Search results

16 results found.

Mengenal Kuliner Swedia, dari Ikan Herring sampai Lingon Berry

6 bulan tinggal bersama Arne Perrson, rasanya pengalaman kuliner khas Swedia saya sudah tidak perlu diragukan. Beberapa kali dia memasak atau membuat sesuatu, saya juga berkesempatan untuk mencicipinya. Semalam saya juga berkesempatan untuk melihat lebih lengkap apa saja yang dihidangkan ketika makan malam dengan tema Swedish Food yang diselenggarakan oleh Student Union. Hasilnya? Sebagian besar sudah pernah saya rasakan!

radioholicz-swedishdinner-1

Ketika browsing mengenai makanan apa yang wajib dicoba ketika sampai di Swedia, beberapa channel atau tulisan di internet menyebutkan Surströmming sebagai raja kuliner Swedia. Penganan ini berupa ikan herring yang difermentasikan dalam kaleng sehingga menguarkan aroma yang kuat. Kadar baunya dibandingkan dengan durian—buah kontroversial itu—bahkan sudah ada aturan untuk menyantap Surströmming ini di luar ruangan. Karena gas yang membawa bau ikan tersebut akan menempel di furnitur, dan tercium di seluruh apartemen. Saya tidak sabar menunggu musim semi atau musim panas untuk mencobanya, sehingga saya benar-benar menjadi warga Swedia seutuhnya. Hahaha.

Continue Reading

Gang Aut; surga kuliner Kota Bogor

Menghilang selama 12 jam di Kota Bogor memang tidak bisa membawa cerita banyak. Hanya beberapa tempat yang berhasil saya kunjungi seperti Kebun Raya Bogor dan berjalan keliling menikmati suasana kota. Satu hal yang saya sesali adalah rencana dadakan menyusuri Gang Aut. Ternyata disinilah surga kuliner di Kota Bogor.

The journey starts here, Combro! :9
The journey starts here, Combro! :9

Mencari lokasi ini sebenarnya agak mudah. Cukup mencari jalan tepat di depan pintu masuk Kebun Raya Bogor. Gang Aut adalah sebuah lorong yang letaknya persis di titik akhir Jalan Suryakencana yang kemudian menjadi titik awal dari Jalan Siliwangi. Perhatikan juga trayek angkot yang hendak dinaiki, tidak ada salahnya kalau bertanya terlebih dahulu. Maklum, popularitas angkot sepertinya diatas standar rata-rata. Mereka menjamur dan ada dimana-mana. Persoalan selanjutnya adalah, dimana lokasi yang paling pas untuk memulai petualangan kuliner?

Continue Reading

Menjajal Kuliner Kantor Pos Besar

Jalan Pattimura, Jalan Balaikota selalu disebut sebagai wilayah kota lama. Mengapa? Saya sendiri menduga karena posisi jalan ini dipenuhi oleh berbagai instansi pemerintahan yang dulunya menjadi pusat kota. Sebut saja kantor walikota dan berbagai dinas lainnya. Belum lagi wilayah pelabuhan, pecinan, taman kota, sampai pusat perbelanjaan emas dan oleh-oleh di jalan Sombaopu.

Satu bangunan yang kemudian menjadi ikonik adalah Kantor Pos Besar. Sebagai salah satu bangunan “penanda” lokasi di daerah ini, beberapa wisata kuliner lekat dengan embel-embel “kantor pos besar”. Apa saja yang bisa dinikmati?

Ada cumi-cumi juga yang bisa dibakar!

Terletak di depan Kantor Pos Besar, depan taman macan, berdiri warung makan yang bisa sangat menggoda iman kala jam makan siang tiba. Bersyukurlah mereka yang berkantor di area ini, karena pilihan makanan yang sangat beragam. Mulai dari warung ikan bakar sampai soto banjar yang sangat terkenal.

Continue Reading

Sotoji; calon primadona baru dunia kuliner.

Saya adalah penggemar mie. Mulai dari jenis mie apapun bisa saya nikmati. Katakanlah mie pangsit, mie kuah, mie goreng, mie kering, mie celup dan berbagai olahan lainnya. Tempat menikmatinya pun kadang sudah tidak perduli dengan lokasi. Mulai dari warung makan, restoran, sampai lokasi yang agak Virgo (vinggir got) kalau memang rasanya nampol, pasti akan saya jabani. Akibatnya? Asupan karbo yang terus meningkat dan berjalan seimbang dengan lingkar perut. *puk-puk ikat pinggang*

Tidak sehat? Bukan hanya sekali saja saya membaca artikel ataupun melihat berita tentang asupan karbo yang terkadang tidak seimbang dari satu porsi mie. Syukur-syukur kalau jenisnya berupa mie pangsit yang ditambah dengan sawi hijau atau sawi putih, lah kalau sudah dapat mie china, atau mie kuah. Malah ditambah dengan ubi goreng atau lontong pula!

Sotoji

Maka berkenalanlah saya dengan satu produk baru yang katanya akan bisa menjadi alternatif pengganti mie. Maklum, saya sudah termasuk kadar posesif dengan mie. Bahan alternatif yang bisa jadi pengganti? Bihun! Bihun, atau yang di negara-negara tetangga dikenal sebagai bihon,bijon, bifun, mehon, dan vermicelli, prinsip pembuatannya memang bersumber pada beras. Awalnya beras digiling menjadi tepung kemudian dimasak dan melalui proses dicetak menjadi benang-benang, lalu dikeringkan dan dijual dalam berbagai kemasan. Kini bihun tersebut hadir dalam kuah soto yang bernama Sotoji. Lah bukannya terigu dan beras itu sama-sama karbo?

Continue Reading