2018.

Hai, hallo. It’s been a while since I wrote nirfaedah facts about my life here. It goes on my mind, how should I treat this blog in a good way? I mean, after graduating from Stockholm University, there is a lot of things that I want to share about what I learn there. About politics, popular culture, and so on. But the thing is radioholicz is already my personal blog. There is a LOT of things happened, even I can’t recognize some of them. In what episode am I in this post again?

This endless thought about should I make another blog talks about serious stuff or just simply write it down here is just like the question, who came first? The eggs or the chicken? Well, I decided not to argue anymore. I just want to write the thing down. Isn’t idea just becomes a wild thought if you don’t release it? Here I am, feeling guilty about all those post-it notes where I already made a list of what should I write and ignore it as my best.

*long sigh*

After the long post about Stockholm’s Syndrome, my life goes constantly flat. It goes like this, wakes up in the morning, goes to the office, become a zombie for a couple of hours, and then go home. Sometimes I just hang out with some friends, or just go home and start binge-watching whatever I have on my laptop. During the weekend I will crash at my parent’s house for a couple of hours, eat, sleep, and talk to them. After that, my daily routine is back to Monday again.

 

That goes smoothly until my wild journey about becoming the head of the committee my sister’s wedding, Java Jazz concert, a deep conversation about the relationship, and ended up in a hospital. That sums 2017 in a nutshell. I’m taking a full-time recovery doing nothing. 30 days of just watching National Geography on television, sleep, eat, repeat. I’m defeated. Suddenly I remembered what my friend told me,

“Why do you have to rush everything? Why do try so hard to look happy?”

That’s when I realize that I’ve been sabotaging myself for a year. I become a couch potato. I’m destroying myself, my health and so on. Am I depressed? I should say so. I’m in denial. Then I remembered five stages of grieving. Denial, anger, bargaining, depression, and acceptance.

I’m on denial that I am back in Makassar already. Settle down with my life in this episodes. I’m grieving for my past life. There is a time when I’m so angry that I want to punch the window and throw things at people. There is a time when I just want to slap people or get hit by a car. The wave of bargaining didn’t go well, and that is the time when the depression hit me so hard. I turned into a zombie. It was easier to kill your own feelings.

In those 30 days of doing nothing, I finally come to my senses. Well damn, I’m not a quitter. This phase too shall pass. I’m done with pitying my own life. So I accept my story in this timeline for the next 5 years.

2017 is the time when I lost to myself and my ego. I don’t have any plans left. How should I enjoy things if you don’t have any goals anymore? As I look again on my bucket list, it’s already happened. The last thing that I have to achieve is get married and start a family. Which it’s not going to happen anytime soon.

“You don’t have to rush everything dear.”

So here we are in 2018 already. 16 days have passed with me struggling with a few deadlines. But I’m okay. I’m happy with my job, my situation and I do not worry (well, maybe a little bit) about few things in the future. Live the moment. Seize the day. That’s a line from Avenged Sevenfold. Instead of being drowned like a dead fish, I decide to put a small goal or target for this year. I want to learn about graphic design and how to be a clip editor (so to say?). I want to re-read my academic journal and write some more. Gosh, I even didn’t write anything for last year. Last but not least, I want to do half marathon and back in shape this year.

Wish me luck! How’s your 2017 and 2018 so far?

Continue Reading

Minggu pagi dan nasi kuning di Makassar.

Minggu pagi selalu menjadi waktu yang istimewa di rumah ibu. Kalau saya dan saudara lain sedang tidak mempunyai kegiatan (kantor atau travelling), maka riuh kami akan memenuhi meja makan. Tapi hari ini karena semua saudara sedang melakukan rapat tahunan di hotel, jadilah hanya menyisakan saya, ibu dan bapak yang ada dirumah. Setelah membelikan bubur ayam untuk bapak, saya dan ibu memutuskan untuk makan nasi kuning dan belanja beberapa bumbu dapur.

Kami memutuskan untuk makan nasi kuning di Warung Kopi Tong San yang letaknya dekat dermaga Kayu Bangkoa di Jalan Penghibur. Sayangnya perjalanan kami harus terhenti di Jalan Arief Rate karena barisan gerak jalan santai yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Makassar. Kami pun berbalik menuju Jalan Sudirman, ternyata keadaannya juga sama. Mungkin rute gerak jalan dimulai dari Lapangan Karebosi dan melintasi Pantai Losari. Lagian, kenapa gerak jalannya telat banget yah? Padahal sudah hampir pukul 8 pagi loh. Karena tidak mau terjebak macet, saya memutuskan untuk mencari alternatif lain untuk sarapan.

Penampakan tenda nasi kuning

Dengan modal kabar burung ”katanya enak” dan melihat antrian orang ketika sedang bersepeda melewati jalan Bau Mangga, akhirnya saya dan ibu mengunjungi sebuah warung nasi kuning di Jalan Bau Mangga yang sedang hits menjadi perbincangan. Seberapa enak sih rasanya?

Continue Reading

Hidup setelah Stockholm.

Sesuatu yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Sesuatu yang konstan bergerak maju tanpa pernah menunggu. Tempat baru, suasana baru, dan cerita baru di setiap tempat. Ternyata saya membutuhkan 9 bulan untuk menuntaskan seluruh perasaan saya terhadap Stockholm. Kenangan akan suatu tempat yang akan selalu saya panggil rumah.

Pemandangan kota Stockholm

Sepulang dari Labuan Bajo ketika liburan akhir tahun, saya sudah memutuskan untuk move on. Menutup seluruh chapter Swedia dalam hati. Momen apa yang paling pas selain tahun baru? Hahaha, ternyata memang masalah hati tidak segampang itu dibohongi. Lagi dan lagi saya masih sering terpekur melihat album foto di perangkat gawai, melirik akun twitter berbahasa Swedia, sampai streaming online radio yang saya dengarkan ketika sarapan pagi bersama Arne.

Semuanya tentang kebiasaan-kebiasaan yang telah mengakar selama 2 tahun.

Banyak orang yang kerap mengernyitkan dahi ketika mengetahui saya sepenuhnya belum menuntaskan perasaan saya akan Stockholm. Masih berada dalam memori indahnya hidup di Skandinavia.

”Oh percayalah, hidup saya juga tidak selamanya mudah disana.”

Saya akui memang beberapa kali kerinduan itu sangat memuncak. Bagaimana rasanya berjalan di area Central Station, berkeliaran di Södermalm, sampai nongkrong di Kungstragärden.

Continue Reading

Mie Ayam Palekko; apakah berhasil memikat selera?

Sebulan terakhir percakapan media sosial di Makassar diwarnai dengan wacana dan komentar mengenai makanan dan buah tangan khas Makassar. Mari lupakan sejenak riuh rendah itu untuk menyimak satu inovasi dari warung yang berada di bilangan wilayah Antang. Bagaimana rasanya ketika Mie ayam bertemu dengan ayam Palekko?

Mieayampalekko

Palekko sendiri adalah makanan khas Bugis yang terkenal dengan rasa pedasnya. Biasanya berbahan utama Itik/Bebek ataupun ayam yang ditumis dengan campuran cabai yang banyak*. Bebek atau ayam dicincang atau dipotong dalam ukuran kecil sehingga campuran bumbu bisa meresap masuk sampai ke tulang-tulangnya. Sajikan dengan nasi panas, maka siap saja telinga anda sampai berasap saking pedisnya.

Pengalaman saya dengan Bebek Palekko disertai pula dengan sensasi perut yang panas dan mulas yang kemudian mengikutinya. Walaupun demikian, masakan khas daerah Pinrang selalu menjadi primadona setiap kali saya melintasi daerah tersebut.

Rasa penasaran saya tentang Mie Ayam** ini datang dari 2 buah baliho yang terletak di kawasan Antang. Warung Bakso Mas Cingkrank*** menawarkan sebuah pengalaman baru yang bisa saja memikat penikmat kuliner di Makassar. Atau bisa juga penggabungan ini akan mendatangkan reaksi yang lain.

Continue Reading
1 2 3 28