Paris, tidak hanya tentang penanda kota.

Menjejakkan kaki di Paris diisi penuh dengan segudang rencana. Berbekal contekan catatan dari Time, Timeout dan Guardian, rasanya masih bingung dengan banyaknya tempat yang ingin didatangi hanya dalam 3 hari. Praktis saya membuat kategorisasi berdasarkan wilayah, serta prioritas tempat yang hendak dikunjungi. Syaratnya adalah ikon kota, gratis, dan mudah diakses.

Menara Eiffel
Menara Eiffel

Tidaklah terlalu mengejutkan ketika melihat Menara Eiffel atau Arc De Triomphe masuk dalam list utama. Bukankah ini yang menjadi bukti otentik bahwa saya (dan jutaan orang lainnya) pernah ke Paris? Rasanya masih seperti mimpi ketika saya tiba di hostel dan bisa melihat pucuk menara Eiffel dari kejauhan. Ikon yang dulunya hanya dilihat melalui kartu pos atau kotak kecil permainan monopoli kini berada di depan mata.

Sayangnya, saya hanyalah korban kesekian dari perasaan ingin eksis dan menunjukkan bahwa saya pernah ke Paris.
Dibalik semua penanda kota tersebut, saya melupakan satu hal yang paling mendasar. Mempelajari dan mengenali sejarah Paris dan mengapa bangunan tersebut dibuat. Alasan kok liburan mikir yang berat-berat tidak pernah terpintas. Barulah dikemudian hari saya mengetahui bahwa di bawah Arc De Triomphe berbaring jenasah tentara yang tidak beridentitas yang merupakan korban dari Perang Dunia I.

Museum Louvre
Museum Louvre

Bolehlah saya pongah dan mengagumi arsitektur Louvre yang menawan, tapi dibalik bergegasnya saya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, saya seolah hanya menyerap eksotisme dan euforia telah menggapai beberapa ikon dunia tanpa mengetahui sejarah atau simbol yang menyertainya. Saran saya sebelum berangkat menuju simbol kebudayaan tingkat tinggi yang telah menjadi sejarah Prancis tersebut, ada baiknya untuk membaca sekilas tentang latar belakang atau peristiwa yang menginspirasi bangunan tersebut. Kata seorang teman sih, supaya lebih mengharu biru atau lebih meresapi makna dari setiap sejarah dunia. *tsah*

Atau memang saya yang tidak tertarik untuk melihat lukisan Monalisa?

*dikeplak*

Tapi yang bisa saya jadikan alasan pembenaran adalah saya ingin menyerap dan melihat keseharian masyarakat Paris itu seperti apa. Bagaimana mereka bergelut di metro yang mengantar jutaan manusia ke tujuan mereka setiap harinya, melihat mereka menyesap kopi dan menikmati secangkir kopi di kafe dengan tenda otentik berwarna merah, atau bagaimana cara menikmati pastry yang baik dan benar.

Saya tidak ingin hanya menjadi turis yang asal jepret tapi tidak membawa pengalaman yang otentik.

Sore yang basah di Champs-Élysées
Sore yang basah di Champs-Élysées

Akhirnya pilihan rute saya mencakup beberapa tempat non-mainstream yang sebetulnya juga layak dikunjungi. Hal ini semakin bulat ketika sesampainya saya di menara Eiffel, saya terkejut dengan banyaknya orang yang berkumpul dan bergerombol sambil membawa map. Bukannya tidak menyukai keramaian, tapi rasanya melihat manusia sebanyak itu membuat insecure dan kesulitan untuk menyerap suasana magis menara Eiffel. Kesan yang sama melekat pada Arc De Triomphe. Tidak ada titik yang pas untuk mengambil gambar, tergantikan oleh riuh lalu lalang para wisatawan yang sibuk mengambil gambar, laju kendaraan di salah satu jam sibuk kota Paris, para penjual minuman botolan, jasa ojek payung dan kendaraan tur dalam kota yang parkir di tempat yang sangat mencolok mata.

*ke hutan aja mas kalo mau cari suasana sepi*

Pusat perbelanjaan di Champs-Élysées
Pusat perbelanjaan di Champs-Élysées

Hujan sore itu juga membuat perasaan lelah saya semakin memuncak. Mungkin dikarenakan otak sedang menstimulasi dan menyerap puluhan pemandangan dan sensasi baru, sehingga mood juga sepertinya ikut naik turun. Ketika saya menyusuri area Place Charles de Gaulle yang dipenuhi oleh toko-toko perbelanjaan, saya seketika lelah melihat ratusan orang berjalan sambil membawa map, tersenggol oleh orang yang berlalu lalang dan membuat perasaan seakan diburu-buru.

Cafe di area Universitas Sorbonne
Cafe di area Universitas Sorbonne

Maka dengan demikian rute saya untuk hari kedua adalah menghindari pusat keramaian dan memilih untuk menjajal wilayah urban. Ternyata pilihan saya tersebut benar adanya. Ada kenyamanan tersendiri ketika saya menjelajahi wilayah selatan Kathedral Notre-Damme dan melihat Universitas Sorbonne yang termahsyur itu. Saya hanya duduk terkesima melihat para mahasiswa yang berlalu lalang, calon pemikir hebat dunia. Saking ketatnya penjagaan universitas Sorbonne, setiap pintu dijaga oleh 4 orang petugas keamanan. Setiap mahasiswa atau dosen harus memperlihatkan identitas sebelum diperbolehkan masuk. Entah berapa lama saya duduk dan tenggelam dalam pikiran sendiri.

Menurut saya itulah salah satu arti berjalan. Ketika kau bisa melihat dan menyerap setiap nilai yang bisa kau refleksikan kedalam keseharianmu. Rasanya sangat tertohok ketika mengetahui bagaimana upaya seseorang untuk masuk dan belajar di universitas ini. Entah berapa nilai IQ mereka. Saya mencapai titik malu pada diri sendiri, mengingat beberapa mata kuliah saya hanya jalani begitu saja. Tidak pernah begitu serius untuk memahami dan mengerti inti pelajaran. Saya menganggap toh nanti saya sudah ditunggu oleh pekerjaan yang akan menjadi rutinitas. Saya lupa bahwa fokus dan pelajaran ini adalah sarana untuk menempa diri menjadi lebih baik. Belum pernah saya mendapat luapan emosi sebesar itu untuk menghadapi bangku kuliah. Rasanya tidak sabar untuk segera kembali ke Stockholm dan membaca semua materi perkuliahan.

Setelah mengunjungi taman Luxembourg, saya melanjutkan penjelajahan di area selatan untuk mencari masjid besar Paris. Sebenarnya saya bisa menemukan lokasi tersebut dengan menggunakan metro. Tetapi menurut acuan peta, saya hanya terpisah beberapa blok. Ternyata mencari lokasi masjid tersebut bisa dikatakan susah-susah gampang karena blok-blok jalanan Paris tidaklah simetris. Saya harus terus memperhatikan nama jalan dan menyesuaikannya dengan peta. Dikarenakan jalan tersebut hanya berupa setapak atau gang kecil, nama jalannya tidak begitu nampak di peta. Mau diapakan lagi, saya harus tersesat beberapa kali!

You may also like

6 Comments

  1. kak iqko….kerennn B.G.T….jadi termotivasi kesana gegara baca tulisan ini (+ trims tips untuk membaca sejarah terlebih dulu hehee)…oiya, sempat ke toko buku yg dijadikan setting film Before Sunset? kalau someday saya ke Paris, sy harus foto di makamnya Sartre dan Beauviour :p

    ditunggu cerita selanjutnya ya kak 🙂

    1. gak sempat =(, padahal sudah masuk dalam daftar to-do-list, cuma karena beberapa lokasi tersebar di ujung utara dan selatan, malah jadi terlewatkan. Saya hanya sempat ke taman lokasi before sunset dan saya hanya tersenyum membayangkan Emma dan dirimu =))

Leave a Reply