Category Archives: Book Review

Singgah; ketika pencarian selalu dimulai dimana saja.

Membaca Singgah sejenak menimbulkan pertanyaan besar di kepala saya, sebenarnya apa arti kata pulang itu sendiri? Ketika memakai kata Singgah, bisa diartikan sebuah perjalanan sedang dilakukan. Kemana? Perjalanan tersebut tentang apa?

Singgah-bukuBeberapa jawaban alternatif kemudian akan diberikan oleh 11 penulis yang bercerita dan memaknai kata singgah itu sendiri. Beberapa diantaranya telah saya kenali dengan baik frasa mereka ketika bercerita. Selebihnya? Beberapa tulisan membuat saya terhenyak dengan twist yang ditawarkan.

Ketika membuka barisan daftar isi, mata saya langsung tertuju pada cerita Para Hantu dan Jejak-Jejak di Pasir. Adalah Adellia Rosa yang mengajak kita untuk mendengarkan cerita tentang Rosetta yang kehilangan orang tuanya di laut dan hamper pula kehilangan saudari kembarnya. Cara Adel bercerita menimbulkan sensasi tersendiri. Ketika saya merasa sudut padang skizofrenia dijabarkan di beberapa bagian.

Sebenarnya kehilangan apa yang paling perih dibandingkan dengan kehilangan kenangan?

Kata kenangan menjadi tema besar sebagian cerita. Simak saja cerita Menunggu Dini dan Memancing Bintang. Diajaknya kita menyusuri bagian terdalam pikiran manusia, ketika pelan-pelan sebuah kenangan tidak akan pernah bisa lepas dari benak. Apakah itu tentang cinta pertama, ataukah ketika harus memilih antara mengejar mimpi dan meninggalkan orang yang sangat dicintai.

Continue reading

Leave a Comment

Filed under Book Review

Cetak ulang!

Rasanya menyenangkan melihat beberapa komik terbitan Elex akan diterbitkan ulang. Maklum saja, beberapa serial tersebut memang membekas karena ceritanya yang lebih kuat. Walaupun komik-komik sekarang menjadi lebih kompleks (20 Century Boys, Soul Eater), ataupun penokohannya yang lebih familiar dengan banyak orang, tapi tetap komik yang beredar di awal tahun 2000-an menjadi sesuatu yang klasik.

Satu hal yang paling diingat tentu saja Kariage Kun yang sangat eksentrik. Jauh sebelum 9gag atau berbagai jokes konyol menghiasi semua media, dia hadir sebagai penyelamat dengan semua kelucuan dan kesinisannya terhadap alur mainstream. Kini ceritanya dilanjutkan kembali, bahkan perusahaan Honnayara, sudah mengetahui twitter! Sebuah kemajuan yang sangat pesat.

Serial Misteri

Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan melihat beberapa “Serial Misteri” Elex yang dicetak ulang. Rasanya menemukan sesuatu hal yang berharga lagi. Cerita yang dihadirkan dalam semua Serial Misteri sebenarnya sangat sederhana. Premis tentang sekolah hantu, pembunuhan, ataupun tentang kutukan arwah dihadirkan secara gambling. Yang membuat hal ini (dulu) menjadi sangat menarik karena realitasnya adalah hal yang sering kita alami di sekitar juga. Pasti semua orang familiar dengan kisah hantu di sekolah masing-masing.

Saya berusaha mencari tahu mengenai nama Chie Watari (Sekolah Hantu) maupun Chie Sinohara (Someone In The Dark). Tetapi sepertinya itu adalah nama pena seseorang. Dari hasil googling sana sini barulah saya menyadari bahwa sepertinya orang ini adalah ratu dari serial misteri. Konsep cerita yang mudah dipahami, membuat komik-komik Chie Watari semakin mudah diikuti.

Konsep sederhana inilah yang memenangkan isi kepala saya. Maklum, terkadang saya tidak mampu mencerna isi komik yang terlalu berlebihan, walaupun sebenarnya genre mereka masuk fantasi. Apalagi mengingat status horror, komik ini mampu membangun ketegangan secara murni, dan membuat kita secara gamblang merasakan takut yang terasa nyata. Jadi, apa kisah horror favoritmu?

nb : kalau ingin membeli versi terbarunya, sudah dirilis oleh Elex untuk beberapa judul, sedangkan kalau untuk harga yang lebih murah, masih banyak Online Shop yang menyediakan cetakan pertama serial misteri ini. Selamat membaca!

Leave a Comment

Filed under Book Review

A Beautiful Lie; ketika kebohongan berarti segalanya.

Hal kedua yang kubenci tentang diriku adalah “keahlianku” untuk mendeteksi apa yang tak terucap. Makna yang tersirat di balik kata-kata. Ini spesialisasiku. Dan pada saat itulah firasat mengambil alih. (Bilal ~ Halaman 238).

January-BookOfTheMonthSeperti Bilal yang menjadi tokoh utama buku A Beautiful Lie yang ditulis oleh Irfan Master, kita pun akan berfirasat terus menerus kemana arah cerita buku ini akan mengalir dari halaman pertama. Sebuah kompleksitas yang terancang dengan sempurna dan dilepas sedikit demi sedikit untuk memberikan efek puncak yang mendebarkan.

Awal ceritanya sendiri di plot di tahun 1947, masa-masa di India bersiap mengalami revolusi. Perbedaan ras, suku, dan agama menjadi sesuatu yang sensitif. Suasana pasar digambarkan telah berubah, dan ini yang disadari oleh Bilal, anak 10 tahun, merasakan api dalam sekam. Tinggal menunggu waktu saja untuk terbakar.

Tapi di balik semua itu, Bilal hanyalah seorang anak yang sangat menyayangi Bapuji—sang ayah—yang jatuh sakit karena diserang stroke. Dia menceritakan bagaimana hubungan emosionalnya dengan Bapuji yang begitu memuja pengetahuan dan ditengah masyarakat miskin India dia tetap optimis dan membeli buku. Sebagai pengurus pasar, Bapuji dihormati oleh semua orang. Satu hal yang tersisa, Bapuji tidak mengetahui bahwa pun India sedang berubah.

Continue reading

3 Comments

Filed under Book Review

Nguping Jakarta; rekaman percakapan absurd yang menyenangkan

Kenapa harus Jakarta? Ini mungkin pertanyaan yang paling sering muncul ketika menyebut Nguping Jakarta. Yah, karena merekalah yang pertama kali membuatnya! Mengingat juga bahwa Jakarta adalah tempat berkumpulnya manusia yang sangat beragam, dengan berbagai kultur dan tingkah laku. Maka mendengar beberapa celotehan tidak wajar dari warga Jakarta membuat kita terhibur dan mudah-mudahan tidak melakukan kesalahan yang sama.

Dalam bagian buku yang berupa sambutan, kedua kuping ini bercerita sedikit mengenai perihal ngupingjakarta yang sangat fenomenal. Bagi mereka yang hidup dan fasih blogwalking, maka nguping jakarta.blogspot.com menjadi salah satu blog yang wajib dikunjungi. Setiap postingan baru akan memunculkan puluhan sampai ratusan komentar.

Padahal, itu hanyalah postingan biasa yang berisikan,

Teman #1 : “Aaaaah!” (sembari menunjuk ke langit-langit)
Teman #2 : (terkejut) “Apaan, sih?”
Teman #1 : “Itu! Ada cicak, masa kakinya empaaaat?!”
Teman #3 : “Emang cicak kakinya berapa?”
Teman #1 : “Dua, kan?”
Didengar oleh Teman #2 dan Teman #3 yang ingin menyihir temannya jadi laron.

Sebuah percakapan yang terdengar biasa namun sangat lucu. Okelah, kalau tidak menangkap sisi lucunya dimana, mungkin orang itu terlalu sinis menjalani hidup #eh.

Continue reading

1 Comment

Filed under Book Review