Kepada M, tentang jejakjejak.

Halo M, saya yakin kamu masih terlelap saat ini. Membalaskan sisi nocturnal yang kian membuas, yang hanya bisa dilampiaskan ketika hari libur tiba. Tahukah kau dimana saya berada sekarang? Menjadi bagian dari orang-orang yang berjalan, berpisah, mencoba mengejar pesawat di subuh hari.

Sebenarnya saya tidak pernah menyukai first flight, menghabiskan sebagian pikiran untuk tetap sadar, menyetel alarm, dan kemudian berpacu dalam lengangnya jalanan. Tetapi dibalik semua eskalasi ketegangan itu, yah tidak ada yang menyamai keadaan di ruang tunggu keberangkatan. Tentunya kau pun pernah berada di tempat ini. Aneh yah M, ketika kita bisa merasa rapuh dan kuat di saat yang bersamaan. Melepaskan kehilangan ataukah mencoba mencari mimpi yang terjejak di tempat lain.

Image by http://vi.zualise.us
Image by http://vi.zualise.us

Terakhir kau bercerita dan bertanya bagaimana tahun ini akan berjalan, dan resolusi apa yang akan kita ancang-ancang sebelum tahun baru tiba. Percakapan yang seolah menjadi basi ketika melihat kembali set-list do and don’t yang kita buat setahun sebelumnya. Ada yang terlaksana, ada yang harus dikompromi dan bahkan ada beberapa kebutuhan tambahan yang datang secara tiba-tiba.

Saya juga mencoba melacak kembali jejak-jejak itu M, jejak optimis dalam membuat rencana. Saya tidak ingin berkilah dalam frase, “toh Tuhan juga yang menentukan”, tapi bagaimanapun semua rencana itu merupakan akumulasi dari semua persiapan dan keinginan. Mungkin momentum terbesar saya tahun lalu adalah mendapatkan kesempatan untuk sekolah lagi. Kaupun sudah mengetahuinya M, bahwa ada alasan yang membuat saya harus berjalan sejauh itu. Untuk menemukan satu jawaban lagi. Bukankah hidup memang serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang terkadang terasa menjemukan?

Continue Reading