Don’t stop believing to move like jagger.

Kamu team #journey atau team #glee?

Hahaha, pertanyaan ini adalah sebuah ironi yang menjebak ketika track Don’t Stop Believing menjadi lagu pertama yang saya dengar di tahun 2015. Tepat 10 menit setelah pergantian tahun dan panggung utama hanya memutarkan montase perayaan tahun lalu, akhirnya perayaan malam tahun baru di Slussen kembali meriah dengan penampilan beberapa musisi lokal Swedia. Lagu pertama mereka? Don’t Stop Believing! What a cliche.

Bersama teman-teman PPI Stockholm
Bersama teman-teman PPI Stockholm

Setelah menghabiskan sore dengan membuat bakso dan bakwan, serta karaokean bersama teman-teman PPI Stockholm, kami memutuskan untuk bergerak menuju Slussen, sebagai pusat keriaan tahun baru di Stockholm. Berdiri selama satu jam di udara terbuka tidak pernah menyenangkan. Tapi merayakan pergantian tahun di tempat yang begitu asing pasti mendatangkan sensasi yang berbeda.

Dari Makassar, Jakarta, sampai Stockholm, selalu menjadi seksi sibuk XD
Dari Makassar, Jakarta, sampai Stockholm, selalu menjadi seksi sibuk XD

 

Jadi apa artinya pertanyaan kamu team Journey atau team Glee tadi?
Sejatinya Don’t Stop Believing adalah salah satu anthem terbaik dari Journey–salah satu band tahun 1980an—yang telah begitu sering dijadikan soundtrack film, dibuat cover version, ataupun menghiasi beberapa playlist. Track ini bahkan tercatat sebagai salah satu hits maker versi Billboard sebagai salah satu singel dengan penjualan tercepat.

Kara! Kara! Karaoke!
Kara! Kara! Karaoke!

Kalau kamu lebih familiar dengan versi aslinya daripada versi terbaru milik Glee, berarti kamu juga umurnya sudah cukup lawas.

*ditimpuk*

Lantas mengapa track yang begitu populer ini begitu berkesan pada malam tahun baru? Saya tidak pernah menganggap serius liriknya. Mungkin karena tidak ada cerita yang begitu signifikan sampai saya harus mencari korelasi dengan lagu Don’t Stop Believing. Sampai malam tadi, bersama orang-orang asing di negeri antah berantah kami menyanyikan bait demi bait lagunya.

Just a city boy
Born and raised in South Detroit
He took the midnight train
Goin’ anywhere

Saya yang berasal dari sebuah kota di tengah Indonesia bisa menikmati musim dingin di negara Skandinavia. Sebuah juxtapose dari iklim tropis yang menjadi keseharian sehari-hari. Saya pun terkadang masih tidak percaya.

Strangers waiting
Up and down the boulevard
Their shadows searching

Orang-orang asing yang begitu bergegas, memburu jalur kereta atau sekedar menghalau dingin. Ritme yang akhirnya menjadi kebiasaan, dimana waktu berpadu dengan jadwal kereta, matahari yang bersinar selama 6 jam dan aneka bahasa baru yang terdengar setiap hari di jalanan.

In the night
Streetlight people
Livin’ just to find emotion
Hidin’ somewhere in the night

Seperti saya, ketika hari berganti malam. Menghabiskan waktu untuk mencari arti, sejauh apa makna yang kau cari ketika berjalan? Apakah dan akankah jawaban itu akan kau (atau saya) temukan?

Some will win
Some will lose
Some were born to sing the blues
Oh, the movie never ends
It goes on and on and on and on

Pada akhirnya semua siklus itu akan berputar kembali. Orang akan datang dan pergi, wajah baru akan terus berganti. Jangan pernah berhenti untuk percaya. Sekilas lirik tersebut terdengar sangat klise, tapi ketika hatimu disertai harapan dan doa-doa untuk menjadi lebih baik lagi, entah mengapa buncahan semangat seketika datang dari mana. Mungkin benar lagu kebangsaan Journey cocok digunakan untuk memulai tahun yang baru.

The Fireworks
The Fireworks

Tetaplah berjalan, tetaplah bertahan, semoga hidup memperlakukanmu dengan baik, sebaik kamu memperlakukan orang-orang di sekitarmu.

Apa harapanmu untuk tahun ini?

Selamat tahun baru, salam hangat dari Stockholm.

*untuk lagu Don’t Stop Believing bisa didengar disini. Semua gambar di postingan adalah karya David Soendoro*

You may also like

1 Comment

Leave a Reply