Browsed by
Category: Ordinary Day

#Day 2 – Surat untuk masa depan.

#Day 2 – Surat untuk masa depan.

Entah sejak kapan ketika membuat rencana bepergian, hal yang selalu diutamakan adalah kuliner atau penganan lokal. Dahulu setiap mendapat dinas ke Jakarta, maka bisa dipastikan Es Krim Ragusa adalah salah satu tempat yang harus dijabani. Begitu pula ketika bertandang ke kota lainnya, rasanya selalu istimewa ketika mencoba berbagai makanan berbeda. Apa yang bisa dinikmati ketika berpetualang ke gang aut di Bogor?

Kebiasaan itu kemudian terus berlanjut kala saya melanjutkan petualanganku di benua Eropa. Dari beberapa negara yang saya kunjungi, salah satu hal yang tidak boleh terlupa adalah pasar tradisional dan makanan lokal. Alasan saya karena di dua hal itulah kita bisa menikmati esensi lokal sebuah tempat. Ketika berinteraksi dengan para penjual, atau sekadar melihat keseharian orang-orang. Sampai sejauh ini yang menjadi favoritku adalah suasana pasar di Riga juga nikmatnya goulash di Budapest.

Berbagai penganan lokal di Salu Hall, Stockholm
Berbagai penganan lokal di Salu Hall, Stockholm

Sampai kemudian saya tiba di satu titik dan bertanya pada diri sendiri,

”Mengapa saya tidak pernah mengapresiasi makanan lokal sendiri? Mengapa saya tidak pernah memuja atau mencari cucuru bayao ataupun barongko seperti orang lain?”

Read More Read More

#Day 1 : My current relationship.

#Day 1 : My current relationship.

Single.

Singkat, padat, dan jelas.

Pilihan ini diambil tanpa tekanan apapun dan siapapun karena mengingat status saya yang berada jauh seperdua lingkar bumi dari Indonesia. Dulunya saya adalah orang yang percaya bahwa cinta bisa mengalahkan rentangan jarak dan bilangan waktu yang berbeda. 2 kali menyandang status #pejuangLDR menyadarkan bahwa esensi percakapan dan emosi yang disalurkan melalui ruang nyata selalu lebih sehat ketimbang salah paham yang terus terjadi melalui pesan teks.

12

Medio tahun 2014 saya bertemu dengan seseorang yang membuat kehidupan stagnan belajar bahasa inggris menjadi lebih menyenangkan. Selalu ada alasan untuk pergi mengunjungi lembaga bahasa tersebut selain tenggelam dalam tes ielts atau persiapan kuliah. Seluruh teman kelas sempat menyorakiku untuk mengajaknya berkencan dan melihat peluang kedepannya. Saya sendiri menolak dengan tegas karena mengetahui dalam bilangan bulan toh saya sudah berada di Swedia. Bukannya tidak mau berjuang untuk cinta (tsah), tapi kala itu saya tidak mempunyai bayangan akan seperti apa ritme hidup di Stockholm.

Menjalani keseharian sebagai pejuang tunggal di Stockholm yah berarti membuka kesempatan untuk berkenalan dengan orang baru, atau terjebak dalam kesunyian di tempat yang asing. Beberapa bulan pertama saya habiskan dengan pub mingle sampai ikut berpartisipasi sebagai relawan film. Toh pikirku semakin banyak networking maka semakin banyak pula juga kesempatan untuk bertemu dengan ”jodoh masa depan”.

Read More Read More

Februari menulis.

Februari menulis.

FebruariChallenge

Entah sejak kapan menguraikan 800 kata menjadi sesuatu yang memberatkan. Selama setahun terakhir bisa dibilang jumlah postingan saya hanya berjumlah seadanya saja. Paling sering yang dijadikan alasan adalah karena waktu yang tidak memungkinkan. Belajar sambil menulis menjadi sesuatu yang merepotkan. Padahal satu kata yang paling cocok menjabarkannya, ya malas. Titik. Tidak usah mencari pembenaran lagi.

Ternyata hal ini menjadi bumerang yang sakti kala menulis paper atau tesis. Rasanya sulit mencari atau merangkai kata menjadi kalimat yang hidup. Padahal benar kata pepatah lama, bisa karena biasa. Percuma saja mempunyai seribu hal hebat di dalam kepala kalau tidak pernah dikeluarkan. Sepercuma mempunyai banyak konsep dan ide kalau tidak ada yang pernah dieksekusi.

Ide menantang diri sendiri kemudian terlontar ketika dalam satu sesi berenang. Kepalaku rasanya selalu menjadi lebih jernih ketika berada dibawah air. Mungkin karena ketika berenang, otak saya memberikan instruksi yang jelas dan fokus kepada seluruh anggota tubuh untuk bergerak dan mencegah diri tidak tenggelam. Sudah lama saya tidak menantang diri sendiri seperti ini lagi. Sekaligus mari membenahi tentang komitmen dari sekian banyak cerita yang hanya berakhir di konsep semata. Bukankah salah satu mimpi saya adalah membuat nukilan atau buku tentang hidup di Skandinavia? Kapan saya akan memulainya?

Lalu, kita harus menulis tentang apa?

Saya bertemu dengan tautan ide ini dari pinterest yang berasal dari postingan tumblr yang kemudian saya publish melalui blog *halah*. Dari sekian banyak ide postingan serupa, tampaknya urutan tantangan ini meliputi cerita masa lalu, saat ini dan masa depan. Rasanya nikmat membayangkan seluruh cerita yang akan tumpah selama bulan Februari esok.

februarichallengetopics

Silahkan kalau ingin berpartisipasi atau ingin menantang diri sendiri bersama saya. Karena sebaik-baiknya cerita adalah yang dituliskan kemudian dibaca oleh orang lain. Embrio ide itu juga mempunyai hak untuk hidup dan menikmati kebebasannya.

Selamat menulis, tuan beruang.

Mencari kehilangan.

Mencari kehilangan.

Tidak ada yang menyangka November akan melaju seperti ini. Seperti merayakan sebuah ketergesaan dalam balutan waktu yang seolah tidak ingin menunggu. Barisan hujan yang turun di akhir November menjadi penanda lain, sampai sejauh mana saya berjalan sejauh ini? Apa yang saya dapatkan selain pelukan dingin di minus 7 derajat? Apa saya telah melakukan yang terbaik?

Halo, November
Halo, November

Ketika di penghujung hari saya selalu bertanya mengapa fokus sepertinya menjadi kelemahan? Semangat yang dulu berkoar untuk dikeluarkan entah padam di persimpangan yang mana. Kelebihan energi disalurkan dengan dalih kegiatan demi kegiatan yang pada akhirnya mengantarkan pada pertanyaan,

”Untuk apa”

Okelah, tidak semua manfaat bisa dirasakan seketika. Beberapa hal membutuhkan proses untuk dicerna dan diolah menjadi kenangan. Saya hanya berharap kerja keras untuk meluangkan waktu bekerja di Stockholm Film Festival tahun ini bisa terbayar dengan senyum yang cerah di keesokan hari. Bukannya apa, semua kegiatan seolah menumpuk di bulan November. Selama 10 hari festival, bahkan saya tidak mempunyai waktu untuk menonton satu film pun! Apalagi ketika bekerja selama 10 jam berturut-turut.

Well. Capek.

Walaupun tahun ini jam kerja tidak sepadat tahun lalu, tetap saja kok rasanya shift tahun ini justru yang paling menguras energi?

Read More Read More