Tampan Tailor; bercerita tentang mimpi dan keyakinan

Ketika terjebak macet di Jakarta, maka ojek selalu menjadi kendaraan paling mumpuni. Mampu meliuk di antara antrian mobil yang mengular, ataukah mampu menemukan jalan-jalan kecil yang bahkan sudah tidak bisa disebut lagi jalan tikus. Diantara jejeran mall yang membentang, saya melihat realitas lain. Ketika rumah berdempet, suasana kampung, ditengah megahnya ibukota.

Image by http://kvltmagz.com
Image by http://kvltmagz.com

Gabungkan potret kehidupan tersebut dengan kenyataan bahwa saat ini semakin sulit untuk mencari lapangan pekerjaan membuat saya selalu bersyukur. Masih mempunyai pekerjaan yang tetap, masih bisa bekerja di tengah ruangan berpendingin yang bisa dikontrol, atau masih bisa memilih makanan yang ingin dikonsumi.

 

Yang sayangnya sebagian dari kita tidak memiliki opsi-opsi tersebut.

Menilik tema besar yang didengungkan Tampan Tailor, saya tidak menyangka filmnya akan seberat ini. Bukan hanya tentang hubungan ayah dan anak, tapi lebih kepada bagaimana memperjuangkan hidup itu sendiri. Suatu hal yang dimana semua orang akan melaluinya. Apa yang akan kau lakukan ketika masa itu tiba? Berjuang pada mimpimu? Atau menapak pada kenyataan?

Topan (Vino G. Bastian) menjadikan figur seorang ayah menjadi sosok ideal dan sempurna. Diberikannya gambaran sempurna bahwa seorang ayah harus menjadi Superman. Mampu berjuang untuk kebahagiaan Bintang (Jefan Nathanio), apapun yang terjadi. Semua akan dilakoninya, mulai dari Calo tiket kereta api sampai menjadi kuli bangunan. Apakah seorang ayah tidak boleh tampak terlihat lemah?

Image by http://suaramerdeka.com
Image by http://suaramerdeka.com

Dalam perjuangan tentang hidup ini, segmen kota bisa saja berganti. Silahkan amati sekeliling, ada banyak Topan lain yang sedang berjuang dengan hidupnya. Ketika gambar diganti dengan fragmen Jakarta, banyak yang menduga dramanya akan lebih hidup. Walaupun akhirnya beberapa kali saya merasakan dosis drama yang berlebihan. Hidup ini kok rasanya susah terus yah? Untungnya Prita (Marsha Timothi) datang menyelamatkan keadaan Topan dengan senyum sinisnya.

Tampan Tailor sendiri adalah sebuah mimpi yang dimiliki oleh Topan. Ketika sang istri meninggal, maka mau tidak mau dia harus mencari lapangan pekerjaan yang lain. Sampai akhirnya melalui Prita, dia bisa bekerja di perusahaan konveksi yang memperlihatkan kemahiran tangannya. Sebuah kebetulan? Tidak usah terlalu memakai logika dalam film ini, walaupun ada banyak skena yang terasa berlebihan (termasuk skena kembang api) dan jump cut yang sangat mendadak.

Akting Bintang sebagai seorang anak yang polos patut diacungi jempol. Aktingnya yang terasa sangat natural, menandakan bahwa memang itulah dunia seorang anak. Ketika bermimpi dan bermain harus menjadi porsi terbesar, lantas kenapa Topan masih harus berbohong dengan keadaan mereka yang sebenarnya? Apakah memang dasar hubungan tersebut bisa bertahan? Walaupun Tampan masih ingin mempertahankan yang terbaik untuk Bintang, ingin menciptakan dunia yang ideal, pertanyaan yang tak berkesudahan akan terus menghantui kepala. Bahwa terkadang hidup ini sangat tidak adil.

Menarik bagaimana pertanyaan tersebut diajukan oleh sang sutradara, Guntur Soeharjanto melalui pesan semiotika terselubung. Baju Gandhi, Tan Malaka yang dipakai oleh Ringgo mengambarkan semangat kebebasan yang sangat kuat. Begitu pula kalau jeli melihat, pesan yang disampaikan melalui baju kaos Bintang dalam paruh pertama yang bercerita tentang kebahagian, ataupun pada plang reklame yang terlihat sewaktu Topan bekerja sebagai kuli bangunan.

Lepas dari beberapa kekurangan (yang paling mengganggu saya adalah mereka hanya satu kali makan selama film ini berlangsung), eksekusi yang terasa rapi adalah kunci film ini. Ikatan emosi antara Bintang dan Topan menjadi dasar untuk mempercayai bahwa terkadang kita harus menemukan alasan-alasan kecil untuk berjuang. Tentang hidup yang keras, atau tentang mimpi yang ingin diraih, semuanya layak untuk diperjuangkan.

You may also like

Leave a Reply