Selamat Ulang Tahun, Pak Joko Widodo!

Setiap era kepresidenan memiliki citra dan warnanya sendiri. Saya sendiri awalnya tidak terlalu aware dengan wajah perpolitikan Indonesia, kemudian larut dalam setiap perbincangan politik. Baik itu di berbagai kanal sosial ataupun ruang nyata. Hal ini tentu saja disebabkan karena tidak hanya pemberitaan mengenai kinerja pemerintahan dan politik di media massa, kini para politisi hadir lebih dekat dan terasa nyata melalui kanal media sosial.

Image by Yulianti Tanyadji. https://www.instagram.com/ytanyadji/

Dalam era awal media sosial, kata pencitraan kerap terdengar. Bahwa seseorang akan melakukan perbuatan tertentu untuk menaikkan nilainya dihadapan khalayak. Mengapa citra ini menjadi penting? Mengutip Arif Budiman (1) yang berkata bahwa citra berkaitan erat dengan suatu penilaian, tanggapan, opini, kepercayaan publik, asosiasi, lembaga dan juga simbol simbol tertentu terhadap bentuk pelayanan, nama perusahaan dan merek suatu produk barang atau jasa yang diberikan oleh publik sebagai khalayak sasaran (audience).

Tirto.id (2) bahkan menuliskan ulasan yang lengkap mengenai bagaimana Jokowi menjual citra politiknya. Dalam salah satu alinea liputan yang ditulis oleh Arman Dhani, tipikal komunikasi Jokowi adalah gemar melontarkan lelucon, tertawa lepas, bahkan tidak ragu untuk melakukan kontak fisik dengan siapapun. Seperti saat mengunjungi beberapa pondok pesantren, Jokowi mengundang santri untuk menjawab kuis yang jawabannya mengundang gelak tawa. Alih-alih menghardik atau memarahi mereka yang mengantuk, Jokowi bisa menghidupkan suasana dengan sikapnya yang tidak berjarak.

Continue Reading

Menikmati riuh media sosial dalam koridor pancasila.

Suasana media sosial di Indonesia itu sangat meriah, beragam dan seakan tidak pernah berhenti bergemuruh. Dalam kurun waktu 3 hari saja pembahasan di kanal sosial berganti dari harga sepatu presiden Jokowi, perdebatan antara vaksin dan anti vaksin, sampai perbincangan mengenai hasil pertandingan bola. Hal ini tentu saja sudah menunjukkan kemajemukan dan perbedaan yang sangat mendasar bagi masyarakat Indonesia. Apa jadinya semua orang bebas berpendapat?

Kemajuan teknologi tidak bisa dipungkiri mendukung perubahan perbincangan dan isu ini. Yang dulunya media hanya bersifat satu arah dan asupan informasi hanya didapatkan dari media mainstream seperti koran, televisi dan radio, sekarang berganti arah. Era media sosial mengubah semua orang menjadi narasumber, pakar dan ahli komentator. Akibatnya twitwar atau perang twit sudah menjadi menu keseharian. Kebebasan untuk mengutarakan pendapat di status Facebook pun menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa. Tapi bagaimana kalau justru kemerdekaan itu malah kebablasan?

Jejeran pemateri

Hal inilah yang kemudian menjadi topik diskusi beberapa warganet dan beberapa narasumber yang berkompeten di bidangnya. Dalam acara yang bertajuk, ”Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial” diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dan menghadirkan Prof. Dr. H. Muhammad Galib, M, MA yang membicarakan media sosial dalam lingkup fatwa MUI, Dr. Heri Santoso dari sudut pandang pancasila, dan juga Handoko Data dari Tim Komunikasi Presiden. Hari Rabu, 16 Juni 2017 bisa jadi hari yang berkesan untuk warganet Makassar. Karena banyak sinergitas ide dan pemahaman yang kemudian menjadi dasar untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Continue Reading

Menyimak Pos Ronda dan konsep satir di Indonesia.

Ketika pintasan halaman Pos Ronda muncul di linimasa, saya tidak pernah menganggapnya serius. Apakah memang benar ada yang mengkonsumsi berita seperti itu? Rupanya banyak yang salah langkah dan menanggapinya dengan serius. Apakah konsep satir begitu susah diterima di Indonesia?

radioholicz-posronda2

Ketika kebijakan mengenai himbauan berhemat untuk pegawai negeri sipil yang dikeluarkan oleh Menpan, semua orang terhenyak. Berita ini makin simpang siur ketika banyak orang yang membagikan tautan berita dengan judul ” Hemat Air, MenPAN-RB Diminta Hanya Perbolehkan PNS Mandi Seminggu Sekali” (tayang 5 Desember 2014)[1], ramailah seluruh jagad facebook dengan beraneka rupa komentar.

Continue Reading

Ini Valentineku, bagaimana valentinemu?

Dulu bulan Februari selalu menjadi perhatian tersendiri kala saya masih berstatus penyiar. Biasanya 1001 macam acara yang dipersiapkan untuk menyambut satu tanggal yang diyakini sebagai hari kasih sayang sedunia. Itu kalau punya pasangan, kalau tidak? *puk puk para jomblo*

Satu hal yang paling menarik adalah ada-ada saja orang yang kemudian datang ke radio untuk merekam sejumlah lagu bertema cinta. Maklum saja, pilihannya kala itu tidak sebanyak dan semudah saat ini. Daripada salah memilih lagu dengan kualitas yang jelek pula, mereka datang dengan setumpuk list lagu andalan.

Barisan kaset penyelamat yang siap diisi lagu cinta

Pindah ke jaman CD, ternyata tradisi ini masih berlanjut. Mereka meminta beberapa lagu cinta untuk menjadi soundtrack hari kasih sayang atau sekedar menyatakan perasaan. Lagu paling klasik? Tentu saja Martina McBride dengan Valentinenya.

Bertahun kemudian barulah saya mengetahui bahwa aksi menyatakan perasaan dengan diiringi musik atau pertunjukan musik ini biasanya disebut serenade. Jadi biar suasana sudah mendukung, hati sudah siap “nembak”, tapi kalau tidak ada soundtracknya, bisa jadi garing.

Lah, lantas apa strategi itu bisa berhasil?

Continue Reading