Browsed by
Category: Stockholm

Tentang Swedia : Mencoba Surströmming.

Tentang Swedia : Mencoba Surströmming.

Membutuhkan waktu setahun penuh untuk mengumpulkan keberanian mencoba makanan yang dianggap paling berbahaya di Swedia. Bahkan bagi sebagian teman kelas mengernyitkan dahi ketika mengetahui kegilaanku ingin mencicipi penganan tersebut. Apakah sebenarnya Surströmming ini?

Setahun lalu ketika mencari informasi tentang Swedia, semua situs pencarian setidaknya mereferensi Surströmming sebagai sesuatu yang sangat Swedish. Apa istimewanya sepotong ikan yang dimakan bersama potongan kentang, roti dan aneka taburan lainnya? Jawabannya adalah karena baunya yang sangat tajam. Bukan seperti aroma durian yang menyengat tetapi sesuatu yang telah busuk dan rusak (rotten) dalam bahasa makanan.

Penampakan Surströmming
Penampakan Surströmming

Video singkat dari kanal Why Would You Eat That menjelaskan secara sederhana menjelaskan mengapa Surströmming mempunyai aroma yang sangat tajam. Singkat cerita, para nelayan mencampurkan banyak garam dalam tumpukan ikan untuk memperlambat proses pembusukan dan masih layak dikonsumsi. Ikan ini kemudian dimasukkan kedalam kaleng sehingga proses oksidasi dan fermentasi gas masih terus terjadi sehingga aroma menjadi 10 kali lipat.

Seperti apa sih aromanya? Penasaran ini yang membuat saya semakin ingin mencoba Surströmming. Bayangkan saja, banyak aturan bagaimana kita bisa menikmati penganan ini. Terutama ada aturan yang mengatakan bahwa saking tajamnya aroma Surströmming sampai digunakan untuk menjadi bom bau di sekolah-sekolah (dulu kita menggunakan telur ayam busuk). Kita tidak boleh membukanya dalam apartemen karena baunya akan melengket di furnitur rumah dan tetangga flat akan menelpon pemadam kebakaran untuk mencari sumber bau tersebut.

Read More Read More

Hello, September!

Hello, September!

Apa yang lebih menyenangkan daripada mendengarkan rintik hujan di minggu pagi? Jawabannya mungkin semangkuk bubur menado dengan ikan asin dan sambal yang pedas. Oke, mari singkirkan angan-angan tersebut sebelum menjadi momok yang lebih menakutkan dibandingkan bacaan saya akhir pekan ini.

Hello, September!
Hello, September!

Jangan bayangkan bacaan novel yang telah tertunda beberapa pekan untuk diselesaikan. Hari ini saya harus berhadapan dengan August Comte dan konsep positivistik miliknya. Kurang canggih apa lagi coba hidup saya sampai saya tidak menyadari bahwa 5 hari telah berlalu dari bulan September.

See you again, sweet summer!
See you again, sweet summer!

Dalam perjalanan menuju Skogås kemarin sore, seketika saya berpikir panjang. Kenapa akhir-akhir ini waktu seakan berlari? Apa karena saya terlalu menikmati seluruh aktivitas di Stockholm? Atau saya yang tidak bisa menyelesaikan semua ritme kegiatan yang diprioritaskan? Hari Jumat lalu saya akhirnya memberanikan diri untuk menuliskan semua jadwal kuliah normal dan kuliah tambahan di dalam buku biru. Jadwal itu kadang jadi bumerang yah. Di satu waktu bisa membantu untuk menjadi pengingat, lain kesempatan bisa menjadi beban karena melihat banyaknya jadwal yang padat merayap. Belum lagi jadwal bacaan, kelas berenang, latihan menari saman, koordinasi dengan PPI, dan masih banyak lagi.

Tunggu dulu, koordinasi dengan PPI?

Read More Read More

Setahun di Skandinavia.

Setahun di Skandinavia.

“Time you enjoy wasting is not wasted time.”

― Marthe Troly-Curtin, Phrynette Married

Setahun-1

20 Agustus selalu menjadi waktu yang istimewa. Selain satu tanggal spesial di bulan Oktober, mungkin kelak tanggal ini menjadi penanda sentimental bahwa ada fase hidup yang baru dimulai. Ketika saya harus menyesuaikan diri dengan banyak hal baru di Stockholm. Sebuah tempat yang kemudian saya anggap rumah kesekian.

Ketika bertemu dan berkenalan dengan orang baru, entah itu ketika sedang pub crawling atau jelajah kota, pertanyaan kenapa saya memilih Stockholm masih sering terlintas. Tentu saja jawaban standar saya adalah mengapa tidak? Mengapa harus memilih kota-kota yang telah populer untuk belajar dan mempunyai banyak diaspora masyarakat Indonesia? Saya sendiri ingin merasakan pengalaman dari sudut pandang orang pertama.

Bagaimana rasanya terekspose suhu minus 25 derajat?
Bagaimana rasanya menyiasati cuaca yang berubah menjadi kelabu?
Bagaimana rasanya memakan surströmming?
Bagaimana rasanya masuk dalam lintas pertemanan masyarakat Swedia yang begitu dekat?

Read More Read More

Kartupos-kartupos.

Kartupos-kartupos.

Mungkin saya harus berterima kasih kepada Rara yang mengenalkan saya kepada rasa candu pada kartu pos. Sebuah sensasi yang menarik ketika menerima sebuah lembaran dengan cap pos dari negara berbeda. Saya lupa kartu pos pertama saya berasal dari mana, tapi setiap kali dia plesiran ke negara-negara berbeda, beberapa teman di Komunitas Blogger Anging Mammiri cukup beruntung untuk mendapat sebuah kartu pos selain buah tangan lainnya.

Beberapa koleksi kartu pos dari Jepang, Chicago, San Sebastian.
Beberapa koleksi kartu pos dari Jepang, Chicago, San Sebastian.

Pengalaman korespondensi saya hanyalah sebatas sahabat pena yang dulu begitu tenar sewaktu duduk di bangku SD. Satu-satunya teman pena yang sempat beberapa kali berbalas surat berasal dari Sumatra Utara. Entahlah apa kabarnya sekarang. Saya kehilangan kontaknya karena satu-satunya arsip surat harus rela dibuang karena tersapu banjir yang rutin menyambangi rumah kami beberapa tahun silam.

Perjalanan imajinasi bersama kartu pos dari Rara seakan ikut dalam cuplikan ceritanya di Jepang, Polandia, Paris, dan beberapa negara lainnya. Akhirnya melalui selembar kartu itu saya berani bermimpi bahwa kelak akan ada waktu dimana saya bisa menginjakkan kaki di negara-negara tersebut. Ternyata semesta mendengarnya. Siapa yang menyangka saya bisa berfoto di depan menara Eiffel juga?

Kartupos menjadi barang nyata bahwa sebuah dunia bisa terjelajahi melalui sebuah benda nyata. Kita bisa melihat atau mencari informasi dengan cepat melalui bantuan internet. Tetapi ketika melihat potongan cap pos dari sebuah kartu pos, rasanya ada sesuatu yang terasa sangat personal. Sesuatu yang sangat nyata dan ada.

Berjalan ke beberapa negara, saya selalu menyempatkan untuk mengirimkan kartupos untuk beberapa sahabat atau kepada bapak dan ibu dan rumah. Seorang teman pernah menyatakan keheranannya mengapa saya mau mengelurkan uang sedemikian banyak untuk mengirimkan kartupos ke Indonesia? Di Amsterdam hampir 20 kartupos terkirim untuk beberapa teman. Saya sendiri berpikir bahwa rasa senang ketika menerima kartupos tidak bisa terbayangkan. Ketika berada di posisi orang yang bisa mengirimkan benda tersebut, mengapa tidak? Mungkin tahun-tahun kedepan saya kembali menjadi barisan penerima kartupos.

Untuk menandai waktu setahun saya di Stockholm, ada 5 kartupos dari Stockholm yang akan saya kirimkan kepada 5 orang yang memberi komentar pertama di postingan ini dan dua jejaknya di postingan yang lain. Semoga beruntung!