Februari.

Lalu bertanyalah ia kepadaku, “kelak, ketika saya tidak mencintaimu lagi, akankah kau berjuang untukku?”

broken-
Image by http://weheartit.com/entry/43020201/via/angiebt

Sebuah frase pertanyaan dari kenyataan yang memabukkan. Dari semua permasalahan mendasar yang ada, kenapa semuanya kembali kepada masalah hubungan? Kalau ingin dikatakan gamang, sayapun merasakannya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Berbicara hubungan yang baru seumur jagung. Terpisah jarak, terjeda rindu pula. Namun saya masih mau menjalaninya.

Selepas menjalani hari bersama geng arisan hore, saya perlahan melihat perkataan maksudnya. Atas dasar apa pernyataan tersebut bisa keluar? Ah, sebuah pertanyaan yang bisa mereka-reka jutaan kemungkinan. Lantas apa salahnya ketika ragu melanda di tengah jalan? Apa yang akan kau lakukan? Terus jalan atau justru menghentikannya?

Saya selalu percaya pada proses. Sebuah akumulasi sistem yang akan menuju titik akhir. Bagaimana ketika suatu hari kelak, kau akan pergi? Apakah saya salah ketika mengatakan pergilah ketika hatimu ingin pergi? Untuk apa saya menahan seseorang yang sudah dan bahkan tidak memiliki keinginan lagi untuk tinggal. Hanya akan menjadikan luka semakin mengental, dan perih yang semakin memerah. Apakah saya menjadi pengecut? Bagi saya perjuangan itu dilakukan selama proses, bukan ketika sesuatu telah hilang.

Saya tahu sepi saat ini sedang meraja. Ketika saya membutuhkan tawa teman untuk melawati hari. Mencari jutaan kesibukan, yang setidaknya bisa membuat riuh di kepala sejenak menghilang. Riuh yang diakibatkan karena mengingatmu. Riuh yang hadir sebagai konsekuensi logis, ketika rindu sudah tidak bisa tertampung lagi. Apakah memang satu hubungan masih harus dan layak dijalani? Apakah itu suatu pemaksaan perasaan, ataukah hanya sebuah denial, hanya untuk terhindar dari status, “sendiri lagi”.

Dari sekian banyak pikiran-pikiran yang bisa terjadi, inilah yang paling saya takutkan terjadi. Ketika semua pikiran-pikiran buruk akan terakumulasi dan menemukan jalannya kedalam kenyataan, apakah saya akan siap menghadapinya? Semuanya terasa semu dan menyesatkan.

Ketika saya mengatakan ini semua kepadanya, saya terus mengingat dia. Ketika bernyanyi Just Give Me A Reason, saya masih terus mengeja alphabet namanya. Meniupkan rindu yang berharap disampaikan semesta, beserta sebuah ujung jawaban untuk pertanyaan, apakah memang kita baik-baik saja?

Karena sejujurnya saya rindu.

Dan pertanyaan lainpun sudah kuajukan untuknya, “kalau kelak saya tidak cukup baik lagi untukmu, apa yang akan kaulakukan? Pergi?”

***

Dalam tiada, kita saling ada–meski mesti mendekap hampa penuh jeda. ~ @daprast

You may also like

2 Comments

Leave a Reply