Bourne Legacy; apa yang kauharapkan?

Bagaimana menyisipkan kisah Bourne dalam Bourne? Apakah ini semacam inception? Tenang saja, premis yang ditawarkan film ini ternyata sangat sederhana. Jason Bourne tidak sendirian. Ada banyak agen lain yang telah “dibuat” untuk berbagai kepentingan. Lantas, bagaimana nasibnya ketika agen-agen tersebut memiliki emosi?

Pertama, mari kita kesampingkan dulu 3 installment Bourne yang mengagungkan Matt Damon sebagai seorang mata-mata super. Apa yang membuat kita jatuh cinta kepadanya? Intensitas film yang padat dan perkelahian seru. Siapa yang bisa menyangka bahwa pensil dan alat-alat sederhana lainnya akan bisa dijadikan senjata? Well, bagaimana dengan Jeremy Renner?

Setelah 30 menit pertama barulah kita akan ngeh apa yang dilakukan Aaron di tengah gunung es. Dia tahu bagaimana keadaannya, dia tahu apa yang dia cari. Sebuah pil warna hijau dan warna biru. Sebagai lulusan dari Outcome, sebuah organisasi rahasia, mereka diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan berkala untuk mendapatkan pil yang bisa memboost kemampuan fisik dan kemampuan kognitif mereka. Tanpa itu mereka akan mati.

Plot yang tercampur baur membuat kita harus memakai standar ekstra untuk menyusun puzzle dalam film Legacy. Karena Jason Bourne hanyalah gunung es dari seluruh persoalan operasi militer yang rahasia. Kehadiran Bourne memicu banyak hal, termasuk program yang harus ditunda dan digagalkan. Apakah nasib Aaron akan berlangsung sama?

Bersetting di Chicago, Inggris, cerita film ini akan berkisah tentang the unknown mission. Sebut saja Dr. Hearing (Rachel Weisz), yang selanjutnya menjadi heroine Aaron adalah peneliti yang mempelajari bagaimana zat-zat pengontrol tersebut masuk kedalam tubuh manusia. Hal ini yang membuatnya menjadi incaran CIA untuk dimusnahkan. Maka dimulailah petualangannya untuk membantu Aaron membuat ulang serum yang bisa mematahkan kecanduan obat-obat berkala yang harus dikonsumsi.

Petualangan di Manila, Filipina menjadi satu twist yang sangat mendebarkan. Ketika akhirnya langkah Aaron ketahuan CIA, mereka harus berhadapan dengan agen lain yang lebih sangar dan tidak berperasaan. Salah satu keuntungan film ini menyarankan kita bahwa ternyata kadar trafik penduduk Manila sama dengan Jakarta. Dari segi crowded penduduk dan gambaran daerah urban. Kejar-kejaran menggunakan motor? Seru. Tapi adrenalinnya kurang.

Mungkin Tony Gilroy, sang sutradara harus memaknai lagi kata Legacy. Apakah memang lantas Aaaron bisa menjadi penerus dari Bourne? Cerita untuk latar belakang sudah oke, apakah ini berarti kita bisa berharap untuk scene bertarung yang lebih banyak di film berikutnya (kalau ada)?

You may also like

3 Comments

Leave a Reply