Selamat Ulang Tahun, Pak Joko Widodo!

Setiap era kepresidenan memiliki citra dan warnanya sendiri. Saya sendiri awalnya tidak terlalu aware dengan wajah perpolitikan Indonesia, kemudian larut dalam setiap perbincangan politik. Baik itu di berbagai kanal sosial ataupun ruang nyata. Hal ini tentu saja disebabkan karena tidak hanya pemberitaan mengenai kinerja pemerintahan dan politik di media massa, kini para politisi hadir lebih dekat dan terasa nyata melalui kanal media sosial.

Image by Yulianti Tanyadji. https://www.instagram.com/ytanyadji/

Dalam era awal media sosial, kata pencitraan kerap terdengar. Bahwa seseorang akan melakukan perbuatan tertentu untuk menaikkan nilainya dihadapan khalayak. Mengapa citra ini menjadi penting? Mengutip Arif Budiman (1) yang berkata bahwa citra berkaitan erat dengan suatu penilaian, tanggapan, opini, kepercayaan publik, asosiasi, lembaga dan juga simbol simbol tertentu terhadap bentuk pelayanan, nama perusahaan dan merek suatu produk barang atau jasa yang diberikan oleh publik sebagai khalayak sasaran (audience).

Tirto.id (2) bahkan menuliskan ulasan yang lengkap mengenai bagaimana Jokowi menjual citra politiknya. Dalam salah satu alinea liputan yang ditulis oleh Arman Dhani, tipikal komunikasi Jokowi adalah gemar melontarkan lelucon, tertawa lepas, bahkan tidak ragu untuk melakukan kontak fisik dengan siapapun. Seperti saat mengunjungi beberapa pondok pesantren, Jokowi mengundang santri untuk menjawab kuis yang jawabannya mengundang gelak tawa. Alih-alih menghardik atau memarahi mereka yang mengantuk, Jokowi bisa menghidupkan suasana dengan sikapnya yang tidak berjarak.

Image by Kompas. https://kompas.id/baca/multimedia/2017/06/13/rangkaian-peringatan-nuzulul-quran/

Sifat non-konvensional ini kemudian terasa familiar oleh masyarakat kebanyakan seperti saya. Ketika jarak antara politisi dan masyarakat menjadi hilang, kita cenderung menjadi lebih perduli. Tipe komunikasi ini juga lebih dulu diterapkan oleh Presiden Barack Obama, Perdana Menteri Kanada, Justrin Trudeau. Bentuk komunikasi politik ini kemudian menyusut kedalam layar-layar gawai dan menciptakan visibility para politisi menjadi lebih jelas.

Masyarakat cenderung untuk memilih para individu dengan nilai-nilai dan ide yang diusungnya, dibandingkan dengan melihat profil partai dan program kerjanya. John Corner dan Dick Pels (3) mengungkapkan bahwa,

they so-called apathy or lack of interests is at least to some extent counter balanced by a more distracted interest in political infotainment and celebrity, framed within the permanent campaigning, marketing, and polling rhythms that characterize a fully grown media democracy.

Yang intinya orang-orang akan cenderung memilih mereka yang terasa dekat dan familiar, mengusung nilai-nilai yang dapat dipahami, ketimbang melihat partai dan program kerja mereka.

Lah, kenapa jadi panjang dan lebar begini pembahasannya? Padahal tadinya Cuma mau mengucapkan selamat ulang tahun saja. Untuk topik citra, media, dan politisi mungkin saya akan sambung di lain kesempatan. Tapi intinya bahwa Pakde Joko Widodo berhasil membuat citranya menjadi lebih dekat dengan masyarakat, mengayomi dan juga lebih down to earth. Masih banyak kerjaan yang menanti beliau kedepannya. Pun ditahun ketiga ini sudah banyak capaian kinerja yang dihasilkan oleh pemerintah dibawah kepemimpinan beliau. Selamat ulang tahun pakde, panjang umur dan sehat selalu.

 

***

 

Beberapa sumber bacaan dan kutipan ;

1. Arif Budiman. Media massa dan peran strategi dalam pembentukan citra politik. https://arifbudimandepok.wordpress.com/2013/12/03/media-masa-dan-peran-strategi-dalam-pembentukan-citra-politik/

2. Arman Dhani. Bagaimana Jokowi Menjual Citra. https://tirto.id/bagaimana-jokowi-menjual-citra-clCc

3. John Corner and Dick Pels. Media and the Restyling of Politics: Consumerism, Celebrity and Cynicism

You may also like

1 Comment

Leave a Reply