Februari menulis.

FebruariChallenge

Entah sejak kapan menguraikan 800 kata menjadi sesuatu yang memberatkan. Selama setahun terakhir bisa dibilang jumlah postingan saya hanya berjumlah seadanya saja. Paling sering yang dijadikan alasan adalah karena waktu yang tidak memungkinkan. Belajar sambil menulis menjadi sesuatu yang merepotkan. Padahal satu kata yang paling cocok menjabarkannya, ya malas. Titik. Tidak usah mencari pembenaran lagi.

Ternyata hal ini menjadi bumerang yang sakti kala menulis paper atau tesis. Rasanya sulit mencari atau merangkai kata menjadi kalimat yang hidup. Padahal benar kata pepatah lama, bisa karena biasa. Percuma saja mempunyai seribu hal hebat di dalam kepala kalau tidak pernah dikeluarkan. Sepercuma mempunyai banyak konsep dan ide kalau tidak ada yang pernah dieksekusi.

Ide menantang diri sendiri kemudian terlontar ketika dalam satu sesi berenang. Kepalaku rasanya selalu menjadi lebih jernih ketika berada dibawah air. Mungkin karena ketika berenang, otak saya memberikan instruksi yang jelas dan fokus kepada seluruh anggota tubuh untuk bergerak dan mencegah diri tidak tenggelam. Sudah lama saya tidak menantang diri sendiri seperti ini lagi. Sekaligus mari membenahi tentang komitmen dari sekian banyak cerita yang hanya berakhir di konsep semata. Bukankah salah satu mimpi saya adalah membuat nukilan atau buku tentang hidup di Skandinavia? Kapan saya akan memulainya?

Lalu, kita harus menulis tentang apa?

Saya bertemu dengan tautan ide ini dari pinterest yang berasal dari postingan tumblr yang kemudian saya publish melalui blog *halah*. Dari sekian banyak ide postingan serupa, tampaknya urutan tantangan ini meliputi cerita masa lalu, saat ini dan masa depan. Rasanya nikmat membayangkan seluruh cerita yang akan tumpah selama bulan Februari esok.

februarichallengetopics

Silahkan kalau ingin berpartisipasi atau ingin menantang diri sendiri bersama saya. Karena sebaik-baiknya cerita adalah yang dituliskan kemudian dibaca oleh orang lain. Embrio ide itu juga mempunyai hak untuk hidup dan menikmati kebebasannya.

Selamat menulis, tuan beruang.

Continue Reading

Mencari kehilangan.

Tidak ada yang menyangka November akan melaju seperti ini. Seperti merayakan sebuah ketergesaan dalam balutan waktu yang seolah tidak ingin menunggu. Barisan hujan yang turun di akhir November menjadi penanda lain, sampai sejauh mana saya berjalan sejauh ini? Apa yang saya dapatkan selain pelukan dingin di minus 7 derajat? Apa saya telah melakukan yang terbaik?

Halo, November
Halo, November

Ketika di penghujung hari saya selalu bertanya mengapa fokus sepertinya menjadi kelemahan? Semangat yang dulu berkoar untuk dikeluarkan entah padam di persimpangan yang mana. Kelebihan energi disalurkan dengan dalih kegiatan demi kegiatan yang pada akhirnya mengantarkan pada pertanyaan,

”Untuk apa”

Okelah, tidak semua manfaat bisa dirasakan seketika. Beberapa hal membutuhkan proses untuk dicerna dan diolah menjadi kenangan. Saya hanya berharap kerja keras untuk meluangkan waktu bekerja di Stockholm Film Festival tahun ini bisa terbayar dengan senyum yang cerah di keesokan hari. Bukannya apa, semua kegiatan seolah menumpuk di bulan November. Selama 10 hari festival, bahkan saya tidak mempunyai waktu untuk menonton satu film pun! Apalagi ketika bekerja selama 10 jam berturut-turut.

Well. Capek.

Walaupun tahun ini jam kerja tidak sepadat tahun lalu, tetap saja kok rasanya shift tahun ini justru yang paling menguras energi?

Continue Reading

Memulai kembali.

Selalu ada pembenaran untuk semua hal, termasuk menelantarkan radioholicz sampai sebulan lebih. Padahal sepanjang bulan Oktober banyak sekali peristiwa yang terjadi. Oktober akan selalu menjadi bulan yang menakjubkan, ketika semua unicorn dilepas dan semuanya berlalu dengan sangat menyenangkan.

halo, november
halo, november

Kelak, ketika peta ingatan Oktober sudah bisa diakses kembali mudah-mudahan cerita itu akan bertebaran di blog ini.

”Jadi mengapa jarang menulis panjang lebar lagi?”

Seperti ucapan pembenaran dalam kalimat pertama bahwa selalu ada alasan untuk apapun. Kali ini kambing hitamnya jatuh pada jurnal doodle yang berisikan seluruh hal tentang keseharian disini. Semua hal-hal tidak penting semuanya terangkum dalam satu buku, mulai dari jadwal kuliah, jadwal bekerja, resep perkedel kentang, lirik lagu, dan beberapa foto yang sudah dicetak.

Saya merindukan sensasi menulis di kertas dengan tulisan warna-warni atau penuh kerandoman yang tidak penting. Teringat beberapa tahun lalu saya rutin membeli agenda hitam yang rutin diisi dengan jadwal kuliah, daftar utang di mace baruga, current crush, ataukah potongan gambar dari beberapa serial favorit.

Kalau bisa dikatakan sih itulah sebenarnya blog, pinterest, dan tumblr dalam dunia nyata.

Continue Reading

Pengalaman menjadi relawan Stockholm Film Festival.

Sore terasa begitu panjang ketika kami sibuk membenahi tenda panitia Summer i bio festivalen atau Festival Film Musim Panas di Stockholm. Beberapa orang tampak merapikan bungkusan merchandise bagi para pembeli kartu membership untuk festival film yang akan diselenggarakan pada bulan November yang akan datang. Saya dan Oskar sore itu membereskan permen, cemilan kecil dan mempersiapkan teh dan kopi yang akan dijajakan di kios panitia.

Jadi volunteer lagi!
Jadi volunteer lagi!

Ini adalah kali ketiga saya bergabung dengan festival film terbesar di Stockholm. Ketika melihat melihat pengumuman mereka mencari volunteer atau relawan melalui papan iklan Kulturhuseet, rasa penasaranku tergelitik. Bagaimana rasanya bergabung dengan tim yang benar-benar baru? Rasanya masih teringat dengan jelas ketika Jasmina, sang koordinator relawan mewawancarai semua calon volunteer untuk mengetahui keahlian, minat dan bakat untuk ditempatkan di divisi yang tepat. Gugup? Tentu saja! Belum genap 3 bulan di Stockholm saya sudah berani untuk menceburkan diri dalam satu lingkaran yang benar-benar baru. Toh dalam pikiran mungkin ini bisa membantu untuk berkenalan dengan orang-orang baru.

Selain berharap nantinya bisa nonton film gratis selama festival sih.

Untunglah gegap budaya tidak sampai terjadi ketika hari pertama bekerja. Ada begitu banyak keterbatasan yang membuatku tidak bisa dengan mudah masuk ke divisi utama. Kendala bahasa adalah yang utama, ketika seluruh koordinasi dilakukan dalam bahasa Swedia. Maka jadilah tahun lalu saya masuk dalam divisi Silver Screen Award yang bertugas untuk memberi informasi mengenai film khusus dari Amerika yang mendapatkan bersaing dalam kategori tersebut, memberikan daftar polling, sampai menunggu daftar polling tersebut dari pengunjung ketika film selesai.
Perasaan saya campur aduk. Antara ego dan gengsi.

Continue Reading