A new chapter.

Rasanya aneh ketika memikirkan bahwa terkadang memang sebuah ucapan bisa menjadi doa yang sangat mujarab. Kita tidak pernah tahu, bahwa kapan malaikat lewat dan mengiyakan sebuah perkataan. Saya yang dulunya selalu membenci ritme ibukota, akhirnya menjadi bagian manusia urban. Yang selalu menyegerakan langkah. Yang selalu tertatih dengan waktu.

Pemandangan tiap hari :D
Pemandangan tiap hari 😀

Siapa yang menyangka, saya yang sepuluh tahun lalu harus menerima kenyataan bahwa memang kapasitas otak tidak mampu menembus perguruan tinggi negeri. Bahwa memang mungkin Tuhan punya cerita lain. Saya masih ingat apa perkataan bapak, ketika melihat saya pulang membawa koran pengumuman kelulusan SPMB,

“lantas kamu mau kuliah dimana? Swasta?”

“Entahlah pak, saya juga masih bingung”

Pertanyaan dan perkataan yang membuat saya masih gamang sampai beberapa waktu. Apalagi ketika bapak tahu saya lebih memilih menjadi operator warnet. Bekerja selama 8 jam sehari dengan iming-imingan koneksi internet semaunya. Ditambah lagi dengan kenekatan untuk menjadi penyiar di salah satu radio anak muda. Maka sukseslah saya menjadi salah satu pengangguran yang sibuk. Sampai suatu hari seorang sepupu mendapati saya yang kerja jadi operator warnet dan meneruskan cerita itu kepada bapak.

“kamu mau jadi apa sebenarnya?” itu pertanyaan bapak sekali lagi. Ketika saya baru saja masuk rumah. Tanpa dia tahu bahwa anaknya, telah siaran dari jam 9 pagi, kemudian lanjut bekerja sampai jam 8 malam.

Bahwa mungkin saat itu saya telah memilih jalan hidup saya sendiri. Melesat jauh dari 3 tahun menjadi anak STM sambil berpikir, apakah memang ini hidup yang ingin saya jalani? Ketika saya menjelaskan bahwa masih ada setahun untuk memikirkan akan kuliah dimana. Apakah memang masih ada pilihan lain yang bisa dijalani.

Sampai semua skenario Tuhan memang berjalan sempurna.

Dengan semua fase drama di rumah. Dengan semua pertemanan yang terjalin. Dengan semua pilihan akan kuliah dimana. Kemudian dihadirkannya teman-teman yang pelan-pelan membentuk saya seperti sekarang. Bahwa memang terkadang kita harus seringkali tersesat untuk menyadari sesuatu yang salah dan kemudian menjadi manusia yang lebih baik untuk memperbaikinya.

Mungkin saya tidak akan pernah lupa dan tidak akan pernah bisa menghapus raut kecewa bapak sepuluh tahun yang lalu. Ketika anaknya telah mengambil keputusan yang besar, yang bahkan ujungnya pun tidak ketahuan. Entah karena memang tidak mempunyai prinsip, ataukah karena memang semuanya sudah mempunyai jalannya masing-masing.

Tetapi saya tahu bapak selalu bangga dengan semua anaknya. Ketika saya sekarang berada di tengah riuhnya ibukota, mengikuti pelatihan intensif selama 6 bulan. Persiapan untuk berangkat kuliah di luar negeri tahun depan. Beliau selalu bangga dengan keberanian dan keputusan semua anaknya.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply