Menjajal Kuliner Kantor Pos Besar

Jalan Pattimura, Jalan Balaikota selalu disebut sebagai wilayah kota lama. Mengapa? Saya sendiri menduga karena posisi jalan ini dipenuhi oleh berbagai instansi pemerintahan yang dulunya menjadi pusat kota. Sebut saja kantor walikota dan berbagai dinas lainnya. Belum lagi wilayah pelabuhan, pecinan, taman kota, sampai pusat perbelanjaan emas dan oleh-oleh di jalan Sombaopu.

Satu bangunan yang kemudian menjadi ikonik adalah Kantor Pos Besar. Sebagai salah satu bangunan “penanda” lokasi di daerah ini, beberapa wisata kuliner lekat dengan embel-embel “kantor pos besar”. Apa saja yang bisa dinikmati?

Ada cumi-cumi juga yang bisa dibakar!

Terletak di depan Kantor Pos Besar, depan taman macan, berdiri warung makan yang bisa sangat menggoda iman kala jam makan siang tiba. Bersyukurlah mereka yang berkantor di area ini, karena pilihan makanan yang sangat beragam. Mulai dari warung ikan bakar sampai soto banjar yang sangat terkenal.

Continue Reading

The Hunger Games; survival for the fittest.

Ketika tertular virus The Hunger Games dari Ally setahun yang lalu, saya telah menjadi massa setia Suzanne Collins. Siapa yang tidak tergila-gila pada epos kepahlawanan Katniss tentang pemberontakannya terhadap Capitol? Itu adalah gambaran besar dari trilogy Hunger Games. Sedangkan di cerita pertama, kita baru akan berkenalan dengan kengerian dan teror yang diberikan dalam arena.

Katnis and Effie

Mendengar berita bahwa buku ini akan di filmkan, membuat saya menjadi takut dan sempat menyumpah. Ketakutan bahwa ceritanya akan melenceng, ataukah mereka tidak menemukan cast yang sesuai untuk Katniss, Peeta, Gale, bahkan Effie Tinket. Sebab, Suzanne Collins menceritakan detail sosok mereka dengan bagus. Bagaimana kalau sampai miss cast? Ternyata kegelisahan saya tidak beralasan. Ketika merilis gambar-gambar awal film ini, saya bisa tersenyum lega. Bahkan sosok Rue, bisa terwakilkan dengan sangat sesuai.

Nah, siapa itu Rue, Gale, Effie? Cerita Hunger Games berpusat di Capitol. Sebuah negara dengan konsep diktator yang di perintah oleh Presiden Coin. Dengan 12 distrik sebagai penghasil sumber daya, sistem yang berjalan sudah sedemikian mapan. Apakah semuanya berjalan lancar? Tidak. Pemberontakan pernah terjadi. Distrik 13 membelot dan dihancurkan dengan paksa.

Akibatnya adalah, setiap tahun kemudian diciptakan sebuah permainan ketangkasan dengan taruhan nyawa. Pesertanya tentu saja sepasang anak dari setiap distrik. Mereka akan bertarung sampai mati, dan memperbutkan juara 1. Siapa yang berhasil lolos, akan mendapatkan setiap kemudahan dengan berbagai fasilitas di distriknya.

Continue Reading

Life Traveler; ketika perjalanan bukan hanya tentang tujuan.

Saya hanya bisa menarik nafas lega ketika menutup lembar teakhir buku Windy Ariestanty yang berjudul Life Traveler. Dari sekian banyak kumpulan trik dan tips mengenai bepergian, apakah ada yang menyampaikannya dengan penuh rasa seperti buku ini?

Windy mengajak kita berpetualangan menyusuri Vietnam, Praha, sampai ke O’Hare. Menggambarkan bahwa telah banyak tempat yang dia jejaki di muka bumi. Apa persamaan dari semua daerah tujuan itu adalah dia mampu menceritakan detail suasana yang ada. Bagaimana suasana pagi di Seam Reap, menikmati keheningan dari pasangan yang hanya duduk diam di taman. Kita bisa masuk kedalam atmosfer yang terbangun didalamnya.

… because travelers never think that they are foreigners

Saya mengingat perkataan Nurhady Sirimorok sewaktu menjadi mentor saya di Penelitian untuk remaja,

“lepaskan semua atribut kekotaanmu. Lepaskan semua justifikasi. Membaur dan hiduplah dalam sudut pandang orang desa”

Tujuannya apa, karena terkadang kita merasa “berbeda” ketika masuk ke tempat yang baru. Merasa asing. Bahkan terkadang merasa sok keren. Belum lagi biasanya bahasa menjadi kendala utama. Bagaimana kalo kita kemudian tersesat? Padahal sejatinya, hal ini jangan dijadikan penghalang untuk bertualang.

Continue Reading

Minggu yang panjang.

Hidup selalu memberi kejutan. Kalau tidak mau dikatakan memiliki caranya sendiri untuk berjalan. Sampai sejauh mana kita bisa menebaknya? Setidaknya jangan pernah mencoba mengerti. Karena dadu nasib tidak pernah bisa memihak siapapun.

Minggu ini berjalan sangat melelahkan. Perjalanan mengenali kembali berbagai emosi dasar yang pernah ada. Beberapa orang selalu bertanya, ada apa sebenarnya dibalik keriuhan kepalaku? Mereka tidak tahu, tidak pernah tahu.

Image by http://piccsy.com/2012/04/main-io45cc9/

Apa yang sebenarnya terjadi? Saya selalu bisa memanipulasi pikiran dan perasaan. Saya selalu bisa menekannya. Semua emosi dasar yang menjejejali kepala. Selalu berharap bahwa semuanya baik-baik saja. Bagaimana kalau sebenarnya tidak semua hal berjalan sesuai keinginan?

Kelahiran, pernikahan, bertukar tempat dengan semua gambaran perasaan yang saya alami pekan ini. Sebuah perjalanan roller coaster emosi. Saya bahagia ketika seorang sahabat menikah, mengingat janji untuk selalu bersama. Saya tertekan ketika pekerjaan kantor berada di titik menegangkan. Murka tingkat gubernur? Saya sudah melalui itu. Membuat posisi saya di kantor menjadi sedemikian rapuh. Harus memulai semuanya dari awal lagi.

Ternyata perjalanan emosi itu belum ingin berhenti. Pekan ini saya merelakan 2 orang melakukan perjalanan jauh. Perjalanan terakhir mereka menghadap sang Khalik. Sang pemilik nyawa. Apa yang tersisa dari perasaan saya sekarang? Penuh.

Barangkali kematian adalah cara yang paling elegan untuk melepaskan semua perasaan itu. Perasaan jenuh, perasaan tertekan, perasaan bahagia. Tapi setelah itu apa? Kembali ke fitrah. Kembali ke tanah. Menyisakan beberapa orang yang berduka.

Tapi saya selalu menepikan pilihan itu. Sejauh apapun emosi membawa, saya selalu mempunyai penangkalnya. Bahwa saya harus hidup. Untuk menyelami dadu kehidupan. Barangkali tidak semua kepergian akan berjalan lancar. Laksana roller coaster emosi, semuanya akan bermuara kepada satu perjalanan akhir. Kematian. Bukan saat ini. Tidak sekarang.

Masih ada hari yang akan terlalui, masih ada jutaan emosi yang siap dinikmati. Menenggelamkannya lagi? Mungkin tidak, saya akan berdansa dengan semuanya.

Late – ely my energy’s just drained away
And now..my mind..is workin’ overtime
It’s been a loooong day (Amy Winehouse)

Continue Reading