#Day 4 : My (shuffle) Ipod Playlist.

Hari ini lumayan ribet di kampus, revisi bab 1 tesis kesayangan harus diserahkan lusa jadinya baru sempat nulis sekarang. Sepertinya mulai besok harus meniatkan satu jam di antara jam menulis tesis. XD

Pop to the fullest!
Pop to the fullest!

Dalam perjalanan menuju kampus ataupun tempat lain di Stockholm, ipod pink andalan selalu sedia menemani. Seorang teman pernah berseloroh kalau telinga saya seakan tidak pernah lepas dari headphone. Belum lagi koleksi lagu sebanyak 1404 (ini kok seperti speed dial restoran yah) pastinya tidak akan pernah terputar semuanya. Tapi dari dulu saya menyadari kalau selama perjalanan saya tidak mendengarkan musik, maka bisa dikatakan pikiran saya akan mengembara kemana-mana dan malah akhirnya menjadi seperti orang bego di kereta.

Pemutar musik saya yang pertama adalah walkman berwarna orange terang yang merupakan hadiah ulang tahun dari sahabat jaman SMA. Fasilitas pemutar kasetnya sendiri jarang saya gunakan karena lebih boros baterai. Untunglah pada masa itu radio-radio di Makassar sedang kece-kecenya. Saya mengikuti saat Radio Prambors pertama kali mengudara, mendengarkan lagu top 40 khas Madama FM, sampai mengikuti kuis-kuis di Sonata FM. Kegemaran inilah yang kemudian menginspirasiku kelak untuk menjadi penyiar radio dan menjadikan musik sebagai bagian keseharian yang tak terpisahkan.

Walaupun selama di Stockholm peranan Spotify sangat signifikan sebagai playlist andalan ketika bekerja menggunakan komputer, tetap saja ipod tetap digunakan selama perjalanan. Tetap ada sensasi berbeda ketika memutarkan lagu secara shuffle. Terkadang emosi lagu serupa dengan momen yang dialami, atau terkadang malah inginnya hanya skip dan skip melulu. Dari 1404 lagu yang ada di ipod saya, inilah 10 lagu yang berurutan ketika menekan tombol play.

1. Ipang – Teruslah Bermimpi
2. Regina Spektor – Us
3. R. City – Locked Away (Feat. Adam Levine)
4. Maroon 5 – Sugar
5. Drake – Too Much
6. Clean Bandit – Rather Be (Feat. Jess Glynne)
7. Echosmith – Cool Kids
8. Lana Del Rey – West Coast
9. The Warblers – Blackbird
10. Orla Gartland – Roots

Beberapa orang kemudian mengatakan selera lagu yang sangat dengarkan sangat pop (terkhususnya perkataan chican sejak jaman kuliah). Tapi mau diapakan lagi? Lagu-lagu seperti ini yang easy listening dan bisa dinikmati kapan saja. Masih banyak kok genre lagu lainnya kalau terus melanjutkan mode shuffle di ipod. Sayangnya hanya 10 lagu pertama saja yang diizinkan.

Khusus untuk urutan lagu ini, pilihan utama saya jatuh pada Ipang yang menjadi soundtrack film Sang Pemimpi. Suara Ipang yang optimis meniupkan semangat baru pada setiap lirik yang dinyanyikannya,

Percayalah
Lelah ini hanya sebentar saja
Jangan menyerah
Walaupun tak mudah meraihnya

Mendengarkan track ini ketika menulis tesis atau menghadapi masa-masa sulit di Stockholm seolah membawa semangat baru. Percaya saja bahwa semua kesulitan akan berlalu. Terkadang saya lupa mantra sederhana itu,

”Pada akhirnya semua akan baik-baik saja”.

Itulah 10 track pilihan yang muncul di ipod saya hari ini. Bagaimana dengan kalian? Punya lagu favorit untuk dibagi ceritanya?

Continue Reading

#Day 3 : Mimpi-mimpi.

Hai halo. Rencana postingan setiap hari harus berjeda beberapa hari karena domain dan hosting radioholicz ternyata belum diperpanjang. Terima kasih banyak untuk kak Nanie sudah mau direpotkan untuk merawat radioholicz dari jauh :’)

Suatu ketika berpose depan Museum ABBA
Suatu ketika berpose depan Museum ABBA

Jadi hari ini mestinya mengikut postingan hari ketiga atau kedelapan? Karena postingan suka-suka enaknya ngikut ke tema hari kedelapan aja. Jadi, momen apa yang paling berkesan selama 20 sekian tahun berada di dunia?

Tanggal 28 April adalah salah satu saat bersejarah dalam hidup. Ketika email dari Joakim sebagai International Coordinator mengirimkan email yang menandakan saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa baru di Stockholm University jurusan Media and Communication. Yay! Rasanya seperti menunggu jodoh yang akhirnya datang juga. Khusus untuk hal ini, ya jodoh sekolah. Dari sekian banyak aplikasi yang saya kirimkan ternyata Stockholm yang memberikan jawaban terlebih dahulu. Kalau persoalan jodoh yang lain, yaah, itu masih rahasia Tuhan :’)

Continue Reading

#Day 2 – Surat untuk masa depan.

Entah sejak kapan ketika membuat rencana bepergian, hal yang selalu diutamakan adalah kuliner atau penganan lokal. Dahulu setiap mendapat dinas ke Jakarta, maka bisa dipastikan Es Krim Ragusa adalah salah satu tempat yang harus dijabani. Begitu pula ketika bertandang ke kota lainnya, rasanya selalu istimewa ketika mencoba berbagai makanan berbeda. Apa yang bisa dinikmati ketika berpetualang ke gang aut di Bogor?

Kebiasaan itu kemudian terus berlanjut kala saya melanjutkan petualanganku di benua Eropa. Dari beberapa negara yang saya kunjungi, salah satu hal yang tidak boleh terlupa adalah pasar tradisional dan makanan lokal. Alasan saya karena di dua hal itulah kita bisa menikmati esensi lokal sebuah tempat. Ketika berinteraksi dengan para penjual, atau sekadar melihat keseharian orang-orang. Sampai sejauh ini yang menjadi favoritku adalah suasana pasar di Riga juga nikmatnya goulash di Budapest.

Berbagai penganan lokal di Salu Hall, Stockholm
Berbagai penganan lokal di Salu Hall, Stockholm

Sampai kemudian saya tiba di satu titik dan bertanya pada diri sendiri,

”Mengapa saya tidak pernah mengapresiasi makanan lokal sendiri? Mengapa saya tidak pernah memuja atau mencari cucuru bayao ataupun barongko seperti orang lain?”

Continue Reading

#Day 1 : My current relationship.

Single.

Singkat, padat, dan jelas.

Pilihan ini diambil tanpa tekanan apapun dan siapapun karena mengingat status saya yang berada jauh seperdua lingkar bumi dari Indonesia. Dulunya saya adalah orang yang percaya bahwa cinta bisa mengalahkan rentangan jarak dan bilangan waktu yang berbeda. 2 kali menyandang status #pejuangLDR menyadarkan bahwa esensi percakapan dan emosi yang disalurkan melalui ruang nyata selalu lebih sehat ketimbang salah paham yang terus terjadi melalui pesan teks.

12

Medio tahun 2014 saya bertemu dengan seseorang yang membuat kehidupan stagnan belajar bahasa inggris menjadi lebih menyenangkan. Selalu ada alasan untuk pergi mengunjungi lembaga bahasa tersebut selain tenggelam dalam tes ielts atau persiapan kuliah. Seluruh teman kelas sempat menyorakiku untuk mengajaknya berkencan dan melihat peluang kedepannya. Saya sendiri menolak dengan tegas karena mengetahui dalam bilangan bulan toh saya sudah berada di Swedia. Bukannya tidak mau berjuang untuk cinta (tsah), tapi kala itu saya tidak mempunyai bayangan akan seperti apa ritme hidup di Stockholm.

Menjalani keseharian sebagai pejuang tunggal di Stockholm yah berarti membuka kesempatan untuk berkenalan dengan orang baru, atau terjebak dalam kesunyian di tempat yang asing. Beberapa bulan pertama saya habiskan dengan pub mingle sampai ikut berpartisipasi sebagai relawan film. Toh pikirku semakin banyak networking maka semakin banyak pula juga kesempatan untuk bertemu dengan ”jodoh masa depan”.

Continue Reading