Minggu pagi dan nasi kuning di Makassar.

Minggu pagi selalu menjadi waktu yang istimewa di rumah ibu. Kalau saya dan saudara lain sedang tidak mempunyai kegiatan (kantor atau travelling), maka riuh kami akan memenuhi meja makan. Tapi hari ini karena semua saudara sedang melakukan rapat tahunan di hotel, jadilah hanya menyisakan saya, ibu dan bapak yang ada dirumah. Setelah membelikan bubur ayam untuk bapak, saya dan ibu memutuskan untuk makan nasi kuning dan belanja beberapa bumbu dapur.

Kami memutuskan untuk makan nasi kuning di Warung Kopi Tong San yang letaknya dekat dermaga Kayu Bangkoa di Jalan Penghibur. Sayangnya perjalanan kami harus terhenti di Jalan Arief Rate karena barisan gerak jalan santai yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Makassar. Kami pun berbalik menuju Jalan Sudirman, ternyata keadaannya juga sama. Mungkin rute gerak jalan dimulai dari Lapangan Karebosi dan melintasi Pantai Losari. Lagian, kenapa gerak jalannya telat banget yah? Padahal sudah hampir pukul 8 pagi loh. Karena tidak mau terjebak macet, saya memutuskan untuk mencari alternatif lain untuk sarapan.

Penampakan tenda nasi kuning

Dengan modal kabar burung ”katanya enak” dan melihat antrian orang ketika sedang bersepeda melewati jalan Bau Mangga, akhirnya saya dan ibu mengunjungi sebuah warung nasi kuning di Jalan Bau Mangga yang sedang hits menjadi perbincangan. Seberapa enak sih rasanya?

Continue Reading

Hidup setelah Stockholm.

Sesuatu yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Sesuatu yang konstan bergerak maju tanpa pernah menunggu. Tempat baru, suasana baru, dan cerita baru di setiap tempat. Ternyata saya membutuhkan 9 bulan untuk menuntaskan seluruh perasaan saya terhadap Stockholm. Kenangan akan suatu tempat yang akan selalu saya panggil rumah.

Pemandangan kota Stockholm

Sepulang dari Labuan Bajo ketika liburan akhir tahun, saya sudah memutuskan untuk move on. Menutup seluruh chapter Swedia dalam hati. Momen apa yang paling pas selain tahun baru? Hahaha, ternyata memang masalah hati tidak segampang itu dibohongi. Lagi dan lagi saya masih sering terpekur melihat album foto di perangkat gawai, melirik akun twitter berbahasa Swedia, sampai streaming online radio yang saya dengarkan ketika sarapan pagi bersama Arne.

Semuanya tentang kebiasaan-kebiasaan yang telah mengakar selama 2 tahun.

Banyak orang yang kerap mengernyitkan dahi ketika mengetahui saya sepenuhnya belum menuntaskan perasaan saya akan Stockholm. Masih berada dalam memori indahnya hidup di Skandinavia.

”Oh percayalah, hidup saya juga tidak selamanya mudah disana.”

Saya akui memang beberapa kali kerinduan itu sangat memuncak. Bagaimana rasanya berjalan di area Central Station, berkeliaran di Södermalm, sampai nongkrong di Kungstragärden.

Continue Reading

Mie Ayam Palekko; apakah berhasil memikat selera?

Sebulan terakhir percakapan media sosial di Makassar diwarnai dengan wacana dan komentar mengenai makanan dan buah tangan khas Makassar. Mari lupakan sejenak riuh rendah itu untuk menyimak satu inovasi dari warung yang berada di bilangan wilayah Antang. Bagaimana rasanya ketika Mie ayam bertemu dengan ayam Palekko?

Mieayampalekko

Palekko sendiri adalah makanan khas Bugis yang terkenal dengan rasa pedasnya. Biasanya berbahan utama Itik/Bebek ataupun ayam yang ditumis dengan campuran cabai yang banyak*. Bebek atau ayam dicincang atau dipotong dalam ukuran kecil sehingga campuran bumbu bisa meresap masuk sampai ke tulang-tulangnya. Sajikan dengan nasi panas, maka siap saja telinga anda sampai berasap saking pedisnya.

Pengalaman saya dengan Bebek Palekko disertai pula dengan sensasi perut yang panas dan mulas yang kemudian mengikutinya. Walaupun demikian, masakan khas daerah Pinrang selalu menjadi primadona setiap kali saya melintasi daerah tersebut.

Rasa penasaran saya tentang Mie Ayam** ini datang dari 2 buah baliho yang terletak di kawasan Antang. Warung Bakso Mas Cingkrank*** menawarkan sebuah pengalaman baru yang bisa saja memikat penikmat kuliner di Makassar. Atau bisa juga penggabungan ini akan mendatangkan reaksi yang lain.

Continue Reading

3 Hal yang terjadi ketika saya (akhirnya) mewarnai rambut.

*sambil mendengarkan track Jujur kepunyaan Radja dari playlist Terbaik:2000 an SpotifyIndonesia*

Hampir satu tahun ide ini sudah melintas di dalam kepala sebagai salah satu kegilaan yang harus dilakukan ketika berada di Stockholm. Kemudian saya bertanya lagi, kenapa harus menjadi gila hanya untuk mewarnai rambut? Oh iya, karena kita mempunyai banyak norma dan aturan yang mengharuskan untuk diikuti. Aturan yang membuat kita menilai seseorang dari penampilan. Padahal toh pepatah juga menyimpulkan don’t judge the book by the cover.

One fine day.
One fine day.

Saya dan teman-teman PNS lain yang sedang tugas belajar berupaya mendobrak pakem aturan itu. Ketika beberapa orang memanjangkan rambut sampai sebahu ala mahasiswa, saya mewarnainya menjadi warna putih bercampur perak. Rasanya? Melegakan!

Kebebasan yang paling utama itu berasal dari pikiran. Tidak ada lagi pertanyaan ”bagaimana jika” yang terus menghantui dalam kepala. Daripada terus bertanya dan tersesat dalam berbagai kemungkinan, mengapa tidak mencobanya saja? Masalah cocok atau tidak itu urusan belakangan. Tentu saja konsekuensi selalu mengikuti segala perbuatan. Kalau jelek, saya justru akan terlihat seperti bule nyasar yang pirangnya dipaksakan. Hahaha. Reaksi orang pun beragam. Mulai dari shock, kagum, sampai berkata nyinyir. Yah, mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memuaskan semua orang kan yah.

Selain merasakan kelegaan karena mencoba sesuatu yang baru, masih ada beberapa hal yang menarik ketika rambut saya berubah menjadi lebih terang;

1. Entah mengapa jadi lebih hits.
Berangkat dari seseorang yang introvert menuju kelam, saya sendiri merasa bahwa manusia itu memang berproses menjadi lebih baik. Segala pengalaman dan cerita saya selama satu setengah tahun di Stockholm membuat saya menempa diri menjadi lebih berani untuk mengekspresikan dan menghargai diri lebih baik. Dari niat untuk berekspresi kemudian mengikuti self-image yang positif. Ketika spring gathering PPI Swedia di Gothenburg, semua orang melihat penampilan saya dengan tampang heran. Rasanya lucu melihat berbagai ekspresi mereka. Beberapa orang malah berkata,
”Sebenarnya saya juga ingin mewarnai rambut tapi takut dengan anggapan orang-orang”

2. Pertanyaan mengenai nilai-nilai Indonesia.
Karena NKRI adalah harga mati. Seriously? Hanya karena rambut saya menjadi lebih terang lantas dianggap gagap budaya dan terkena virus barat. Like, seriously? Padahal disini saya getol mengenalkan budaya Indonesia itu seperti apa, mulai dari ragam makanan yang melimpah ruah, keadaan politik yang kisruh, sampai ikut dalam penampilan tari saman dalam geliat hubungan diaspora Indonesia di Stockholm dan masih ada yang menanyakan nilai-nilai ke-Indonesia-an? People do judge you by the cover.

3. Tidak ada yang abadi
All good things come to an end. Petikan lirik Nelly Furtado yang menghiasi bulan-bulan akhir di Stockholm yang manis dan pahit. Ataukah memikirkan hidup yang memang hanya jadi persinggahan sebelum kita kembali kepada pemilik kehidupan. Ah, klise. Tapi seperti itulah kenyataannya. Rambut terang ini hanya akan bertahan selama sebulan sampai saya memotongnya karena kegerahan. Ketika sesuatu bisa hilang, saat itulah kita bisa menghargai setiap momen yang ada.

Live to the fullest!

Walaupun banyak mendapat pertanyaan dari banyak orang, saya tidak harus menjelaskan semua isi kepala. Saya belajar untuk melepaskan semua pertanyaan di dalam kepala dan menikmati hidup seperti apa adanya. Mungkin ketika pulang nanti saya harus mengikuti ritme dan norma yang berlaku lagi, tetapi setidaknya satu pertanyaan telah lepas dalam kepala.

Continue Reading
1 2 3 28