Nguping Jakarta; rekaman percakapan absurd yang menyenangkan

BookOfTheMonthJuni-NgupingJakarta

Kenapa harus Jakarta? Ini mungkin pertanyaan yang paling sering muncul ketika menyebut Nguping Jakarta. Yah, karena merekalah yang pertama kali membuatnya! Mengingat juga bahwa Jakarta adalah tempat berkumpulnya manusia yang sangat beragam, dengan berbagai kultur dan tingkah laku. Maka mendengar beberapa celotehan tidak wajar dari warga Jakarta membuat kita terhibur dan mudah-mudahan tidak melakukan kesalahan yang sama.

Dalam bagian buku yang berupa sambutan, kedua kuping ini bercerita sedikit mengenai perihal ngupingjakarta yang sangat fenomenal. Bagi mereka yang hidup dan fasih blogwalking, maka nguping jakarta.blogspot.com menjadi salah satu blog yang wajib dikunjungi. Setiap postingan baru akan memunculkan puluhan sampai ratusan komentar.

Padahal, itu hanyalah postingan biasa yang berisikan,

Teman #1 : “Aaaaah!” (sembari menunjuk ke langit-langit)
Teman #2 : (terkejut) “Apaan, sih?”
Teman #1 : “Itu! Ada cicak, masa kakinya empaaaat?!”
Teman #3 : “Emang cicak kakinya berapa?”
Teman #1 : “Dua, kan?”
Didengar oleh Teman #2 dan Teman #3 yang ingin menyihir temannya jadi laron.

Sebuah percakapan yang terdengar biasa namun sangat lucu. Okelah, kalau tidak menangkap sisi lucunya dimana, mungkin orang itu terlalu sinis menjalani hidup #eh.

Blog NgupingJakarta lahir pada tanggal 4 September 2008. Berasal dari pengalaman Kuping Kanan dan Kuping Kiri pada saat memesan makanan di salah satu restoran. Ide mereka original? Yah, nothing new under the sun. Kalau kemudian orang berubah menjadi sinis, melihat blog ini hanyalah jiplakan Overheard In New York. Tapi yang membuatnya beda adalah konten lokal yang digunakan sangat sering terjadi di keseharian. Bahkan kadar absurditasnya pun sangat mendukung.

Buku Nguping Jakarta kemudian dibagi menjadi 6 tema umum. Maklum saja, mengingat jumlah postingan di blog NgupingJakarta sudah sedemikian banyaknya dengan tema yang beragam pula. Maka tema sentral yang ditetapkan mampu menggambarkan kejadian absurd di lini tersebut. Sebut saja kekonyolan dalam dunia pendidikan, tentang gagap teknologi, cerita tentang keseharian keluarga, area kantor dan tempat kerja, sampai tepok jidat secara massal memudahkan kita menikmati flow buku ini.

Yang membuat saya dan orang lain menjadi histeris adalah membaca footnote atau tanggapan tambahan ketika akhir percakapan. Bisa jadi footnote tersebut nyambung, bisa juga jadi jaka sembung bawa golok. Tapi efek nyinyir dan sarkasme yang dikandungnya membuat kita mampu menertawakan absurditas tersebut. Contoh saja,

Teman #1 : “Eh, jalan ke sana takutnya one way, nih …”
Teman #2 : “Ah, gak papa. Kita, kan, berlima”
Kebayoran, didengar seisi mobil yang bersiap tawuran kalau ada mobil lain menghadang.

Punch line pendek, sinis, dan terkadang membuat kejutan yang sangat besar. Rasanya membaca habis buku ini dijamin membuat rahang menjadi sedikit kaku karena kebanyakan tertawa. Tidak perlu ragu untuk menikmatinya dari mana saja. Walaupun dibaca dari halaman awal sampai akhir atau sebaliknya, efek buku ini akan tetap sama. Menyegarkan!

Tentu saja kisah NgupingJakarta ini tidak hanya berisikan pengalaman Kuping Kanan dan Kuping Kiri saja (yes, they are couples and have been married), tetapi banyak penguping lain yang menjadi kontributor. Barisan lengkapnya ada pada bagian belakang, sebagai penghormatan akan kecermatan mereka menggambarkan lagak percakapan warga Jakarta.

Selamat menikmati kekonyolan dalam buku ini. Jangan heran kalau suatu hari anda kemudian terinspirasi untuk membuat hal yang sama dengan merekam percakapan sekitar dengan lakon yang lebih lokal. Selamat menguping!

You may also like

1 Comment

  1. kalau saya, yg bikin ketawa itu justru punch line di akhir percakapan..
    absurdnya itu lho..
    tapi sumpah, saya juga suka sekali blogwalking ke blog itu, pernah sy kasih liat temanku dan dia cuma bilang : di mana lucunya? ndak mengertika’

    #halah

Leave a Reply