The Truth About Love; blak-blakan tentang cinta (lagi)

“I felt like I was in this videogame and I collected all the gold coins and talismans you could collect — I had to either move to the next level or quit,” itulah yang dikatakan Pink dalam wawancaranya bersama Billboard selepas dia menjadi tajuk utama majalah tersebut dan tidak berapa lama kemudian album The Truth About Love melakukan debutnya di posisi 1. Suatu kebetulan?

Sama sekali bukan. Kita berbicara tentang konsistensi dan kerja keras yang sudah memasuki dekade kedua dari seorang Alicia Moore. 13 tahun berlalu ketika album Mizunderstood dirilis. Tetapi semangat pop-punk tidak hanya menjadi euforia, dan hal tersebut kemudian berlanjut sebagai benang merah album ini.

Image by http://www.billboard.com

Materi album yang terdengar penuh kemarahan, sarkasme yang terselubung, semuanya rapi dalam balutan musik yang terdengar semangat. Sebuah pelarian dari rebound relationship? True Love yang bercerita tentang frasa At the same time I wanna hug you, I wanna wrap my hands around your neck, You’re an asshole but I love you, And you make me so mad. Bersama Lily Allen, dia kemudian membuat sebuah defenisi tentang kebenaran jatuh cinta. Semua terasa seperti coklat.

Lily Allen tidak sendirian. Barisan artis yang ada didalam album ini menunjukkan berbagai sisi Pink yang semakin kreatif. Walaupun musiknya masih di dominasi beat-beat yang menghentak, tetapi kehadiran Fun (Just Give Me A Reason) dan Eminem (Here Comes The Weekend) mampu memberikan nuansa tersendiri. Here Comes The Weekend sendiri terlalu terasa seperti Funhouse episode 2, dengan musik yang terasa sama. Syukurlah, repetan Eminem di bagian akhir membuat track ini menjadi sedikit berbeda.

Barisan produser Greg Kurstin, Butch Walker, John Hill, dan Max Martin lah yang membuat beberapa track ini seperti sebuah kisah lanjutan dari album-album Pink terdahulu. Track-track yang mampu mewakili sifat bengal, witty, dan beberapa hal yang hanya mampu dikatakan oleh Pink tanpa terdengar kasar.

Simak saja penuturannya dalam single Blow Me (One Last Kiss) atau Slut Like You yang begitu lugas bercerita tentang keperkasaan perempuan. Bukan permasalahan tata bahasa, tetapi tanpa metafora berlebihan, itulah cara bertutur Pink. Langsung pada sasaran.

Diantara beat-beat cepat (Where The Beat Go, Walk Of Shame)–yang sesekali diselingi autotune—musik Pink yang terdengar hingar bingar, kita bisa menemukan sensitifitas dan kemampuan Pink dalam menyanyikan balada. The Great Escape yang ditulis Dan Wilson mampu menunjukkan sisi emosional Pink. Begitu pula dengan Try yang didominasi oleh suara Piano dari awal mampu membuat kita bertanya, “sebenarnya siapa yang salah ketika kita sedang jatuh cinta?”

Untuk seorang Pink yang memasuki paruh dekade keduanya, The Truth About Love menunjukkan bahwa memang bakatnya masih akan tersalurkan melalui cerita-cerita lain. Silahkan dengar lagu ini ketika anda ingin move on dan melanjutkan hidup.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply