Tamu tak diundang.

unwanted-guestsSejenak pikiran saya terbawa kedalam adegan sebuah film atau cerita pendek. Dimana seorang bos yang mengendap-ngendap keluar kantor. Dan ceritanya sang bos hampir ketahuan karena tamu tak diundang dan karyawan yang tidak bisa berakting. Seperti itulah kejadiannya. Cuma, saya yang menjadi tamu tak diundang itu.

Jadinya kemarin saya hanya membiarkan saja adegan itu terjadi. Tanpa berniat menggagalkan rencana sang bos untuk menghindari saya. Walaupun sang resepsionis sudah saling tertawa di depanku. Saya bersikap tidak tahu apa-apa saja. Karena memang saya yang salah. Bertamu dengan tidak membuat janji terlebih dahulu. Jadi wajar saja kalau sang bos ingin pergi dan menghindari saya. Semua orang pernah berada di dalam posisi ini sebenarnya kan?

Sebelum itu saya juga sudah kecele duluan. Percetakan tujuan saya memang ada 2, yang pertama malah lebih parah. Setelah sms an bahwa ada kerjaan yang masih belum kelar, maka saya memutuskan untuk pergi saja ketempatnya. Asumsi saya karena sudah sms an seperti itu, maka dia sudah berada di kantor untuk menyelesaikannya. Saya pun menempuh jarak sedimian jauh untuk membelah kota dan bergegas ke tempatnya. Bagaimanapun juga jarak Antang – Mappodang bukan jarak tempuh yang lumayan jauh, dan apa yang saya dapati?

Desainer tersebut belum ada di kantor! Mampus! Padahal saya sudah memacu kendaraan sedemikian rupa, supaya bisa bolak balik dalam sejam. Saya cuma menemui mejanya yang kosong dan sambutan karyawan yang lain. Hanya satu pertanyaannya yang mampu meluluhlantakkan saya.

“Memangnya sudah janjian?”

Aargh! Mau marah, marah sama siapa? Apalagi saya dalam taraf mengelola emosi dan berusaha untuk tidak mengeluarkan energi negatif dan sumpah serapah. Toh dalam hal ini memang saya yang salah.

Sebenarnya hal ini menjadi suatu sangat sederhana. Bagaimana sebuah janji bisa berarti banyak. Bagaimana sebuah sms konfirmasi bisa membuatmu tidak membelah kota Makassar seperti orang gila dan mempunyai tamu tak diundang.

Akhirnya saya melajukan motor kembali ke Antang. Tidak menyalahkan siapa-siapa. Hanya membuat sebuah catatan kecil, sebaiknya janjian dulu sebelum bertemu dengan orang-orang yang sangat penting dan tidak bisa ditemui kapanpun saya mau. Sekian.

Continue Reading

Fokus.

Sebenarnya pikiran saya secara tidak langsung berkontemplasi lagi selama akhir pekan ini. apa sebabnya? Saya tidak bisa mengikuti Renstra Komunitas Ininnawa yang dilakukan di Markas PayoPayo yang terletak di Maros. Beberapa teman sudah mewanti-wanti untuk ikut, tapi adalah daya. Hujan dan banjir sepanjang sabtu kemarin membuat saya tidak bisa kemana-mana. Otomatis hanya berdiam diri sambil mengerjakan tugas yang lain dikamar.

Ada setitik rasa bersalah dan ada rasa pembelaan yang tiba-tiba keluar dikepala saya mengenai perihal renstra ini. Here we go again. Begitu saya membahasakannya. Ketika tiba-tiba beberapa hal menjadi sangat penting untuk diperdebatkan dari beberapa sisi. Apa sebenarnya yang saya cari ingin ikut Renstra ini? Semacam pengakuan bahwa saya anggota komunitas? Atau memang saya peduli? Atau apa?

Sejenak sebuah celetukan dari senior di kampus teringat kembali sewaktu saya berkontemplasi ini,

“Sudahlah, berhentilah berkomunitas. Bukankah sekarang duniamu sudah lain dari lari dari situ?”

Seketika saya mendapat tamparan dan pencerahan di saat yang sama. Tentu saja pembelaan yang ada terlebih dulu. Bekerja di plat merah bukan berarti saya harus meninggalkan komunitas yang telah menjadi rumah saya yang kesekian. Meninggalkan identitas dan orang-orang yang pernah menjadi bagian hidup saya. Sekaligus juga saya menyadari bahwa memang peran saya sudah tidak bisa sebesar dulu lagi. Ada kewajiban lain yang harus saya penuhi. Ketika sekarang terlibat terlalu dalam, suatu saat ketika harus memilih pasti akan lebih sulit.

Nah sekarang pertanyaan muncul, apa yang sebenarnya saya cari dengan semua komunitas itu? Saat ini keluarga kecil saya bertambah. Komunitas pecinta Fiksi Mini Makassar. Kami layaknya sebuah teman yang akrab, saling menyapa dan saling mendukung. Memang masih kagok, tapi inikan baru awal pertemanan. Entah sampai kapan akan terus bertahan. Kami masih penuh semangat. Melakukan kelas ini dan kegiatan itu. Belum lagi dari Komunitas Blogger Makassar yang jadwal kegiatannya (termasuk kpdar) juga termasuk padat. Dengan kesemuanya itu, apa yang sebenarnya saya cari?

Sebuah pertanyaan retoris sebenarnya. Saya sudah mengetahui jawabannya. Beberapa kali kegiatan kantor saya bentrok dengan kegiatan komunitas tersebut. Apa daya saya harus memilih kegiatan kantor. Ini sudah pasti, walaupun awalnya berat membayangkan betapa teman-teman sedang tertawa dan saya harus berjibaku dengan pekerjaan. Tapi itulah asyiknya. Ketika saya pelan-pelan memutuskan untuk belajar berdewasa dalam memilih dan merelakan sesuatu.

Tapi yang menjadi pertanyaan besar selanjutnya, apakah memang ini pekerjaan yang akan saya tekuni sampai akhir hayat nanti? Itu dia pertanyaannya sudah keluar. Karena jujur saja, selama setahun ini saya sudah menjalani dan melihat bagaimana pola pekerjaannya. Dan tiba-tiba saya merasa stuck, merasa buntu. Oh, hanya itu saja. Tanpa ada kemungkinan untuk mengembangkan diri.

Beberapa teman juga mengatakan bahwa saya memiliki banyak bakat. Apakah memang ini tempat terakhir saya berlabuh? Tiba-tiba galau meraja. Diantara semua pilihan hidup, apakah memang Tuhan sudah menunjukkan jalan dan membagi rezeki saya? Bahwa memang tempat saya disini?

Saya lalu teringat sendiri ketika menasehati seorang sahabat, bahwa banyak orang yang rela mati untuk berada di posisi saya yang sekarang. Betapa banyak orang yang telah menyogok dengan nilai yang tidak sedikit untuk mendapat nomor induk. Betapa banyak hal yang telah dilakukan oleh orang lain demi masuk di kantor seperti saya. Sementara saya bersyukur tidak harus mengeluarkan biaya sepeserpun untuk itu semua.

Akhirnya semua kontemplasi saya berakhir disini. Ketika saya menutup lembaran akhir buku Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Man Jadda Wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan sukses. Saatnya untuk fokus dengan pekerjaan yang sekarang. Menocba yang terbaik dan ikhlas dalam menjalaninya. Sedangkan semua komunitas itu biarkan sebagai pelengkap. Biarkan sebagai peneman perjalanan. Toh mereka semua telah mengerti bahwa ada kewajiban lain yang mesti saya lakukan dengan pilihan hidup saya saat ini.

Apakah anda telah fokus dengan hidup anda sekarang?

Continue Reading

Minggu Ke 4

Niat untuk hidup lebih baik sudah ada entah dari tahun berapa. Tentu saja hidup lebih baik ini dilihat dari perspektif yang berbeda. Saya bukan pecinta olahraga. Dari jaman sekolah, inilah mata pelajaran yang paling saya benci. Dampaknya pun menjalar sampai sekarang. Ditengah gaya hidup urban, nongkrong sana sini, makan junk food, begadang, dan itu semua tanpa olahraga? Alamat mati muda.

Saya sendiri lebih tertampar ketika melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh di salah satu rumah sakit. Dari 7 dokter yang memeriksa, ada 2 yang terang-terangan berkata,

“Hati-hati dek dengan bobot tubuhmu. Kamu masih muda, nanti bisa rentan dengan banyak penyakit. Terutama jantung dan gula”.

Dulu, perkataan ini bisa saja saya sanggah. Bisa saya sangkal. Tahu apa dokter itu? Saya dulu biasanya menggunakan tameng faktor genetik atau “sudah dari sononya” untuk menangkis vonis ini. sekarang, rasanya sudah tidak masuk akal lagi. Toh ini demi kebaikan saya sendiri.

Jadi disinilah saya sekarang. Bersama salah satu resolusi teranyar untuk tahun 2011 ini. Minggu ini program latihan saya sudah masuk minggu ke 4. Dan dampaknya? Alhamdulillah sudah turun beberapa angka. Kalau nilai awalnya? JANGAN TANYA!

Tahun lalu sebenarnya saya sudah resmi menjadi atlet renang. Dengan latihan 4 kali seminggu. Perasaan sayapun terasa lebih enak. Tapi, yaaa, namanya niat yang setengah-setengah. Selalu saja ada alasan untuk tidak pergi renang. Mulai dari ajakan nongkrong lah, mau nonton lah, ataupun alasan pekerjaan. Semuanya saling terkait satu sama lain. Padahal alasan utamanya sih malas.

Sebenarnya hal menurunkan bobot tubuh dan hidup sehat ini menjadi sederhana saja. Bagaimana mengatur pola makan dan membakar kalori. Sebuah perhitungan dasar yang anak SD pun tahu. Cuma karena memang dari dulunya sudah malas bergerak, jadi yaaa, olahraga menjadi hal terakhir yang mau saya lakukan untuk meghabiskan hari.

Dulu bobot tubuh saya cenderung stabil karena masih banyak jalan kesana kemari. Jarak dari rumah ke halte untuk mengambil pete-pete kampus berjarak 1 kilometer. Belum lagi kalau kuliah harus ke gedung ini, ke akademik, fakultas, dan seabrek kegiatan lainnya. Jalan kaki menjadi olahraga tetap. Lah sekarang? 12 jam di depan computer, praktis yang bergerak dan menjadi otot hanya jari-jari saja.

Jadi saya memutuskan semuanya harus berubah. Sarapan dan makan malam berubah. Seorang teman menyarankan roti gandum. Ini berhasil. Sekerat roti mampu bertahan sampai siang. Intinya hanya mengurangi karbohidrat. Malam hari pun, hanya mencicip sedikit saja nasi. Selebihnya diperbanyak di sayur dan kalau lapar makan roti itu lagi.

Porsi olahraga pun bertambah. Setiap hari lari selama 30 – 45 menit. Lari pagi, sorenya nge gym, sambil latihan angkat beban. Hahahaha. Terdengar sangat bernafsu? Mumpung semangat terus ada dan mau mencoba. Profesi atlet renang pun dimulai kembali. Rabu dan sabtu sore. Jadi porsi latihannya setiap hari lari 2 kilo, sit up 50 kali, dan banyak menu lainnya.

2 minggu pertama menjadi minggu yang paling berat. Lari pagi berarti keluar rumah stengah 6 kurang, pada saat semua orang masih tidur. Tidak bisa nongkrong di bawah jam 6 lagi, karena saya sudah memplot waktu sore sekarang untuk exercise. Sudah tidak bisa diganggu gugat. Belum lagi tanggapan orang kalau makan, dikurangi sedikit saja, semuanya sudah pada komentar. “Alah gak usah diet, bla bla bla”. Yeah. Keep talking people!

Minggu ini sudah minggu ke empat. Masih panjang hari yang akan terjalani, masih banyak target yang harus tercapai. Tapi satu yang pasti, sekarang tiada hari tanpa olahraga!

Image Credit to Sphinxed

Continue Reading