Menyimak Pos Ronda dan konsep satir di Indonesia.

Ketika pintasan halaman Pos Ronda muncul di linimasa, saya tidak pernah menganggapnya serius. Apakah memang benar ada yang mengkonsumsi berita seperti itu? Rupanya banyak yang salah langkah dan menanggapinya dengan serius. Apakah konsep satir begitu susah diterima di Indonesia?

radioholicz-posronda2

Ketika kebijakan mengenai himbauan berhemat untuk pegawai negeri sipil yang dikeluarkan oleh Menpan, semua orang terhenyak. Berita ini makin simpang siur ketika banyak orang yang membagikan tautan berita dengan judul ” Hemat Air, MenPAN-RB Diminta Hanya Perbolehkan PNS Mandi Seminggu Sekali” (tayang 5 Desember 2014)[1], ramailah seluruh jagad facebook dengan beraneka rupa komentar. Belum lagi ketika salah satu situs partai yang terkenal dengan berita ajaibnya, memuat berita yang sama dengan konteks yang berbeda. Anehnya semua orang lantas percaya. Seringnya orang-orang hanya melihat sepintas judul berita tanpa membacanya dengan lengkap, apalagi sampai bagian akhir dengan tulisan,

DISCLAIMER – POS RONDA adalah situs yang berisikan tulisan, artikel, dan cerita yang dibuat dan disusun sebagai KARYA FIKSI, bersifat SATIR, dan berfungsi sebagai HIBURAN.

Tapi apa sebenarnya makna satir itu? Menurut KBBI satir adalah gaya bahasa yg dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang; 2 sindiran atau ejekan. Jadi dibutuhkan logika lebih untuk mencerna jenis tulisan seperti ini. Satu hal yang menarik adalah hubungan antara jurnalisme dan satir sudah berlangsung sejak lama. Bahkan Molly Ivins, seorang kolumnis dari Texas berkata,

“Satire is the weapon of the powerless against the powerful. If you cannot beat them and you do not want to join them – mock them.”[2]

Andrew Chadwick dalam buku The Hybrid Media System: Politics and Power menyebutkan sistem media yang terkoneksi satu sama lain terbangun dari konsep logika media baru dan lama. Dimana logika ini didefinisikan sebagai teknologi, genre, norma, bentuk organisasi yang akhirnya berhubungan dengan konteks media dan politik. Melalui tagline ”Indonesia’s Political Infotainment”, maka bisa dipastikan materi di Pos Ronda berkaitan dengan suasana politik di Indonesia. Ada banyak genre dan norma yang didobrak oleh Pos Ronda dan tidak seperti acuan media massa pada umumnya.

Beberapa berita di halaman utama
Beberapa berita di halaman utama

Banyak sindiran yang dilontarkan oleh Pos Ronda yang bisa membuat kita tersenyum atau melihat sudut pandang lain ketika menilai satu berita. Polemik posisi Budi Gunawan misalnya diumpamakan sebagai cerita transfer pemain di lapangan hijau[3], atau tentang kebijakan hukuman mati yang membuat beberapa duta besar menarik delegasinya di Indonesia.[4]

Beberapa media asing membuat gaya satir sebagai sarana untuk menyindir kebijakan pemerintah atau berbagai isu sosial yang terjadi. Tokoh yang paling terkenal tentu saja Jon Stuart dengan The Daily Show, sedangkan di Mesir tesebutlah Bassem Youssef membuat komentar politik mengenai proses revolusi Mesir, serta majalah El Gran Wyoming di Spanyol yang memuat berbagai berita yang tidak ditampilkan oleh media massa yang dikuasai oleh segelintir orang.

Bisa dikatakan beberapa media tersebut berhasil untuk bersuara lantang dan menyindir beberapa kebijakan pemerintah. Apa Pos Ronda berhasil mengusung misi yang sama? Belum ada data yang pasti. Pintasan halaman Pos Ronda biasanya muncul ketika berkaitan dengan calon presiden, atau kebijakan negara yang lain. Konsep satir di Indonesia juga rasanya masih belum terlalu familiar. Apakah karena konteks budaya kita yang terlalu sopan?

Faktor lain yang juga menarik diperhatikan adalah salah satu jenis berita satir adalah yang berupa ”fake news” yang mengandung unsur komedi. Biasanya berita ini yang paling bias dan bisa berujung kemana-mana. Menurut situs Banalitas[5], konsep satir Satir seharusnya dinilai gagal kalau tidak jelas bahwa ia hanya berita yang dibuat-buat. Toh manteranya adalah “membuat ketawa, lalu berpikir”—kalau yang membaca betulan tertipu, ya blas tidak akan dibuat berpikir, dan bahkan ketawa pun dia belum tentu.

Kemudian teringatlah saya pada postingan Saya Benci Ridwan Kamil[6] kepunyaan Daeng Gassing, salah satu blogger Makassar yang sebenarnya menuliskan keluhan tentang Walikota Makassar dengan perbandingan semua hal positif Ridwan Kamil. Ternyata tidak semua orang bisa melihat lebih jauh sarkasme terselubung tersebut, malah menuduh Daeng Gassing (atau biasanya dipanggil Daeng Ipul) sirik dengan kemajuan kota Bandung. Silahkan buka dan telusuri seluruh halaman komentar di postingan tersebut, anda bisa menyimpulkannya sendiri.

Apakah konsep satir belum bisa diterima di Indonesia? Rasanya pertanyaan tersebut masihlah berjalan panjang. Selama Pos Ronda masih terus bersuara untuk memperlihatkan sisi alternatif peristiwa yang headlinenya bisa dilihat di semua media massa Indonesia. Mari ngeronda!

 

 

*catatan kaki*

[1] http://posronda.net/2014/12/05/hemat-air-menpan-rb-diminta-hanya-perbolehkan-pns-mandi-seminggu-sekali/

[2] http://www.aljazeera.com/programmes/listeningpost/2014/10/satire-mocking-news-lampooning-power-201410413106375909.html

[3] http://posronda.net/2015/01/15/jadi-rebutan-budi-gunawan-masuk-kandidat-hot-transfer-tahun-ini/

[4] http://posronda.net/2015/01/20/protes-warganya-diburu-kerajaan-nyamuk-tarik-dubes-dari-indonesia/

[5] http://www.banalitas.org/2013/09/30/satir-masihkah-ada-manfaatnya/

[6] http://daenggassing.com/2015/01/08/saya-benci-ridwan-kamil/

You may also like

4 Comments

  1. Konsep satir tidak banyak dimengerti oleh masyrakat Indonesia. Sebut saja data saya tidak valid, tapi bahkan sarkasme saja masih tidak dipahami dengan baik. Lupakan soal akun partai ajaib itu. Bahkan foto kreatif jaman Pilplres 2014 karya Agan Harahap pun tersebar sebagai berita oleh banyak orang.

    Mungkin kebiasaan humor masyarakat Indonesia sudah lebih sering terlatih dengan komedi slapstick, sehingga humor satir dan sarkas yang notabene tidak bisa ditelan mentah-mentah membuat otak mereka meradang sebelum mencernanya sempurna.

Leave a Reply