Ingatan Karang.

Seorang anak akan tumbuh besar dan berdewasa diakibatkan oleh banyak hal. Lingkungan tentu saja membawa peranan juga, apakah anak tersebut akan menjadi dokter, insinyur, pemabuk atau pemadat.

Tidak ada justifikasi yang mengatakan bahwa apabila seseorang bibitnya baik, dia akan menjadi baik selamanya. Selalu ada faktor X, dan lingkungan adalah salah satu hal yang penting.

Saya sendiri lumayan resah melihat lingkungan rumah saya saat ini. Tidak jauh dari rumah ada sebuah kompleks sekolah. Mulai dari tataran TK sampai sekolah perawat. Semuanya tumpah ruah dalam kebisingan sebuah daerah urban yang padat penduduk.

Aktivitas mengantar anak sekolah, mereka nongkrong di jalan, berbaur dan bersatu dengan aktivitas para ibu yang sedang menunggu penjual sayur atau mencuci di depan rumah mereka.

Lantas, apa masalahnya? Mungkin ini bentuk keparnoan saya yang terlalu besar, bagaimana anak-anak itu beradaptasi dan bercampur dengan sesuatu yang belum sepantasnya mereka lihat atau dengar. Anak-anak memiliki ingatan karang.

Apa yang mereka lihat, tidak akan dilupakan. Baik itu visual maupun audio. Bagaimana bahasa anak kampung (sepertinya terlalu tinggi hati ketika menyebut urban untuk daerah rumah saya) kemudian hilir mudik di depan anak TK itu. Anak-anak yang mestinya hapal Cicak-cicak di Dinding, Balonku Ada Lima, bukan malah menghapal Salah Alamat milik Ayu Ting-Ting.

Beginilah nasib bersekolah di pertengahan kampung, ketika semua orang bisa bercampur baur. Dari interaksi sosial bisa saja para anak-anak ini akan menjadi pemenang dalam pergaulan, serta supel dalam membawa diri. Andaikan saja mereka nanti akan betumbuh dan berdewasa. Tapi melihat orang berpacaran di sadel motor, mendengar ucapan serapah serta tabiat anak SMA? Di mata anak umur 6 tahun? Itu adalah sesuatu yang berat!

Katakanlah jaman saya TK dulu, saya juga hanya bergaul dengan anak umur sebaya. Menghapal lagu-lagu ciptaan Papa T Bob, tapi setidaknya imajinasi saya pernah terisi dengan khayalan dunia dongeng. Pernah merasakan lingkungan yang menjaga tata bahasa, menjaga kelakuan (walaupun sekarang kelakuan saya juga agak bejat terkadang), semua hal itu menjadi pondasi yang lumayan kokoh.

Lah anak TK jaman sekarang? Saya tidak bercerita TK pada keseluruhan yah, ini hanya sampling sekolah yang berada di tengah penduduk plus bercampur pula dengan SD, SMP, sampai SMA.

Lantas bagaimana masa depan anak-anak itu? Setiap anak akan memiliki ceritanya sendiri. Toh belum tentu dengan visualisasi yang mereka dapatkan sekarang akan merusak atau membuat mereka menjadi lebih baik, masih terlalu dini menafsirkannya. Atau bisa jadi mereka malah lupa dengan apa yang pernah terjadi pada jaman TK. Kalau saya? Saya sih tidak lupa, termasuk kunjungan ke Taman Hiburan Rakyatnya :D, bagaimana masa TK kalian?

You may also like

3 Comments

  1. TK? saya menangis kejer di hari pertama sekolah. sekolah Katolik, baru pertama kali liat penampilan suster yg serba putih, dan ruang kelasnya dikunci dari dalam. panikkkkk!!

Leave a Reply