaninya. Sedangkan semua komunitas itu biarkan sebagai pelengkap. Biarkan sebagai peneman perjalanan. Toh mereka semua telah mengerti bahwa ada kewajiban lain yang mesti saya lakukan dengan pilihan hidup saya saat ini.

Apakah anda telah fokus dengan hidup anda sekarang?

You may also like

3 Comments

  1. Bisa kok realita dan mimpi berjalan beriring. Jadikan mereka seperti sepasang pelari yang bersaing menuju garis finish. Keduanya mengerahkan seluruh kemampuan. Tentunya dirimu sebagai sang pelatih. Pelatih yang adil. Bisa membagi waktu antara keduanya. Itu yang dinamakan usaha. Yang mana yang berhasil mencapai ‘finish’ duluan adalah kehendak-Nya.
    Jangan ada yang tersia. Mata pencahariaan tetap yang dimiliki adalah ‘rezeki’ yang bentuk mensyukurinya adalah bekerja dengan bertanggung jawab. Bakat pun merupakan ‘rezeki’ yang bentuk mensyukurinya adalah dengan menyelami dan terus mengembangkan bakan yang dimiliki.
    Semoga bermanfaat. Aku juga sedang menjadi pelatih untuk Realita dan Mimpi. 😀 Semangat!

  2. berkomunitas itu layaknya bersifat cair, bro. AM misalnya, meski memang jadualnya padat bukan berarti itu menjadi kewajiban bagi kita. berkomunitas banyak memang tidak salah, tapi harus hati-hati ketika ingin mengambil komitmen.

    dan kenapa dgn plat merah? pengalaman di komunitas blogger Bekasi dan Depok membuktikan, PNS yang aktif di komunitas adalah orang-orang yang cool 😀

Leave a Reply