#bearbiketrip 2 : the chronicle

Tantra, Lespo, Tantri

“nikmati saja perjalanannya, jangan terlalu fokus dengan tujuannya”

Itu pesan @nandarkeo ketika mendengar saya, kak Anchu dan Veby akan menempuh rute Makassar – Ta’deang dalam rute perjalanan kali ini. Sebelumnya dia menawarkan untuk ikut dalam tripnya mengunjungi salah satu lokasi bersejarah di Pangkep, cuma rasanya kami belum sanggup untuk menempuh kegilaan itu.

Sabtu, 19 Oktober 2012 trip resmi dimulai. Saya sendiri telah mendrop Tantra—polygon estrada 3.0 kebanggaan saya—di Kampung Buku. Dengan memikirkan rutenya bisa lebih hemat ketimbang saya harus menempuh jarak dari cendrawasih. @fadalays turut serta melepas kepergian saya dan Kak Ancu, sambil terharu. Entah karena sedih atau karena geli melihat kegilaan kami. Pitstop pertama, Dinas Kesehatan Provinsi depan gerbang BTP untuk menunggu Veby.

Tantra, Lespo, Tantri

Rute perjalanan dalam kota bisa dikatakan terlalui dengan mudah. Beberapa kali saya melaju dengan menggunakan gigi 2, standar yang digunakan untuk jalanan rata. Suatu hal yang terus bertentangan dengan Kak Anchu yang setia menggunakan gigi 1 untuk segala medan. Beberapa kali saya harus menyamakan ritme dengan kayuhannya, sekadar memastikan dia tidak jauh ketinggalan.

Ketika Veby bergabung dalam tim, kami saling menyemangati satu sama lain, saling memastikan bahwa perjalanan kali ini akan ditempuh kurang lebih 3 jam. Dengan asumsi bahwa beberapa titik perhentian akan dilalui. Bergantian kami saling memimpin rombongan, tapi seringnya saya berada di depan. Mengingat energi saya yang besar dan selalu tidak sabaran untuk menunggu Kak Anchu dan Veby. Sebuah tindakan yang akan saya sesali kemudian.

Bersepeda itu bukan hanya tentang mengerahkan tenaga untuk mengayuh. Ada kesabaran untuk memainkan ritme kayuhan, menyelaraskan waktu agar tenaga tidak cepat berkurang. Seringkali saya kelepasan, melepaskan banyak energi di waktu-waktu awal.

Pitstop kedua dan ketiga kami di asrama haji, sudiang dan roti maros yang berada di jalan poros. Pitstop kedua harus kami jejali karena sewaktu tanjakan depan Km 16, Lespo—sepeda fixie putih milik veby—mengalami sedikit insiden. Lahar belakang pecah dan mau tidak mau harus diganti. Tuhan memang baik. Setelah singgah di bengkel motor yang berada di jalan poros, mereka menyarankan untuk pergi ke bengkel sepeda yang terletak di depan asrama haji. Bagaimana caranya kami kesana? Saya menenteng Lespo di bahu sambil dibonceng!

*disini kadar macho bertambah 90 persen*

Pitstop ketiga kami harus mengisi perbekalan. Sambil menyantap apel yang dijadikan bekal, saya menyarankan Kak Anchu untuk membeli buah juga. Dengan pertimbangan, energi kami akan terkuras habis dan buah bisa sedikit membantu. Setelah membungkus roti maros sebagai bekal, perjalanan kami berlanjut!

Pusat kota Maros terlalui dengan mudah. Janji untuk berfoto di depan mesjid Agung kami niatkan untuk dilakukan sewaktu perjalanan pulang. Mengingat kami berburu dengan waktu untuk sampai ke Ta’deang. Niat saya, kami harus sampai sebelum maghrib, mengingat lokasi yang jauh dan tidak familiar.

Disinilah drama ini-kita-kapan-sampainya dimulai ketika jalan sudah memasuki etape terakhir. 15 kilometer yang harus ditempuh dari jalan poros memasuki jalan menuju Bantimurung entah mengapa terasa begitu jauh. Padahal begitu seringnya saya mengantar peserta diklat untuk outbound, tetap saja rute ini tidak terasa familiar. Apalagi ketika jalanan lurus harus dijabani dengan sisa-sisa kayuhan tenaga. Saya hampir kalah dengan pikiran sendiri.

capek 😐 ~ via @lelakibugis

Itulah manusia. Dengan kekuatan pikiran yang sangat menakjubkan. Sesekali diberinya kita semangat untuk mempercayai bahwa semuanya bisa terlalui, tapi dilain kesempatan dia bisa begitu menjebak dalam keputus asaaan. Beberapa kali Veby tertawa kecil ketika saya tidak hentinya bertanya,

“Veb, masih jauh?”

Seolah harapan akan terlontar dari Veby bisa sedikit menyejukkan. 2 kali kita berhenti karena saya berkata tidak mampu lagi mengayuh. Di kepalaku sudah berlarian beberapa peristiwa buruk yang pernah saya baca akibat terlalu kecapaian dalam berolahraga. Termasuk kasus almarhum Adjie Massaid yang kelelahan setelah bermain futsal. Apa saya sanggup? Bagaimana saya kalau nanti drop?

kecapekan ~ via @lelakibugis

Pikiran ini yang terus menjejali sepanjang sisa perjalanan. Beberapa penanda yang saya jadikan patokan bahwa rute yang kami tempuh tidak begitu jauh lagi tidak membawa perbedaan. Beban di tas yang semakin memberat ditambah lagi rembang petang yang semakin pekat seolah menggantung dan memberat di setiap kayuhan. Mata saya sudah berair, memaksakan retina mata bermain dalam keremangan. Selepas melewati air terjun bantimurung, saya menyerah.

bahkan pemandangan sehijau ini tidak bisa menghilangkan kegalauan #eh

Momen kegamangan terbesar terjadi ketika rombongan tim @jalanjalanseru_mks menyusul kami. Beberapa dari mereka memberikan semangat sambil berteriak dengan tulus. Tetapi yang diterjadi di kepala saya kemudian begitu hebohnya sambil saya berpikir,

“kenapa saya membodohi diri untuk melakukan perjalanan ini? Apa lagi yang harus saya buktikan?”

Untunglah Kak Anchu tidak cepat menyerah terhadap saya. Bahkan ketika dengan nada geram saya memintanya untuk jalan duluan, meninggalkan saya dalam kegelapaan dan penyesalan terhadap diri sendiri. Rasanya ingin membanting tas dan mengeyahkan semua hal tentang sepeda saat itu juga! Sesekali dia tetap mengayuh di belakangku sambil mengarahkan sinar lampu dari headlamp yang dikenakannya. Beberapa kali rantai Tantra juga terlepas. Membuat saya tersesat dalam kegelapan. Sial! Ini cobaan macam apa lagi?

Selalu ada sinar yang menunggu di depan lorong yang gelap sekalipun. Saya memaksakan diri untuk mengayuh lebih dan lebih jauh lagi. Mengingat posko yang akan dicapai ternyata hanya tinggal satu belokan saja. Veby yang telah jauh didepan juga menunggu dengan panik, mencari saya yang hampir hilang tinggal dalam kegelapan. Barulah saya meresapi, arti kata berjuang sampai keringat terakhir.

Ketika seluruh tim @jalanjalanseru_mks berteriak dan menyambut laksana pahlawan, mereka salut dengan kegilaan kami. Sambil meluruskan kaki dan membetulkan nafas, saya berusaha untuk mengingat wajah anggota tim trip kali ini. Perjalanan pergi akhirnya selesai dengan berakhir di sebuah warung makan sederhana. Seporsi mie siram tandas dengan cepat, serasa menikmati makanan terenak di dunia. Ketika melihat Tantra, Lespo, dan Tantri yang terparkir di halaman rumah makan tersebut, saya cuma bisa bilang,

“memang, saya gila!”

You may also like

2 Comments

Leave a Reply