Tolong jangan tag saya sembarangan!

Ketika mendapatkan tagging dari sebuah produk (utamanya) baju di Facebook, saya sering marah dan sedih di saat yang sama. Marah karena beranda saya penuh dengan dagangan segala rupa, plus sedih karena bajunya tidak ada ukuran yang sesuai. Ranah Facebook perlahan berubah menjadi sangat menjengkelkan. Entah siapa yang memulai pertama kali untuk berjualan di Facebook. Mulai dari gadget, baju, seprai, ada yang menyalurkannya. Sepertinya sisa penjual tabung gas saja yang belum ada. Mungkin karena resikonya yang terlalu besar.

Anyway, memiliki tubuh segede beruang ada suka dukanya sendiri. Enaknya sih hangat kalau dipeluk (katanya siiih) dan orang-orang selalu merasa aman kalau ditemani jalan (lah, emangnya saya satpam?). Tapi itu tadi, giliran cari baju kaos yang keren. Susahnya bukan main. Sepertinya saya bukan sahabat baik dari tenant-tenant fashion. Bahkan sampai ke pusat FO di Bandung pun, sulit mendapatkan size XXL, semuanya mentok di XL. *puk-puk perut*

Awal kekesalan saya terhadap semua jenis online shop di Facebook kemudian membuat saya berpikiran lain. Saya malah jatuh cinta dengan salah satu akun yang mengupdate terus design kaos yang diproduksi. Dari The Beatles, Thom Yorke, dan Adele. Mereka spesifik hanya memproduksi kaos dengan musisi yang spesifik. Peminatnya? Membludak! Walaupun harus menambah sedikit untuk ukuran plus (yeah, size PLUS), tapi ada kepuasan tersendiri yang didapatkan.

Summer Store, salah satu akun favorit yang jualan kaos

Konsep ini kemudian yang menjadi jawara dalam konsep marketing saat ini. Berjualan secara konvensional? Meh! Walaupun jumlah mal dan pusat perbelanjaan terus bertambah, tetapi semakin banyak orang yang (sok) sibuk tidak sempat untuk belanja mata. Cukup browsing sana sini, klik, double klik, nanya rekening tujuan, transfer duit, holla! Barang pun berdatangan. Tidak pakai keringat, tidak pakai ngantri.

Walapun ketakutan untuk penipuan makin marak terjadi, disitulah peran kita sebagai pembeli untuk menjadi pembeli yang cerdas. Jangan sampai kalap untuk membeli barang yang dibandrol dengan harga murah. Ada baiknya untuk mengkonfirmasi harga standar di situs-situs ternama. Mana ada laptop yang dibanting harganya? Tidak mau tertipu kan? Apalagi dengan embel-embel black market. Nantinya mau untung, malah jadi buntung.

Bisnis ini menjadi semakin menarik karena sewaktu saya jalan ke Bandung dan Jakarta kemarin, ternyata memang ada perbedaan harga yang lumayan mencolok dengan pasar Makassar. Faktor lebih murah barang-barang di ibukota? Ya itu masalah klasik sih. Dimana sepatu KW dengan kualitas yang sama, saya mendapatnya hanya dengan setengah harga. Di facebook malah dijual hampir 2 kali lipat. Nah loh! Sudah bisa dihitung dengan kasar sebenarnya bagaimana bisnis ini akan berputar.

Sepatu Kw di Taman Puring, Jakarta

Lantas, bisakah semua orang menjalaninya? Lah, ini sebenarnya merujuk kepada pasar konvensional juga. Bagaimana mendapatkan suplai yang lebih bagus kualitasnya dengan harga yang lebih murah. Idealnya harga sebanding dengan mutu lah. Disinilah dibutuhkan kerja keras untuk membuat toko berubah menjadi online. Karena sekarang hidup tidak bisa lepas dengan internet. Konsep online shopping akan memudahkan orang-orang yang ingin praktis dan tidak ingin ribet dengan suasana mall yang kadang sumpek.

Dari semua opsi yang ada, sepertinya memang sistem tagging di Facebook yang menjadi sehina-hina kasta dalam berdagang. Seperti menyeret orang-orang untuk melihat sesuatu yang belum tentu dia sukai. Kalau senang, ya Alhamdulillah yah. Kalau nggak? Wassalam. Segala sumpah serapah akan keluar dari mulut seseorang.

Tidak semua orang bisa mengelola konsep online shop dengan berbasis blog. Walaupun ini tahun 2012 dan blog sudah menjadi makanan sehari-hari, masih ada yang belum ngeh bagaimana cara menggunakannya (ehm!). padahal konsepnya sederhana, hanya memindahkan lapak fisik yang ada di dunia nyata, menjadi bagian dari dunia maya. Keuntungannya? Toko buka 24 jam, tanpa biaya parkir, tanpa uang pajak, tanpa susah dengan iuran dari preman juga (eh).

Ada banyak tutorial yang bisa digunakan. Ibaratnya, tukang bangunannya sudah disediakan oleh google, tinggal memilih dan melihat bagaimana yang sesuai. Lah, bagaimana kalau sudah bisa membuat online shop dan tidak bisa dioperasikan?

Disinilah peran sekolah blog menjadi penyelamat. Tidak perlu meminta saran dari Tung Desem Waringin cara promosi yang mengejutkan. Tidak perlu pula meminta petunjuk Mario Teguh kala online shop yang dioperasikan kok malah sepi pengunjung? Cukup bertanya dengan orang yang tepat. Bagaimana memilih produk, bagaimana dengan customer servicenya, sampai layanan after salenya. Seribet itu? Ya iyalah! Wong, semuanya pasti akan kembali kepada kepuasan pelanggan. Mereka senang, duit datang, abang disayang 🙂

Tidak perlu takut untuk memulai sesuai yang baru dan tidak familiar, karena blog bisa menjadi tren untuk menjalankan bisnis penting di masa yang akan datang. Ketakutan karena bisnis ini tidak familiar? Daripada jualan secara serampangan di facebook, mending sekalian memasang lapak dengan baik dan benar. Toh di internet juga tidak ada satpol PP yang selalu merazia.

 

You may also like

9 Comments

  1. kadang memang rada gemas sama yg ngetag produk di FB, biasanya klo tdak akrab saya menghapus2 saja tag itu, tapi klo teman akrab yang punya lapak sayang jg klo menghapusnya.
    mgkn karena FB itu merakyat jadi dijadikan ajang jualan sekalian,, ketimbang blog orang kan lebih familiarnya dgn FB. aiihh seandainya mereka sadar klo blog lebih menguntungkan..

  2. seth godin mengistilahkannya ” Pemasaran Berizin”. utk metode penjualan di internet dgn prinsip menang-menang. Penjual menang, pembeli senang.

Leave a Reply