Banjarmasin Trip #1 : Kota Seribu Jembatan

Sejak jaman SD mata pelajaran Geografi selalu menjadi kelemahan saya. Entah mengapa saya tidak pernah tertarik untuk mengeksplorasi Indonesia. Sampai jumlah propinsi di Indonesia pun kadang saya lupa. Jangankan itu saja, bahkan di peta buta pun saya bisa tersesat. Benar-benar tersesat.

Suasana Pasar Terapung

Barulah beberapa tahun terakhir saya tergerak untuk menjelajahi Indonesia. Terlambat? Bisa jadi. Tapi bukankah kata pepatah biar terlambat daripada tidak sama sekali. Alhamdulillah tempat saya bekerja pun mendukung untuk terlaksananya edisi jalan-jalan sambil bekerja ini.
Kota terakhir yang baru saya kunjungi adalah Banjarmasin, dan 3 hari disana dipenuhi dengan banyak pengalaman menarik! Salah satunya adalah saya menjuluki Kota Banjarmasin sebagai Kota Seribu Jembatan! Walaupun dari penjelasan Dinas Pariwisata setempat, Banjarmasin lebih dikenal dengan Kota Seribu Mesjid dan Kota Seribu Sungai. Nah, ada seribu sungai berarti ada seribu jembatan juga dong!

Kita dengan mudahnya menemukan jembatan yang mengubungkan beberapa daratan di Kota Banjarmasin. Sekedar informasi saja bahwa ada 2 sungai besar yang membelah Kota Banjarmasin menjadi bagian-bagian kecil dengan anak sungainya masing-masing yaitu sungai Mahakam dan Sungai Barito. Jejeran anak sungai mudah kita temukan dimana-mana. Bahkan, dari penjelasan Febri, seorang teman di Banjarmasin mengatakan bahwa sebenarnya Kota Banjarmasin terdiri dari beberapa pulau kecil yang dihubungkan oleh jembatan-jembatan tersebut. Tetapi kita tidak menyadari dan merasakan bahwa Kota Banjarmasin sebagai satu daratan saja.

Salah satu jembatan di Lingkar Luar menuju Palangkaraya

Ada banyak legenda lokal yang diceritakan Febri kepada saya tentang Kota Banjarmasin. Seperti apakah ada buaya di sepanjang anak sungai yang membelah kota? Untuk anda yang memiliki rasa tidak nyaman dengan aliran sungai yang berwarna kecoklatan, bisa dipastikan bahwa sungai-sungai di Kota Banjarmasin aman dari makhluk tersebut. Mengingat sebagian besar penduduk menjalankan aktivitasnya di pinggir sungai, mulai dari memasak, mencuci bahkan mandi ataupun salah satu objek pariwisata yang dikenal dengan nama Pasar Terapung, maka buaya bisa dikatakan tidak ada lagi. Mereka memiliki pawang khusus yang memerintahkan buaya tidak masuk dan berkeliaran di sungai dalam kota.

Gerbang Selamat Datang Kota Banjarmasin

Perjalanan ke Kota Banjarmasin dari Bandara Syamsuddin Noor membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 45 menit. Memasuki wilayah kota, ada pengalaman yang sangat familiar ketika melihat struktur gedung yang berada di Kota Banjarmasin. Beberapa bagian kota mengingatkan saya kepada bagian “kota lama” yang ada di Makassar. Seperti melakukan perjalanan kembali ke deretan gedung yang ada di jalan Bandang, Tentara Pelajar, Veteran Selatan pada awal tahun 2000 an. Masih banyak bangunan tua yang tetap digunakan untuk beraktivitas. Seperti menikmati kembali romansa kota Makassar beberapa tahun silam.

Akses kendaraan umum yang bisa digunakan di Kota Banjarmasin adalah Taksi! Jangan berpikiran mahal dulu. Kalau di daerah lain, Taksi biasanya untuk mobil sedan yang dijalankan dengan sistem argo, maka Taksi yang ada di sini adalah Pete-Pete! Sayapun sempat bingung pada awalnya ketika menanyakan “Taksi” yang bisa diminta nomor teleponnya. Teman saya menjawab, “cari saja rutenya”. Jadi memang lain kota, lain juga sebutannya :D.

Saya sendiri lebih praktis menggunakan ojek. Ya, ojek sangat gampang ditemukan di berbagai sudut Kota Banjarmasin. Tidak perlu khawatir untuk ditipu dan diberi harga tinggi, karena disana masyarakatnya bahkan sudah memiliki awareness bahwa Wisata adalah salah satu sumber pendapatan daerah. Jadi mereka bersikap baik kepada semua orang. Salah satu istimewanya lagi adalah semua tukang ojek di Kota Banjarmasin sudah terdaftar dalam semacam Paguyuban Tukang Ojek se Indonesia. Plus sudah termasuk dengan asuransi dan data dimana mereka biasa mangkal. Jadi tenang saja ketika menggunakan jasa ojek di kota ini.

Ada banyak hal yang bisa dinikmati di Kota Banjarmasin ini. Mau kemana saja? Ada apa saja disana? Sabar, saya akan mematahkan perjalanan saya di Banjarmasin dalam beberapa tulisan. Tetapi salah satu momen terbaik yang saya dapatkan adalah menimati seutas senja di sebuah jembatan Kota Banjarmasin. Perpaduan antara semburat senja dan pantulan lampu hias membuatnya begitu cantik. Ah, Banjarmasin!

You may also like

5 Comments

  1. Jadi, sekarang sudah tau kalau Banjarmasin itu beda sama Pontianak. Haha..

    Waktu mau naik ojek pasti sempat ditanya “handak kemana ay?”? Yg artinya mirip-mirip “mau kemana ki’?”

  2. eksotik kehidupan di sungai2 banjarmasin tidak kalah eksotik dari pasar sungainya di thailand, kapan ya produser hollywood itu bisa menangkap bagaimana eksotiknya kehidupan sungai di kalimantan ini 🙂

Leave a Reply