Mari berwisata ke Gorontalo.

Bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu provinsi termuda di republik ini. Menghabiskan waktu di Gorontalo berarti bersiap dengan hawa panas yang setia menemani, makanan pedas, serta sapaan khas masyarakat Gorontalo.

Kedatangan saya kali ini sebagai tim pendukung peserta pelatihan kepemimpinan yang sedang melakukan visitasi ke pemerintah lokal. Berhubung menjadi tim pendukung artinya harus mengurus segala tetek bengek kebutuhan peserta, syukurlah saya masih bisa menikmati beberapa ikon wisata Gorontalo.

Satu persamaan yang membuat Gorontalo terasa seperti Makassar adalah panas yang menyengat. Walaupun hujan sempat turun di sore hari, gerah tetap terasa. Jadinya harus sering-sering mandi untuk mengatasi keringat berlebih. Rombongan kami menginap di Kabupaten Limboto, sekitar 30 menit dari Kota Gorontalo. Disini bisa melihat apa?

Yah namanya travelling tebengan, akses saya bergerak kurang leluasa. Kami hanya sempat mengunjungi Mesjid Agung Limboto dengan menaranya yang sangat megah. Salah satu ciri khas mesjid yang terletak di pusat kota ini adalah ruangan mesjid yang dirancang terbuka. Angin semilir selalu terasa ketika kami melaksanakan shalat jumat disana. Plus, karena terletak di tengah kota, di belakang masjid banyak terdapat tempat makan lokal yang rasa pedasnya juara.

Berbicara tentang kuliner memang Gorontalo tidak bisa dipisahkan dengan kata pedas. Selama beberapa hari disana, lambung kami dihantam oleh makanan pedas pagi, siang dan malam. Salah seorang supir lokal yang kami gunakan jasanya untuk mengantar kami menjelaskan bahwa itulah ciri Gorontalo. Cuaca yang panas ditambah rasa yang pedas. Bahkan selorohan peserta diklat ada yang mengatakan bahwa hanya nasi putih dan buah saja yang tidak terasa pedas. Nah loh.

Apakah ini pengaruh dari masakan Menado yang terkenal dengan rica-ricanya? Bisa jadi demikian. Tapi rasa pedas itu diganjar dengan masakan yang terasa lezat. Kalau kebetulan berkunjung ke Gorontalo, jangan lewatkan kesempatan untuk singgah di restauran (lupa namanya ) yang terletak setelah pintu keluar bandara. Menu khas yang wajib dijajal yaitu ikan masak woku dan ikan rica-rica tentu saja. Kalau kebetulan berkunjung sampai ke Kab. Limboto, maka rekomendasi tempat makan yang oke jatuh pada RM. Fajar Limboto dan RM. Saung Telaga yang menawarkan konsep makanan lokal.

Khazanah kuliner lain yang wajib dicoba adalah binte biluhuta. Makanan khas Gorontalo ini terbuat dari jagung yang dipipil kemudian dimasak bersama ikan, kelapa, dan berbagai bumbu lokal. Rasanya sangat segar dengan campuran daun kemangi yang terasa menonjol. Dari browsing sana-sini, tempat makan binte biluhuta yang terkenal adalah warung Syakinah yang juga berada di Kabupaten Limboto. Sayangnya ketika berkunjung kesana warungnya sudah tutup. Jadilah saya harus puas dengan varian binte biluhuta yang disajikan oleh peserta pelatihan yang kebetulan berasal dari Gorontalo. Binte ini seperti bubur menado. Rasanya berbeda tergantung rumah yang membuatnya. Kalau anda pecinta ikan dan jagung, maka kuliner ini tidak boleh dilewatkan.

Setelah puas dengan kuliner, maka saatnya menjajal obyek wisata Gorontalo. Ketika meminta petunjuk dari traveler yang telah lebih dulu berkunjung, saya mendapati variasi wisata Gorontalo cukup banyak namun tersebar di berbagai titik yang berjauhan. Karena waktu yang singkat, kami hanya sempat berkunjung ke Benteng Otonaha yang merupakan benteng peninggalan Belanda. Benteng ini konon dulunya sudah sempat berpindah tangan ke Jepang, yang kemudian kembali lagi ke tangan rakyat Indonesia. Saya juga sempat mendatangi muesum tempat Presiden Soekarno mendarat dengan menggunakan pesawat amphibi pada tahun 1956. Museum kecil ini berisikan foto-foto Soekarno beserta petikan pidato. Untuk mereka yang menyenangi sejarah Indonesia, tempat ini seperti harta karun yang sangat berharga.

Bunga di dalam benteng

Kabupaten Limboto juga terkenal sebagai penghasil kain kerawang yang sangat khas. Kami sempat mengunjungi toko yang menjadi tempat para pengrajin mengumpulkan hasil tenunannya. Kain karawang ini khas dengan pola yang terletak di bagian depan baju. Jadi mau memilih kemeja yang telah jadi atau memilih kain kemudian menjahit sendiri, terserah dengan kondisi kantong masing-masing.

Pemandangan pantai di Kab. Bone Bolango

Titik terakhir yang kami kunjungi adalah pantai yang terletak di Kabupaten Bone Bolango. Perjalanan yang ditempuh selama satu jam terbalas dengan pemandangan yang menanti kami, hiu paus yang hidup di perairan pantai. Menurut penduduk setempat, kawanan hiu paus ini sudah lama mendiami perairan pantai tersbut. Karena sudah terbiasa diberi makan oleh masyarakat, jadinya mereka betah berada di pantai. Untuk melihat ikan hiu paus ini kita harus menyewa perahu kecil yang memuat 2 orang. Kita juga harus membeli pakan yang berupa kulit udang untuk memberi makan ikan-ikan tersebut. Saya merasa kok jadinya kawanan ikan ini seperti dieksploitasi yah 

Jejeran perahu siap disewa untuk berinteraksi dengan hiu paus

Kota Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Lmboto memiliki banyak potensi wisata yang bisa dijelajahi. Walaupun akses yang masih kurang, tapi rasanya tinggal menunggu waktu saja sampai daerah ini menjadi primadona wisata di kawasan tengah Indonesia. Yuk, mari berwisata ke Gorontalo!

You may also like

1 Comment

  1. Kampungnya macekuuu.
    Benar sekali, kami penyuka makanan pedas. Saya bahkan merasakan level pedasku naik beberapa tingkat. Sering sekali merasa sambal yang ada kurang pedas 😀

Leave a Reply