War Of The Arrow; mengenal sedikit sejarah Korea

Dalam penjelasan nona Wikipedia, setidaknya ada 6 kali invasi yang dilakukan oleh bangsa Mongol dalam kurun 40 tahun. Faktor utama dalam setiap invasi tersebut adalah perluasan wilayah dan pencarian sumber daya manusia untuk dijadikan budak. Invasi ini kemudian berlangsung buruk. Dari awal tahun 1231, pemberian upeti yang ditolak oleh raja Korea membuat berang bangsa Mongol. Inilah yang menjadi awal perang panjang yang memilukan.

Setelah beberapa kali pakta perdamaian, invasi yang berulang kali, nasib buntung tetap dialami oleh bangsa Korea. Era tahun 1270-1273 kemudian dikenal sebagai masa diktator Choe Chung-heon yang menyebabkan terjadinya banyak pemberontakan internal di kalangan istana. Para pejabat militer kemudian memberontak dan mempertahankan diri di sepanjang semenanjung Korea.

Menyimak film War Of The Arrows mengajak saya menelisik lebih jauh mengenai sejarah bangsa Korea. Maklum, selama ini invasi negeri tersebut hanya berupa boyband dan girlband dengan musik yang riuh. Siapa yang sangka bahwa banyak fakta sejarah yang kurang diketahui oleh banyak orang.

Era pemberontakan terhadap sang raja inilah yang dijadikan latar belakang cerita. Bagaimana kisah Choi Pyeong-ryung (Yoon Dong-hwan), seorang pejabat pemerintah yang dituduh berkhianat. Akibatnya, seluruh klannya akan dieksekusi. Proses penyerangan ini ditampilkan sebagai adegan pembuka, dimana sang anak, Nam-yi (Lee Da-wit) dan Ja-in(Jeon Min-seo) ikut diburu juga. Naasnya, Nam-yi melihat ayahnya dibunuh didepan matanya. Inilah yang membuat perangainya menjadi dingin, tidak bersahabat dan sangat keras terhadap diri sendiri.

Pesan terakhir sang ayah menjadi satu hal yang sangat dijaga. Bagaimana dia harus menjaga Ja-in dengan taruhan nyawa. Berbekal busur dan anak panah, maka berangkatlah mereka kerumah sahabat sang ayah. Disini mereka berdua kemudian dibesarkan dan menjalani hidup sebagai orang yang tidak boleh diketahui identitasnya.

Nafas pemburu dan pemanah ternyata menurun pada darah Nam-yi (Park Hae-il). Dia tumbuh menjadi seorang pemanah berbakat. Sayang, hidupnya tidak pernah karu-karuan. Hanya satu hal yang membuatnya tetap fokus, yaitu rasa sayangnya pada sang adik. Tapi hal itu kemudian berubah menjadi sebuah malapetaka.

Dalam hari pengantin Ja-in (Moon Chae-won), Nam-yi kehilangan Ja-in untuk pertama kali. Sewaktu hendak berburu rusa, dia mencium sesuatu yang salah. Ternyata firasatnya benar, saat datang ke kediaman Min-soon, sang ayah angkat, semuanya berubah salah. Pasukan Mongol yang dipimpin oleh pasukan elit bangsa Qing yang dipimpin oleh Jyuushinta (Ryoo Seung-Ryong). Bangsa Mongol terkenal akan kekejaman dan kecerdasannya dalam melakukan invasi ke negara lain. Busur dan anak panahnya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memilki daya tempur yang berbeda pula. Disinilah kisah perjalanan Nam-yi kemudian dimulai untuk mencari jejak sang adik.

30 menit pertama saya hanya bisa menahan nafas dan membayangkan kisah ini akan menjadi kisah epos sejarah yang panjang. Seperti menyimak kisah 3 Kerajaan yang hadir dalam berbagai versi. Lengkap dengan pasukan tempur dan invasi kerajaan. Tapi setelah setengah perjalanan, barulah saya menyadari bahwa kisah ini lebih kepada kisah keberanian, kehilangan, dan bagaimana mencari kebebasan hakiki.

Sebuah kasih sayang tulus dari seorang kakak kepada adiknya. Dalam perjalanannya, Nam-yi kemudian dibantu oleh 2 orang sahabat yang menyertai kisah perjuangannya melawan satu pleton pasukan bangsa Qing. Belum lagi pasukan elit pemanah yang harus dia hadapi.

Angle-angle dekat membuat kita merasakan bagaimana busur yang diregangkan, serta terjangan anak panah menjadi begitu nyata. Ini adalah perlawanan murni, satu lawan satu, dengan sebuah senjata dasar dan taktik bertahan hidup. Silahkan simak adegan ketika pasukan elit yang dipimpin oleh Jyuushinta melompati tebing. Gila!

Kredit lebih juga diberikan kepada Kim Mu-yeol yang memerankan tokoh Kim Seo-goon, calon suami Ja-in. Dalam satu titik, kisah superheronya berubah dari anak manja menjadi pasukan pemberani. Semuanya demi satu hal, cinta. Dibalik kisah perburuan ini, banyak pemandangan menarik yang terpampang. Sejarah kelam bangsa Korea juga sedikit demi sedikit terkuak, sehingga bisa dibayangkan kalau mereka adalah bangsa yang ulet serta pekerja keras.

Dalam kesederhanaan cerita, film ini mampu berbicara banyak. Fokus cerita perjalanan Nam-yi menghantarkan 4 buah penghargaan pada ajang Grand Bell Awards ke 48 tahun 2011, termasuk pada penghargaan aktor terbaik dan pendatang baru wanita terbaik. Seterusnya? Masih banyak deretan penghargaan untuk film ini, termasuk Best Cinematography pada acara Critics Choice Awards ke 31 tahun 2011.

Bagaimanakah akhir dalam perang panah ini? Silahkan persiapkan diri anda untuk twist yang sangat mendebarkan dan menyedihkan pada bagian akhir. Bravo!

You may also like

3 Comments

Leave a Reply