Category Archives: Movielicious

Tampan Tailor; bercerita tentang mimpi dan keyakinan

Ketika terjebak macet di Jakarta, maka ojek selalu menjadi kendaraan paling mumpuni. Mampu meliuk di antara antrian mobil yang mengular, ataukah mampu menemukan jalan-jalan kecil yang bahkan sudah tidak bisa disebut lagi jalan tikus. Diantara jejeran mall yang membentang, saya melihat realitas lain. Ketika rumah berdempet, suasana kampung, ditengah megahnya ibukota.

Image by http://kvltmagz.com

Image by http://kvltmagz.com

Gabungkan potret kehidupan tersebut dengan kenyataan bahwa saat ini semakin sulit untuk mencari lapangan pekerjaan membuat saya selalu bersyukur. Masih mempunyai pekerjaan yang tetap, masih bisa bekerja di tengah ruangan berpendingin yang bisa dikontrol, atau masih bisa memilih makanan yang ingin dikonsumi.

 

Yang sayangnya sebagian dari kita tidak memiliki opsi-opsi tersebut.

Menilik tema besar yang didengungkan Tampan Tailor, saya tidak menyangka filmnya akan seberat ini. Bukan hanya tentang hubungan ayah dan anak, tapi lebih kepada bagaimana memperjuangkan hidup itu sendiri. Suatu hal yang dimana semua orang akan melaluinya. Apa yang akan kau lakukan ketika masa itu tiba? Berjuang pada mimpimu? Atau menapak pada kenyataan?

Topan (Vino G. Bastian) menjadikan figur seorang ayah menjadi sosok ideal dan sempurna. Diberikannya gambaran sempurna bahwa seorang ayah harus menjadi Superman. Mampu berjuang untuk kebahagiaan Bintang (Jefan Nathanio), apapun yang terjadi. Semua akan dilakoninya, mulai dari Calo tiket kereta api sampai menjadi kuli bangunan. Apakah seorang ayah tidak boleh tampak terlihat lemah? Continue reading

Leave a Comment

Filed under Movielicious

The Hobbit; mari bertualang!

Ketika mendengar kabar bahwa The Hobbit, prekuel dari Trilogi Lord Of The Ring akan segera dirilis, tidak membuat saya tergerak. Maklum saja, referensi saya telah ideal dengan dunia Harry Potter. Jadi rasanya menambah referensi dengan buku J.R.R Tolkien tersebut rasanya akan sia-sia. Mengingat lagi bahwa tahun perilisan buku dan filmnya adalah masa-masa dimana saya belum bisa mengakses dan bacaan menjadi sesuatu yang mahal.

Gandalf dan Para kurcaci

Gandalf dan Para kurcaci

Mungkin salah satu keuntungan saya adalah bisa mengikuti alur perjalanan kisah sang cincin dari awal. Dari kisah pertemuan awal Bilbo Baggins bertemu dengan Gandalf dan bertualang bersama 13 dwarfs (kurcaci). Saya bisa menebak bahwa detail cerita yang disajikan dalam 3 buku LOTR bisa menjadi hal yang sangat rumit. Tapi disinilah semua petualangan dimulai.

Continue reading

2 Comments

Filed under Movielicious

Rise of The Guardians; raise the hope!

Ketika melihat Jack Frost dalam film Rise Of The Guardians saya sempat bertanya, seperti apakah rasanya kesepian?

Bukan statement menuju curhat colongan, tapi rasanya tokoh Jack Frost memiliki banyak kesamaan dengan tokoh utama dalam film How To Train Your Dragons. Itu mungkin salah satu alasan terbesar ketika saya menonton film ini. Selain, kelinci paskah yang membawa bumerang, dan peri gigi yang sangat posesif.

Image by http://screenrant.com

Mau tidak mau sentral film ini kemudian beralih ke tokoh Jack Frost. Sosok manusia salju yang sering dibuat oleh mereka yang menikmati 4 musim. Ketika mitos yang kemudian berkembang bahwa Jack Frost lah yang membuat badai salju untuk bersenang-senang. Berbeda dengan mitos tentang Peri Gigi, Santa Claus, Kelinci Paskah, dan Sandy, sang peri mimpi. Semuanya diceritakan adalah sahabat anak-anak. Apa yang terjadi ketika Jack Frost ditunjuk menjadi penjaga yang baru?

Continue reading

Leave a Comment

Filed under Movielicious

Test Pack; ketika bertanya tentang cinta

Mungkin kita harus menyalahkan Rangga dan Cinta lewat film Ada Apa Dengan Cinta sehingga seluruh adegan klimaks setiap film Indoensia yang berakhir di bandara mendapat tuduhan menjiplak adegan yang sama. Syukurlah anti klimaks film Test Pack tidak harus berakhir seperti itu.

Perjalanan Tata (Acha Septriasyah) dan Rahmat (Reza Rahardian) dalam mempertanyakan cinta akan berakhir pada sebuah kenyataan pahit dan pernyataan yang ada di benak semua orang.

Rute hidup kuliah – kerja – nikah – punya anak menjadi suatu status yang harus dihadapi oleh rasa konsensus bersama. Bagaimana bila salah satunya tidak berjalan dengan lancar?

Inilah ide utama yang ditawarkan oleh Ninit Yunita dalam debut film yang diangkat dari novelnya. Sejujurnya saya agak skeptis ketika mendengar novel tersebut akan difilmkan. Syukurlah saya sudah sedikit lupa dengan jalan cerita novel yang pertama kali diterbitkan tahun 2005 tersebut. Maka untuk itu, film ini menjadi aman untuk ditonton. Hasilnya? Bagus!

Dari scene awal, chemistry Acha Septrianyah bersama Reza Rahardian sudah terbangun dengan apik. Tidak ada air mata atau drama berlebihan. Semuanya dalam porsi yang cukup dan terasa pas. Banyak dialog-dialog yang mudah dicerna dan memberi clue kepada permasalahan yang dihadapi pasangan muda ini. Mulai dari konsumsi tauge, sampai posisi untuk memudahkan sperma mencapai sel telur, semuanya dikemas dengan jenaka dan tepat sasaran. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Movielicious