Simpul pertama : Mencari cinta di Paris.

“Apa menurutmu cinta harus diverbalkan? Rasanya saya hanya ingin tertawa melihat orang-orang naif yang memasang gembok di Pont Des Arts”

Ponts Des Arts
Ponts Des Arts

Pernyataan tersebut hanyalah satu dari sekian banyak lontaran pedas Laura di tengah perbincangan kami mengenai kota Paris. Laura adalah seorang pejalan dari Jerman. Inilah enaknya menginap di hostel yang memiliki common room. Kita tidak tahu akan bertemu dengan siapa atau akan membahas apa. Dari perbincangan basa-basi mengenai rute menjelajahi Paris, kami akhirnya bertemu pada titik Pont Des Arts atau yang biasa disebut dengan nama Jembatan Cinta.

Merunut beberapa tahun kebelakang, kebiasaan untuk meninggalkan gembok yang bertuliskan nama pasangan dan membuang kuncinya ke sungai Seine dimulai sejak tahun 2008. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang memulai. Sampai akhirnya kebiasaan terus berlanjut sampai sekarang. Pont Des Arts menjadi terkenal sebagai tempat sepasang manusia memproklamirkan perasaan mereka untuk terus bersama.

Apa cinta memang perlu pengejawantahan seperti itu? Apa memang bentuk perasaan lantas harus disimbolkan dengan sedemikian rupa?

Kenapa saya menjadi ikutan sinis seperti Laura?

Saya sendiri sudah mengetahui sebelumnya bahwa Paris terkenal dengan suasana romantisnya. Hal itu segera terbuktikan ketika saya melihat menara Eiffel lebih dekat. Entah berapa banyak pasangan hilir mudik di depanku. Saling menggenggam tangan, atau sekadar berpelukan. Memperlihatkan kepada seluruh dunia bahwa mereka tengah dimabuk asmara.

Suasana romantis tersebut tidak berhenti sampai disitu. Di Metro yang sedang berjalan, berbagai pasangan sibuk mengekspresikan perasaan mereka. Satu hal yang saya rasakan tampak berbeda dengan Stockholm adalah mereka begitu mudah untuk terlihat passionate dengan pasangannya. Berbicara dengan intim tapi tidak membuat risih. Belum lagi ketika saya berada di Trocadero, menikmati lampu-lampu menara Eiffel satu-persatu. Beberapa kali saya membantu mengambilkan gambar bagi para pasangan yang ingin berfoto bersama. Tidak lagi ada perasaan iri dan dengki, bahwa dunia tidak adil melihat para pasangan tersebut berbahagia dan saya masih sendiri.

Jangan bayangkan saya seperti abg labil yang kehilangan arah. Demi Neptunus sebentar lagi saya sudah memasuki jenjang bupati, bujangan berkepala tiga. *dijitak*. Bukannya menjadi skeptis terhadap sesuatu yang bernama cinta, saya hanya belum menemukan kadar yang pas untuk jatuh cinta. Pasca bubar jalan dengan mantan terakhir 2 tahun lalu, saya menikmati untuk melewati hari bersama teman, nonton konser, nongkrong di gerai kopi, tetapi tetap menyisakan sedikit ruang untuk jatuh cinta lagi.

Seketika saya mengingat satu kata favorit saya untuk menggambarkan Paris. Serendipity. Ketika semesta sudah menetapkanmu untuk bertemu seseorang, maka seluruh dunia akan membentuk harmoni untuk mewujudkan hal tersebut. Saya sendiri masih ingin mempercayai mitos sederhana tersebut, seperti mereka yang mempercaya mitos Pont Des Arts, bahwa cinta akan muncul pada saatnya. Tidak perlu terburu-buru, karena tentu saja ada rumus waktu dan kesempatan yang tepat untuk bertemu.

Serendipity
Serendipity

Terdengar remeh mungkin, ketika jejaring sosial memudahkan semuanya. Tidak ada lagi penantian seperti cerita dalam Serendipity. Ketika mereka mempercayai sebuah cerita akan berlanjut melalui sebuah buku dan selembar uang kertas. Apakah hal itu mungkin terjadi di era Tinder dan berbagai situs jodoh secara online tersebar dimana-mana? Hanya dalam 10 tahun, pola jatuh cinta pada pandangan pertama, pandangan sekilas di toko buku, ataukah plot klise lainnya tergantikan dengan kemudahan swipe kanan kiri dan menjadikan kita menentukan sendiri (bahkan men-judge) profil seseorang. Apa salahnya ketika mempercayai kembali perkataan semesta memiliki rencananya sendiri? Seperti petikan salah satu track favorit dari Roberta Flack,

I’ve been passing time watching trains go by/
All of my life/
Lying on the sand watching sea birds fly/
Wishing there would be someone waiting home for me.

Maybe all we need is time.

You may also like

3 Comments

  1. Saya pernah jatuh cinta, dan itu, bukan pada pandangan pertama.

    Anggap saja gembok-gembok di Pont Des Arts, mewakili secuil harapan dari para hati yang masih berharap dan percaya bahwa cinta itu seperti semua unsur alam: kuat seperti logam dalam gembok, lembut seperti angin dalam puisi, hidup (alive) seperti air di sungai, membara seperti panasnya kawah gunung, dan seterusnya.

    Naif? Mungkin. Bodoh? Mungkin. Romantis? Mungkin. Fakta? Mungkin.
    Bukankah 1001 jalan ke Roma, juga tentang cinta? 1001 malam juga?

    Kalaupun, suatu saat nanti, kita berkata “kehabisan waktu”, itu bukan karena cinta tak datang, melainkan kita yang lupa untuk mencintai hingga waktunya tiba di penghujung hidup.

Leave a Reply