Maybe Tomorrow

MaybeTomorrow

I look around at a beautiful life
For been the upper side of down
Been the inside of out
But we breathe

So maybe tomorrow
I’ll find my way home.

(Stereophonics ~ Maybe Tomorrow)

just when you realized, there’s something must be ended.

Continue Reading

Ninecredible Journey!

Rasanya 9 tahun bukan waktu yang pendek, ketika sebuah kegemaran bisa menyatukan banyak individu dengan sebuah visi yang sama. Berbekal kenekatan dan kegilaan terhadap genre musik mancanegara, inilah wadah yang menampung semua hal tersebut diatas. Sungguh 9 tahun adalah sebuah perjalanan yang tidak bisa diremehkan.

Ninecredible!
Ninecredible!

Dalam perjalanan CreativeDisc ada banyak perubahan yang terjadi. Munculnya kontributor baru, dengan taste yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda dalam membuat sebuah ulasan. Ketika dulu kami berebut untuk membuat daftar artis yang kami sukai, rasanya sekarang menjadi lebih berbeda. Mungkin karena musik yang keluar hampir terasa beragam. Atau kami yang bertambah tua? Hahaha.

Continue Reading

A new chapter.

Rasanya aneh ketika memikirkan bahwa terkadang memang sebuah ucapan bisa menjadi doa yang sangat mujarab. Kita tidak pernah tahu, bahwa kapan malaikat lewat dan mengiyakan sebuah perkataan. Saya yang dulunya selalu membenci ritme ibukota, akhirnya menjadi bagian manusia urban. Yang selalu menyegerakan langkah. Yang selalu tertatih dengan waktu.

Pemandangan tiap hari :D
Pemandangan tiap hari 😀

Siapa yang menyangka, saya yang sepuluh tahun lalu harus menerima kenyataan bahwa memang kapasitas otak tidak mampu menembus perguruan tinggi negeri. Bahwa memang mungkin Tuhan punya cerita lain. Saya masih ingat apa perkataan bapak, ketika melihat saya pulang membawa koran pengumuman kelulusan SPMB,

“lantas kamu mau kuliah dimana? Swasta?”

“Entahlah pak, saya juga masih bingung”

Pertanyaan dan perkataan yang membuat saya masih gamang sampai beberapa waktu. Apalagi ketika bapak tahu saya lebih memilih menjadi operator warnet. Bekerja selama 8 jam sehari dengan iming-imingan koneksi internet semaunya. Ditambah lagi dengan kenekatan untuk menjadi penyiar di salah satu radio anak muda. Maka sukseslah saya menjadi salah satu pengangguran yang sibuk. Sampai suatu hari seorang sepupu mendapati saya yang kerja jadi operator warnet dan meneruskan cerita itu kepada bapak.

“kamu mau jadi apa sebenarnya?” itu pertanyaan bapak sekali lagi. Ketika saya baru saja masuk rumah. Tanpa dia tahu bahwa anaknya, telah siaran dari jam 9 pagi, kemudian lanjut bekerja sampai jam 8 malam.

Bahwa mungkin saat itu saya telah memilih jalan hidup saya sendiri. Melesat jauh dari 3 tahun menjadi anak STM sambil berpikir, apakah memang ini hidup yang ingin saya jalani? Ketika saya menjelaskan bahwa masih ada setahun untuk memikirkan akan kuliah dimana. Apakah memang masih ada pilihan lain yang bisa dijalani.

Sampai semua skenario Tuhan memang berjalan sempurna.

Dengan semua fase drama di rumah. Dengan semua pertemanan yang terjalin. Dengan semua pilihan akan kuliah dimana. Kemudian dihadirkannya teman-teman yang pelan-pelan membentuk saya seperti sekarang. Bahwa memang terkadang kita harus seringkali tersesat untuk menyadari sesuatu yang salah dan kemudian menjadi manusia yang lebih baik untuk memperbaikinya.

Mungkin saya tidak akan pernah lupa dan tidak akan pernah bisa menghapus raut kecewa bapak sepuluh tahun yang lalu. Ketika anaknya telah mengambil keputusan yang besar, yang bahkan ujungnya pun tidak ketahuan. Entah karena memang tidak mempunyai prinsip, ataukah karena memang semuanya sudah mempunyai jalannya masing-masing.

Tetapi saya tahu bapak selalu bangga dengan semua anaknya. Ketika saya sekarang berada di tengah riuhnya ibukota, mengikuti pelatihan intensif selama 6 bulan. Persiapan untuk berangkat kuliah di luar negeri tahun depan. Beliau selalu bangga dengan keberanian dan keputusan semua anaknya.

Continue Reading

Justin Timberlake ~ Mirrors

Tidak ada yang istmewa pada beat-beat yang ditawarkan oleh JT setelah 25 detik intro yang membuat penasaran. Tetapi keterbiasaan inilah yang membuat kita semakin menyadari bahwa memang musik JT yang lebih sederhana bisa menjadi teman untuk kapan saja. Menjadi semacam pengobat rasa rindu, bahwa ada sesuatu yang tidak berubah. Layaknya seorang teman yang telah lama jalan bersama.

Apa akibatnya? Untuk mereka yang mengharapkan sesuatu yang wah, terang saja akan kehilangan sentuhan “magic” yang dulu dijejalkan padanya berkat musik yang tidak biasa pada album terdahulu. Tapi satu hal yang paling terasa adalah Justin Timberlake mengalami kematangan emosi yang sangat mencolok. Dilihat dari lirik I don’t wanna lose you now/ I’m lookin’ right at the other half of me/ The vacancy that sat in my heart/ Is a space that now you hold. Ouch!

Mungkin hanya Master Oogway yang bisa mengatakan frasa Yesterday is history/ Tomorrow’s a mystery tanpa harus kelihatan seperti menggurui. Tapi masa depan Justin Timberlake rasanya sudah bisa ditebak. Sejak Cry Me A River, dia menekankan bukan hanya bisa bernyanyi dengan penuh penjiwaan, tapi lirik yang dalam bisa menjadi perenungan yang bisa diikuti oleh semua orang. Siapa yang tidak pernah berdrama dalam sebuah hubungan? Selain Justin Timberlake, ada Timothy Mosley, Jerome Harmon, James Fauntleroy yang bertanggung jawab untuk lirik keseluruhan.

Continue Reading