(berasa) Seleb dan Silaturahmi yang terputus

Ada satu yang pasti ketika masa lebaran tiba. Reuni! Entah mulai reuni teman SMP, SMA, Kuliah, sampai reuni sahabat yang telah tertukar kota. Semuanya dijalani layaknya seorang artis tenar ibukota. Sibuk menyesuaikan jadwal dan tanggal. Semuanya senang. Sampai pada satu statement keluar,

“Ah kamu sombong sekarang”

Hah? Sombong dari Hongkong?

Terus terang saya sendiri tidak mengerti bagaimana dan apa yang terjadi sampai statement ini keluar dari mulut beberapa orang teman. Saya berusaha merunut kembali, apa yang telah terjadi. Setelah omong demi omongan pada sesi reuni, tahulah saya bahwa kesombongan saya itu dicap dari chat di facebook yang tidak berbalas. Katanya tidak sekali, tapi berulang kali. Dhuar!

Ada pula yang mengatakan bahwa di grup BBM teman SMP saya yang paling pasif dalam berinteraksi. Tidak pernah nimbrung di obrolan. Kalo di ajak ketemuan selalu sulit dan harus atur waktu dulu. Hadeuuu! Kok saya sekarang berasa seorang seleb dari negeri antah berantah?

Ternyata beberapa social media memang berperan besar dalam menapaki pergaulan pasca “sekolah” atau kehidupan bersama yang diikat oleh suatu institusi. Jaman saya SMP belum ada fesbuk ataupun twitter. Kami menjalin silaturahmi dengan mengupayakan berkumpul sekali setahun. Itupun yang berdomisili di Makassar saja.

Lantas benarkah media social akan mendekatkan kita?


Sepertinya harus ditilik lagi perspektif personal. Kesalahpahaman itu terjadi ketika saya iseng mengaktifkan fasilitas chat di facebook. Tahulah jam kantor dan saya harus mondar mandir kesana kemari. Ternyata di masa “idle” itulah dia datang dan menyapaku. Berniat untuk ngobrol. Lah, kan saya gak liat sapaannya, eh udah dibilangin sombong? Hadeuu! Belum lagi foto jadul yang di tag. Saya yang paling jarang komentar. Ketika mereka sudah saling perang dalam mengingat momen di masa lalu. C’mon guys!

Saya akui saya memang termasuk siswa medioker di jaman sekolah. Berusaha tidak menonjol dan tidak disadari keberadaannya. Korban bully berjamaah. Lah lantas, apa yang bisa saya ceritakan? Ketika ritme kehidupan saya dulu tidak banyak bersinggungan? Lantas sekarang ketika mereka melihat pola kehidupan saya sekarang beredar di banyak tempat, mereka bilang sombong?

Sungguh aneh proses silaturahmi yang terjalin antara kenangan dan media sosial. Saya berusaha mengingat tanggal lahir semua teman. Berusaha menyapa mereka, tapi kalau memang tidak ada bahan pembicaraan, apakah harus dipaksakan untuk bertegur sapa?

Yang pastinya, saya tidak pernah memutuskan silaturahmi. Saya malah ingin terus memperluas ikatan dan lingkup pertemanan. Walaupun akhirnya hidup saya seperti orang sibuk, bergelayutan dari satu komunitas ke komunitas yang lain. Saya bukan seleb. Saya hanya orang yang senang hidup di samping teman-teman saya yang sekarang. Bukan dalam kenangan genangan.

You may also like

2 Comments

  1. Jika menilai orang sombong atau tidak hanya berdasarkan pada sistem itu, maka alangkah tidak bijaknya manusia-2 itu, mereka tidak melihat dan menyaksikan apalagi merasakan situasi yang sebenarnya. Dan ketahuilah, bahwa, manusia punya keterbatasan dalam hal konsentrasi. Jika 1 orang melayani 100 orang belum lagi pekerjaan menumpuk, apakah sanggup bersamaan?.

    Sombong dari hongkong?, ya … paling mafia di sana yang sombong, hehehe…

    oke, thinking positive and SADAMDA BASEMEN, salam damai dan bahagia selalu menyertai, amin

  2. gue pernah tuh dibilangin sombong gara-gara nggak nyapa ato up date padahal khan gue ga tau. soalnya terlalu banyak media sosial. kasusnya hampir sama cuma perasaan terlalu dibesar-besarkan ma orang2 yg gossip an.

Leave a Reply