Mie Ayam Palekko; apakah berhasil memikat selera?

Sebulan terakhir percakapan media sosial di Makassar diwarnai dengan wacana dan komentar mengenai makanan dan buah tangan khas Makassar. Mari lupakan sejenak riuh rendah itu untuk menyimak satu inovasi dari warung yang berada di bilangan wilayah Antang. Bagaimana rasanya ketika Mie ayam bertemu dengan ayam Palekko?

Mieayampalekko

Palekko sendiri adalah makanan khas Bugis yang terkenal dengan rasa pedasnya. Biasanya berbahan utama Itik/Bebek ataupun ayam yang ditumis dengan campuran cabai yang banyak*. Bebek atau ayam dicincang atau dipotong dalam ukuran kecil sehingga campuran bumbu bisa meresap masuk sampai ke tulang-tulangnya. Sajikan dengan nasi panas, maka siap saja telinga anda sampai berasap saking pedisnya.

Pengalaman saya dengan Bebek Palekko disertai pula dengan sensasi perut yang panas dan mulas yang kemudian mengikutinya. Walaupun demikian, masakan khas daerah Pinrang selalu menjadi primadona setiap kali saya melintasi daerah tersebut.

Rasa penasaran saya tentang Mie Ayam** ini datang dari 2 buah baliho yang terletak di kawasan Antang. Warung Bakso Mas Cingkrank*** menawarkan sebuah pengalaman baru yang bisa saja memikat penikmat kuliner di Makassar. Atau bisa juga penggabungan ini akan mendatangkan reaksi yang lain.

Continue Reading

3 Hal yang terjadi ketika saya (akhirnya) mewarnai rambut.

*sambil mendengarkan track Jujur kepunyaan Radja dari playlist Terbaik:2000 an SpotifyIndonesia*

Hampir satu tahun ide ini sudah melintas di dalam kepala sebagai salah satu kegilaan yang harus dilakukan ketika berada di Stockholm. Kemudian saya bertanya lagi, kenapa harus menjadi gila hanya untuk mewarnai rambut? Oh iya, karena kita mempunyai banyak norma dan aturan yang mengharuskan untuk diikuti. Aturan yang membuat kita menilai seseorang dari penampilan. Padahal toh pepatah juga menyimpulkan don’t judge the book by the cover.

One fine day.
One fine day.

Saya dan teman-teman PNS lain yang sedang tugas belajar berupaya mendobrak pakem aturan itu. Ketika beberapa orang memanjangkan rambut sampai sebahu ala mahasiswa, saya mewarnainya menjadi warna putih bercampur perak. Rasanya? Melegakan!

Kebebasan yang paling utama itu berasal dari pikiran. Tidak ada lagi pertanyaan ”bagaimana jika” yang terus menghantui dalam kepala. Daripada terus bertanya dan tersesat dalam berbagai kemungkinan, mengapa tidak mencobanya saja? Masalah cocok atau tidak itu urusan belakangan. Tentu saja konsekuensi selalu mengikuti segala perbuatan. Kalau jelek, saya justru akan terlihat seperti bule nyasar yang pirangnya dipaksakan. Hahaha. Reaksi orang pun beragam. Mulai dari shock, kagum, sampai berkata nyinyir. Yah, mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memuaskan semua orang kan yah.

Selain merasakan kelegaan karena mencoba sesuatu yang baru, masih ada beberapa hal yang menarik ketika rambut saya berubah menjadi lebih terang;

1. Entah mengapa jadi lebih hits.
Berangkat dari seseorang yang introvert menuju kelam, saya sendiri merasa bahwa manusia itu memang berproses menjadi lebih baik. Segala pengalaman dan cerita saya selama satu setengah tahun di Stockholm membuat saya menempa diri menjadi lebih berani untuk mengekspresikan dan menghargai diri lebih baik. Dari niat untuk berekspresi kemudian mengikuti self-image yang positif. Ketika spring gathering PPI Swedia di Gothenburg, semua orang melihat penampilan saya dengan tampang heran. Rasanya lucu melihat berbagai ekspresi mereka. Beberapa orang malah berkata,
”Sebenarnya saya juga ingin mewarnai rambut tapi takut dengan anggapan orang-orang”

2. Pertanyaan mengenai nilai-nilai Indonesia.
Karena NKRI adalah harga mati. Seriously? Hanya karena rambut saya menjadi lebih terang lantas dianggap gagap budaya dan terkena virus barat. Like, seriously? Padahal disini saya getol mengenalkan budaya Indonesia itu seperti apa, mulai dari ragam makanan yang melimpah ruah, keadaan politik yang kisruh, sampai ikut dalam penampilan tari saman dalam geliat hubungan diaspora Indonesia di Stockholm dan masih ada yang menanyakan nilai-nilai ke-Indonesia-an? People do judge you by the cover.

3. Tidak ada yang abadi
All good things come to an end. Petikan lirik Nelly Furtado yang menghiasi bulan-bulan akhir di Stockholm yang manis dan pahit. Ataukah memikirkan hidup yang memang hanya jadi persinggahan sebelum kita kembali kepada pemilik kehidupan. Ah, klise. Tapi seperti itulah kenyataannya. Rambut terang ini hanya akan bertahan selama sebulan sampai saya memotongnya karena kegerahan. Ketika sesuatu bisa hilang, saat itulah kita bisa menghargai setiap momen yang ada.

Live to the fullest!

Walaupun banyak mendapat pertanyaan dari banyak orang, saya tidak harus menjelaskan semua isi kepala. Saya belajar untuk melepaskan semua pertanyaan di dalam kepala dan menikmati hidup seperti apa adanya. Mungkin ketika pulang nanti saya harus mengikuti ritme dan norma yang berlaku lagi, tetapi setidaknya satu pertanyaan telah lepas dalam kepala.

Continue Reading

Februari menulis.

FebruariChallenge

Entah sejak kapan menguraikan 800 kata menjadi sesuatu yang memberatkan. Selama setahun terakhir bisa dibilang jumlah postingan saya hanya berjumlah seadanya saja. Paling sering yang dijadikan alasan adalah karena waktu yang tidak memungkinkan. Belajar sambil menulis menjadi sesuatu yang merepotkan. Padahal satu kata yang paling cocok menjabarkannya, ya malas. Titik. Tidak usah mencari pembenaran lagi.

Ternyata hal ini menjadi bumerang yang sakti kala menulis paper atau tesis. Rasanya sulit mencari atau merangkai kata menjadi kalimat yang hidup. Padahal benar kata pepatah lama, bisa karena biasa. Percuma saja mempunyai seribu hal hebat di dalam kepala kalau tidak pernah dikeluarkan. Sepercuma mempunyai banyak konsep dan ide kalau tidak ada yang pernah dieksekusi.

Ide menantang diri sendiri kemudian terlontar ketika dalam satu sesi berenang. Kepalaku rasanya selalu menjadi lebih jernih ketika berada dibawah air. Mungkin karena ketika berenang, otak saya memberikan instruksi yang jelas dan fokus kepada seluruh anggota tubuh untuk bergerak dan mencegah diri tidak tenggelam. Sudah lama saya tidak menantang diri sendiri seperti ini lagi. Sekaligus mari membenahi tentang komitmen dari sekian banyak cerita yang hanya berakhir di konsep semata. Bukankah salah satu mimpi saya adalah membuat nukilan atau buku tentang hidup di Skandinavia? Kapan saya akan memulainya?

Lalu, kita harus menulis tentang apa?

Saya bertemu dengan tautan ide ini dari pinterest yang berasal dari postingan tumblr yang kemudian saya publish melalui blog *halah*. Dari sekian banyak ide postingan serupa, tampaknya urutan tantangan ini meliputi cerita masa lalu, saat ini dan masa depan. Rasanya nikmat membayangkan seluruh cerita yang akan tumpah selama bulan Februari esok.

februarichallengetopics

Silahkan kalau ingin berpartisipasi atau ingin menantang diri sendiri bersama saya. Karena sebaik-baiknya cerita adalah yang dituliskan kemudian dibaca oleh orang lain. Embrio ide itu juga mempunyai hak untuk hidup dan menikmati kebebasannya.

Selamat menulis, tuan beruang.

Continue Reading

Mencari kehilangan.

Tidak ada yang menyangka November akan melaju seperti ini. Seperti merayakan sebuah ketergesaan dalam balutan waktu yang seolah tidak ingin menunggu. Barisan hujan yang turun di akhir November menjadi penanda lain, sampai sejauh mana saya berjalan sejauh ini? Apa yang saya dapatkan selain pelukan dingin di minus 7 derajat? Apa saya telah melakukan yang terbaik?

Halo, November
Halo, November

Ketika di penghujung hari saya selalu bertanya mengapa fokus sepertinya menjadi kelemahan? Semangat yang dulu berkoar untuk dikeluarkan entah padam di persimpangan yang mana. Kelebihan energi disalurkan dengan dalih kegiatan demi kegiatan yang pada akhirnya mengantarkan pada pertanyaan,

”Untuk apa”

Okelah, tidak semua manfaat bisa dirasakan seketika. Beberapa hal membutuhkan proses untuk dicerna dan diolah menjadi kenangan. Saya hanya berharap kerja keras untuk meluangkan waktu bekerja di Stockholm Film Festival tahun ini bisa terbayar dengan senyum yang cerah di keesokan hari. Bukannya apa, semua kegiatan seolah menumpuk di bulan November. Selama 10 hari festival, bahkan saya tidak mempunyai waktu untuk menonton satu film pun! Apalagi ketika bekerja selama 10 jam berturut-turut.

Well. Capek.

Walaupun tahun ini jam kerja tidak sepadat tahun lalu, tetap saja kok rasanya shift tahun ini justru yang paling menguras energi?

Continue Reading
1 2 3 27