Chronicle; kekuatan besar + jiwa ababil, kombinasi buruk.

“Di setiap kekuatan besar, ada tanggung jawab besar”

Entah mengapa penggalan kalimat itu yang ada di kepala saya ketika selesai menyaksikan film ini. Kutipan dari mana? Tentu saja dari film Spiderman. Saat Peter Parker menyadari bahwa kekuatannya berubah menjadi kutukan. Sanggupkah dia kemudian memikul tanggung jawab sebagai superhero?

Andrew, sang tokoh utama

Itulah pola yang terjadi pada semua cerita superhero. Tipikal sang pahlawan yang mendapat kekuatan super. Entah dari kekuatan kosmik, serangga beracun, atau karena mutasi gen. Ketika menyadari kekuatan tersebut ternyata merugikan hidupnya sendiri, dia bimbang. Lantas bagaimana jadinya ketika semua kekuatan itu jatuh pada jiwa remaja yang tidak stabil?

Alkisah Andrew Detmer (Dane DeHaan) memulai kesehariannya sebagai remaja pemalu. Dalam strata pergaulan SMA, dia mungkin menduduki kasta terendah. Yang bahkan keberadaannya pun tidak disadari. Ditambah lagi sang ibu yang sakit parah dan ayah pemabuk, jadilah jiwanya semakin rapuh. Apa yang kemudian terjadi?

Dia membeli kamera handycam dan mulai merekam kesehariannya. Bersama seorang sepupu dekatnya Matt (Alex Russell), hari-harinya terus berlanjut. Sampai pada satu pesta sekolah, dia berkenalan dengan sang bintang sekolah, Steve (Michael B. Jordan). Inilah yang menjadi titik awal semuanya, ketika dia dimanfaatkan untuk merekam peristiwa “benda angkasa” yang jatuh ke bumi dan ada di dalam terowongan. Mereka terjatuh, menyelidiki, pingsan dengan hidung mimisan dan terbangun dengan kesadaran bahwa mereka memiliki kemampuan telekinesis.

Inilah yang membuat ketiganya kemudian berteman akrab. Masing-masing memiliki kekuatan dengan standar yang berbeda. Apakah tanggung jawab itu kemudian datang begitu saja? Tentu tidak. Mereka masih bermain-main dan berbuat iseng dengan kekuatan itu, sampai akhirnya Andrew mencelakai seseorang atas nama candaan. Keadaan kemudian berubah menjadi tegang.

Cukup sampai disitu? Belum. Andrew kemudian mendapati keadaan rumah yang semakin kacau. Ketika sang ayah mengetahui perihal kamera mahal, sementara sang ibu tidak bisa berobat. Akhirnya konfrontasi tidak dapat dihindari lagi. Depresi, Andrew menghajar sang ayah. Lari dari rumah, nongkrong di pencakar langit, sambil bermain dengan petir. Sang sahabat, mengetahui ada yang salah dengan mimisan yang dialaminya. Dia mengejar Andrew, dan sesuatu kemudian terjadi di antara mereka. Semuanya tidak sama lagi.

Poster Film Chronicle

Ketika banyak cerita superhero atau kekuatan super menitik beratkan pada aspek pahlawan-penjahat, tidak demikian dengan film ini. Jauh dibalik itu ada pergumulan emosi yang dijabarkan dengan lugas. Ketika kamu memiliki kemampuan menyakiti, apakah yang akan kau lakukan? Ketika masa lalu tidak bisa menyelamatkanmu, apakah kau akan mengorbankan temanmu? Ketika terlalu lama sendiri sudah begitu menjadi zona nyamanmu, mampukah kau mendapat perhatian berlebih?

Salah satu aspek penting yang ada di film ini juga bahwa semuanya dilihat dari sudut pandang Andrew. Dari handycamnya terutama. Jadi kita akan menikmati suasana semi dokumenter dalam banyak adegan. Mulai dari adegan melempar bola, sampai yang paling gila, ketika 3 sahabat ini terbang dan tersambar pesawat. Seolah-olah kita yang mengalami semua adegan tersebut! Salut.

Belum lagi adegan pertarungan akhir yang terjadi, deretan gedung yang hancur, sampai efek perpindahan sudut pandang kamera. Semuanya berlangsung cepat, menegangkan dan mengharukan. Lah ini siapa yang berkelahi? Katanya bukan film superhero?

Silahkan simak sendiri film yang sangat jenius ini. Josh Trank, sang sutradara pandai menjabarkan aspek emosinya. Jauh sebelum para superhero memiliki panggilan untuk menyelamatkan bumi terus menerus, mereka pastilah pernah menjalani perang batin dan jiwa tidak stabil seperti di film ini. Apakah pilihan itu akan membawamu menjadi sosok superhero, ataukah sosok antagonis? Tergantung dari sudut pandangmu sendiri.

Trailer film Chronicle,

 

 

You may also like

1 Comment

Leave a Reply