Kepada M, tentang jejakjejak.

Kepada M, tentang jejakjejak.

Halo M, saya yakin kamu masih terlelap saat ini. Membalaskan sisi nocturnal yang kian membuas, yang hanya bisa dilampiaskan ketika hari libur tiba. Tahukah kau dimana saya berada sekarang? Menjadi bagian dari orang-orang yang berjalan, berpisah, mencoba mengejar pesawat di subuh hari.

Sebenarnya saya tidak pernah menyukai first flight, menghabiskan sebagian pikiran untuk tetap sadar, menyetel alarm, dan kemudian berpacu dalam lengangnya jalanan. Tetapi dibalik semua eskalasi ketegangan itu, yah tidak ada yang menyamai keadaan di ruang tunggu keberangkatan. Tentunya kau pun pernah berada di tempat ini. Aneh yah M, ketika kita bisa merasa rapuh dan kuat di saat yang bersamaan. Melepaskan kehilangan ataukah mencoba mencari mimpi yang terjejak di tempat lain.

Image by http://vi.zualise.us
Image by http://vi.zualise.us

Terakhir kau bercerita dan bertanya bagaimana tahun ini akan berjalan, dan resolusi apa yang akan kita ancang-ancang sebelum tahun baru tiba. Percakapan yang seolah menjadi basi ketika melihat kembali set-list do and don’t yang kita buat setahun sebelumnya. Ada yang terlaksana, ada yang harus dikompromi dan bahkan ada beberapa kebutuhan tambahan yang datang secara tiba-tiba.

Saya juga mencoba melacak kembali jejak-jejak itu M, jejak optimis dalam membuat rencana. Saya tidak ingin berkilah dalam frase, “toh Tuhan juga yang menentukan”, tapi bagaimanapun semua rencana itu merupakan akumulasi dari semua persiapan dan keinginan. Mungkin momentum terbesar saya tahun lalu adalah mendapatkan kesempatan untuk sekolah lagi. Kaupun sudah mengetahuinya M, bahwa ada alasan yang membuat saya harus berjalan sejauh itu. Untuk menemukan satu jawaban lagi. Bukankah hidup memang serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang terkadang terasa menjemukan?

“Ataukah justru semestinya pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan tidak terjawab?”

Keheningan yang menyeruak dari ruang tunggu keberangkatan terkadang terasa mencekam. Ketika mengingat semua kemungkinan-kemungkinan bisa terjadi. Apakah kita bisa menggantinya dengan kata harapan? Dengan bermodalkan semangat saja, apakah esensi harapan itu akan terwujud? Entahlah M, saya juga masih berusaha sekuat tenaga mencernanya.

Perjalanan tahun lalu bisa jadi sangat menarik. Ketika persoalan hati (masih) menjadi persoalan besar. Bagaimana sebuah hubungan harus diakhiri dan bagaimana pertanyaan klasik itu berulang kembali di penghujung tahun. Di malam natal, di tengah hiruk pikuk mereka yang menyanyikan kidung dengan khidmat, suaranya masih terdengar jelas di kepalaku.

“Seberapa jauhkah kau berani untuk menjalani komitmen?”

Sebuah pertanyaan yang menghentak, ketika ternyata egois masih sangat mengakar. Menimbang dan berkilah bahwa bahagia ingin dikecup sendiri, tanpa harus memikirkan perasaan orang lain. Saya tahu kau sangat membenci laku seperti ini M, tapi entahlah. Sayapun belum siap untuk sakit (lagi)dan terlibat dalam semua ketidakpastian emosi tentang hubungan. Padahal perkataannya pun malam itu sangat jelas. Bahwa lebih baik menyisipkan dan menikmati bahagia yang ada di depan mata daripada tenggelam dalam ketakutan yang bahkan terasa tidak nyata.

Saya merasa kalah sekali lagi.

Bukankah hidup itu merupakan perayaan kemenangan-kemenangan dan kekalahan-kekalahan kecil? Semua larut dalam konsekuensinya masing-masing. Harga untuk kekalahan itu adalah tenggelam dalam kesunyian. Sebuah tempat yang anehnya terasa familiar untuk kita, melihat dunia dari kotak kaca. Semua kesunyian itu akhirnya terpatahkan oleh sebuah perkataan lain, hanya dalam sepekan. Perkataan seorang asing yang mengingatkan bahwa ada waktunya kita menunggu.

Seperti mereka yang menunggu di ruang tunggu bandara, saya pun hanya bisa membiarkan roda hidup juga terus berputar. Sambil menyiapkan semua rencana, menunggu pun rasanya tidak apa-apa. Ada bagian hidup yang akan terasa konstan, tetapi menyiapkan hati lagi adalah jalan terbaik. Siap untuk menjalani tahun baru yang katanya harus diisi dengan optimisme yang baru.

Selamat merayakan kehidupan M, mari menghancurkan kotak kaca kesunyian itu.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.