Jokes yang tidak pada tempatnya

Ketika melihat status beberapa teman Facebook dan twit mereka, saya sering berpikir, isi kepala mereka apa yah? Kok bisa-bisanya mereka berkomentar untuk sesuatu yang sensitif seperti itu?

Karikatur di Lintas Berita Malaysia. Sumber : MetroNews

Ini kita berbicara tentang apa memangnya? Tentang gempa yang melanda Jepang. Tentang tsunami yang menewaskan banyak orang. Tentang katanya reactor nuklir yang mengalami ledakan. Dan juga bagaimana sikap dan prilaku Jepang pasca bencana. Mereka setidaknya lebih baik dari kita, bangsa Indonesia, yang bahkan berpikir pun terkadang bisa seenaknya saja.

Beberapa twit dan status yang bermasalah itu adalah,

“Astaga, Jepang gempa! Bagaimana kabar Miyabi yah?”
“Coba kalau pintu kemana sajanya Doraemon bisa dipakai, pasti semuanya selamat”
“Kalau gempa lagi, bagaimana nasib Sinchan selanjutnya?”

Jeez, ada apa dengan isi kepala kalian hey orang-orang! Setidaknya kalau memang tidak bisa bersimpati atau melakukan sesuatu, setidaknya janganlah mengatakan sesuatu yang bodoh. Apalagi kalau hal itu bisa mengundang reaksi dari banyak orang. Sedikit saja coba berpikir, seandainya kita yang berada di posisi tersebut, apakah memang masih bisa tertawa?

Saya selalu merasa miris dengan beberapa orang yang menganggap joke-joke seperti ini menjadi suatu hal yang biasa. Okelah, saya mengakui bahwa saya pernah berada di posisi tersebut, menjadikan sesuatu menjadi bahan lucu-lucuan tanpa berpikir apa dampaknya bagi orang lain. Sampai suatu saat, saya mendapat tamparan, ketika masih sering menggunakan Autis sebagai bahan dan kosakata dalam pergaulan.

“pernahkah kau berpikir, setidaknya satu kali saja. Ketika Adik, atau anakmu nanti yang mengalami Autis?”

Sebuah pernyataan sederhana. Bagaimana seandainya saya berada di posisi mereka? Apakah saya sanggup melewatinya? Apalagi saya tahu bagaimana perjuangan orang tua dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sedangkan saya semudah itu menjadikannya sebagai bahan lelucon?

Secara tidak sadar ada banyak diantara kita yang terbiasa menggunakan “kekurangan” orang lain sebagai bahan joke yang murah meriah. Mulai dari masalah berat badan, orientasi seksual, sampai bentuk tubuh. Semuanya menjadi sesuatu yang alamiah. Kenapa bisa? Inilah kultur yang berkembang dalam keseharian. Proses bully yang terjadi semasa sekolah, pun akhirnya terus berlanjut sampai bebrapa tingkat kehidupan. Pun media, seperti beberapa tayangannya, turut mendukung budaya ini. Betapa tidak jarang kita ikut tertawa ketika lawakan tentang hal-hal ini diluncurkan. Salahkah kita?

Saya bukan Tuhan yang menjawab benar dan salah. Tetapi cobalah sekali-kali berpikir berada di posisi orang-orang dengan “kekurangan” tersebut. Bagaimana rasanya fight dengan semua perbedaan kemudian menyadari bahwa itu sesuatu yang sama sekali tidak lucu, dan menjadi joke yang salah tempat. Silahkan bercermin sendiri, masihkah anda melakukannya?

You may also like

11 Comments

  1. saya sering menyindir orang2 yg menjadikan bencana potensi utk jokes, biar mereka sadar. tipikal indonesia, ketika temannya jatuh, bukan dibantuin tapi dketawain.

  2. saya setuju klo ada musibah atau penyakit lalu dijadikan jokes..tp klo jokes ttg fisik itu kan tergantung kedekatan dgn orangnya.., klo dah dekat ya biar jokes apapun ttg diri ya tetap jokes aja..no hurt feeling..ya kan papa beruang..? hihi

    1. Iya.. kejelekan orang dianggap lelucon, emang lucu sih tapi lama kelamaan kok jadi aneh gitu jelek2an orang. Walau yang diejek nggak apa2 diejek, tapi tetap aja menjelekkan orang. jadi eneg..

Leave a Reply