The Hobbit; mari bertualang!

Ketika mendengar kabar bahwa The Hobbit, prekuel dari Trilogi Lord Of The Ring akan segera dirilis, tidak membuat saya tergerak. Maklum saja, referensi saya telah ideal dengan dunia Harry Potter. Jadi rasanya menambah referensi dengan buku J.R.R Tolkien tersebut rasanya akan sia-sia. Mengingat lagi bahwa tahun perilisan buku dan filmnya adalah masa-masa dimana saya belum bisa mengakses dan bacaan menjadi sesuatu yang mahal.

Gandalf dan Para kurcaci
Gandalf dan Para kurcaci

Mungkin salah satu keuntungan saya adalah bisa mengikuti alur perjalanan kisah sang cincin dari awal. Dari kisah pertemuan awal Bilbo Baggins bertemu dengan Gandalf dan bertualang bersama 13 dwarfs (kurcaci). Saya bisa menebak bahwa detail cerita yang disajikan dalam 3 buku LOTR bisa menjadi hal yang sangat rumit. Tapi disinilah semua petualangan dimulai.

Kenapa harus Gandalf? Kenapa harus Bilbo dari jenis hobbit yang dipilih? Inilah awal cerita yang akan mengalir selama 3 jam tanpa terasa. Skena kehidupan para dwarf digambarkan secara sekilas. Bagaimana mereka menambang gunung dan menjadi ahli pembuat senjata yang sangat handal. Mereka hidup dalam gunung dan menyimpan—bahkan terkadang menjadi pelit—terhadap harta karun mereka.

Gandalf dan Galadriel. Siapa dia? Ayo nonton LOTR!
Gandalf dan Galadriel. Siapa dia? Ayo nonton LOTR!

Setelah gunung di serang dan dikuasai oleh seekor naga, bangsa dwarf kemudian terpecah-pecah dan tersebar di berbagai tempat. Disinilah perjalanan Thorin, sang cucu raja dimulai. Bersama Gandalf, dia kemudian mengumpulkan 13 dwarf yang setia untuk mendampingi perjalanannya. Tapi apa benar motif ingin mengembalikan kejayaan para dwarf yang menjadi motif utama Thorin? Apa ada agenda lain di balik rencana Gandalf?

Saya sangat menikmati film ini. Mungkin karena saya tidak membawa ekspektasi apa-apa, tapi petualangan 13 dwarf memiliki peranannya masing-masing. Jangan lupakan Peter Jackson yang telah membawa nama LOTR menjadi satu hal yang penting dalam dunia film. Diramunya sedemikian rupa dunia hobbit yang indah, sampai Rivendell, tempat para peri dengan begitu megahnya.

Rivendell!
Rivendell!

Petualangan apa yang akan dialami oleh rombongan ini? Well, untuk buku setipis The Hobbit, ternyata trilogi menjadi jawabannya. Dalam penjabarannya kita akan bertemu dengan Troll. 3 buah! Dengan percakapan dan intelegensi yang dibawah rata-rata, kita akan pertama kali menyaksikan bagaimana sifat komikal Martin Freeman sebagai Bilbo Baggins. Apalagi yang bisa kita lihat? 13 dwarf dengan celotehan mereka masing-masing. Riuh! Sejenak saya membayangkan bahwa begitulah kehidupan bersama teman-teman komunitas. Sama riuhnya!

Puncak adegannya adalah selepas dari Rivendell, rombongan ini kemudian ditangkap oleh raja Goblin. Smaug telah menyebarkan berita mengenai hadiah yang akan didapatkan untuk rombongan ini. Jadinya setelah menjadi tahanan raja Goblin, ternyata Bilbo Baggins bisa meloloskan diri dan jatuh ke dasar gunung untuk bertemu dengan Gollum!

Gollum, i'm madly in love!
Gollum, i’m madly in love!

Ya, inilah Gollum legendaris yang di perankan oleh Andi Serkis. Makhluk mitologi yang nyaris terasa sangat nyata emosinya berkat teknologi mo-cap. Scene di dasar gunung yang gelap memberikan sensasi tersendiri ketika Bilbo harus adu teka-teki untuk bisa keluar. Inilah saat pertama ketika kita melihat pemunculan cincin yang menjadi dasar cerita LOTR.

Dengan berbekal cerita yang lebih sederhana dan sinematografi yang sangat memanjakan mata, rasanya saya tahu kenapa banyak orang yang kemudian menjadi massa sekte LOTR dengan sukarela, dan sebentar lagi saya akan menjadi salah satunya.

***

All image by http://collider.com

 

You may also like

2 Comments

Leave a Reply