Kata-kata

PicsArt_1392718042291PicsArt_1392701779106

PicsArt_1392717819276

PicsArt_1392718003388Tulisan diatas adalah potongan  dari tumblr penyanyi favorit saya, Tulus, yang merangkai banyak kata-kata ajaib tentang kesehariannya. Merayakan rilis album keduanya, Gajah, saya selalu tertarik melihat bagaimana Tulus memaknai semuanya, maka pantaslah dari segi lirik semua lagu-lagunya mempunyai metafora yang sangat menyenangkan.

Continue Reading

Kings of Leon ~ Beautiful War

*Saya yakin bawa album Mechanical Bull memiliki banyak track yang handal setelah mendengar “Supersoaker” yang didaulat sebagai single andalan medio bulan Juli tahun lalu. Single yang lain, “Beautiful War” hadir dengan suasana yang jauh berbeda dengan keriuhan pendahulunya. Vokal Caleb Followil seolah mengawang-awang ditemani petotan bass Jared Followil. Berkisah tentang perjuangan, inilah salah satu track terbaik dari Kings of Leon.

Continue Reading

The Girl with Glass Feet; tentang menemukan harapan.

Barangkali Saint Huda adalah tempat terakhir yang ingin didatangi sebagai tempat liburan. Dengan suasana yang kelam, rawa-rawa, hutan tidak bertepi dan kabut yang menyelimuti semua bagian pulau, menyebabkan keterasingan yang misterius diantara semua makhluk yang hidup didalam buku The Girl with Glass Feet. Tentu saja termasuk mitos-mitos yang terdengar tidak masuk akal sekalipun.

Pun kedatangan Ida Mclaird sebagian besar untuk mencari tahu apa yang terjadi pada kakinya. Perlahan namun pasti kakinya berupa kaca, memperlihatkan urat-urat yang mengalirkan darah segar. Dimulai dari telapak kaki, berlanjut hingga ke pangkal paha. Semua pencariannya kemudian berbalik arah ketika bertemu dengan Midas Crook. Seorang pemalu, hidup dalam pikirannya sendiri dan lembaran-lembaran monokrom cetakan fotonya.

Ketika kisah kemudian mengalir, kita akan mengetahui penyebab Midas Crook menjadi seorang penyendiri. Saya selalu tertarik dengan hubungan ayah dan anak, psikologi yang kemudian tertoreh dan menjadi bekal bagaimana seseorang akan bersikap kelak. Midas yang kesehariannya hanya diisi oleh Gustav, sang sahabat, bersama Denver, anaknya, pelan-pelan menemukan sisi-sisi kemanusiaan yang membingungkannya. Bagaimana bersikap dengan semua deru emosi yang melanda.

“… jalanan itu menurun. Dua burung camar terbang melintas, saling berpagutan sembari terbang, dan Ida menangkap sekilas mata kuning mereka. Tak lama kemudian burung-burung itu telah menukik sejajar dengan laut, sangat dekat dengan ombak-ombak yang memecah dan semburan air laut yang membuat jalan mereka berkabut.” (hal. 265)

Continue Reading